Rabu, April 23, 2008

Merangkul Dunia With Andrea Hirata

Sungguh suatu kebahagiaan tersendiri bagi saya bisa bertemu langsung dengan penulis buku best seller Laskar Pelangi, Andrea Hirata.

Andrea Hirata khusus datang ke Makassar atas undangan yayasan perguruan Islam Athirah yang didirikan oleh Bapak Wakil Presiden Jusuf Kalla. Acaranya ini sedianya diperuntukkan bagi guru dan orangtua murid Sekolah Athirah, namun rupanya karena animo masyarakat penikmat buku trilogi Andrea Hirata sangat tinggi, maka akhirnya dibukalah seminar pendidikan anak ini untuk umum.

Saya sendiripun mengetahui infomasi ini secara tidak sengaja saat membaca iklan di koran Fajar (harian lokal Makassar) dua minggu lalu. Secara pribadi, saya baru mulai mengenal sosok penulis yang murah senyum ini, sekitar dua bulan yang lalu. Saat itu saya baru tiba kembali ke tanah air setelah menyelesaikan pendidikan S2 selama 1,5 tahun diUniversity of Technology Sydney atas beasiswa pemerintah Australia. Sepulangnya itu saya diserahi tanggung jawab untuk mengajar mahasiswa S1 Keperawatan UNHAS (Universitas Hasanuddin) semester 6. Saat berinterkasi dikelas, saya sering mendengar mereka secara serempak menyebut-nyebut nama Andrea Hirata sebagai seorang penulis buku hebat dan the real inspirator. Saya sempat kebingungan dan bertanya ke mereka, siapa sih itu Andrea Hirata? Saya kok belum pernah dengar nama beliau sebelumnya? Padahal saya adalah salah satu penikmat buku-buku novel & psikologi best seller baik itu dalam mapun luar negeri semacam Ari Ginanjar Agustian, Aa Gym, Andrie Wongso, Habiburrahman Elshirazy, Dale Carniege, Barbara Cartland, Sydney Sheldon, Rhonda Byrne, Florence Litteaur, dll. Kok bisa-bisanya Andrea ndak masuk dalam perbendaharaan memori saya? Mereka menjawab bahwa Andrea ini penulis buku best seller Laskar Pelangi, yang menulis bagaimana suka-duka perjalanan hidupnya dalam memenuhi mimpinya untuk menginjakkan kaki di University de Paris, Sorbonne Perancis hanya dengan bermodalkan mimpi, tekad, ketulusan dan keteguhan hati. Karena penasaran, maka semenjak itulah saya mulai berburu dan mencari tahu siapa ini Andrea Hirata. Hal pertama yang saya lakukan adalah browsing di internet, lumayan banyak informasi yang saya dapatkan. Setelah itu saya mulai berburu masterpiece Andrea di Gramedia MARI (Mall Ratu Indah). Saat itu juga, kedua bukunya "Sang Pemimpi" dan "Edensor" langsung saya borong karena penasaran untuk membaca isinya (buku pertamanya Laskar Pelangi tidak jadi saya beli, karena selain mahal juga karena seorang teman berjanji untuk meminjamkannya pada saya). Tiba dirumah, buku itu langsung saya lalap sepeprti orang kelaparan belum makan berhari-hari. Mungkin seperti kata Andrea, bahwa untuk menulis bukunya itu, beliau sepeprti orang yang trance (kesurupan) hanya membutuhkan waktu tiga minggu saja untuk menyelesaikan novelnya, maka sayapun agaknya seperti itu. Semakin saya baca, maka semakin penasaranlah saya untuk tahu kelanjutan bab demi bab, buku demi buku. Tak terasa 2 hari bagi saya cukup untuk mengkhatamkan buku tersebut tanpa mengabaikan tugas utama saya sebagai seorang pengajar. Jujur dari buku itu saya belajar banyak hal, mengenai kejujuran, ketulusan, konsistensi, cita-cita, perjuangan dan pembentukan watak berdasarkan nilai-nilai moral yang Islami. Sangat jarang bisa menemukan karya sastra sebagus itu. Nah itulah hal-ihwal bagaimana saya bisa mengenal dan menyelami isi pikiran Andrea Hirata.

Kembali ke seminar di atas. Apresiasi masyarakat Makassar terhadap Andrea Hirata bisa dilihat dari banyaknya peserta yang datang khusus melihat penulis yang berulangtahun setiap tanggal 24 Oktober ini. Saat membeli tiket seminggu sebelumnya saya sempat bertanya kepada panitianya berapa estimasi peserta yang akan hadir pada acara tersebut, dijawab berkisar antara 500 hingga 750 orang. Wow, angkanya sangat fantastis menurut saya. Ini menandakan bahwa ternyata minat baca 'to mangkasara' (I mean penggemar makassar, yang at least tahu dan sudah membaca buku Andrea) jumlahnya cukup banyak, dan Andrea sebagai seorang penulis tergolong sangat sukses merebut hati keras orang-orang Makassar.

Acara seminar dimulai pukul 9.00. Molor setengah jam dari waktu yang telah ditentukan panitia. Panitia yang mengenakan pakaian seragam berwarna pink-putih, sudah menanti peserta dibagian pintu masuk. Begitu menunjukkan tiket seharga Rp. 60 ribu tersebut, kami langsung diberikan sebuah pin besar bertuliskan "Merangkul dunia bersama Andrea Hirata" yang harus langsung disematkan didada, ditambah stiker, sertifikat dan handout mengenai yayasan perguruan Athirah. Saya cukup beruntung, karena walaupun terlambat memasuki ruangan yang sudah terisi hampir sepenuhnya, tapi saya dan kolega saya, Ns. Rini Kadar bisa mendapatkan tempat dibaris ketiga dari depan (hehehe, itulah kehebatan berani bertanya dan berani malu). Sambil duduk, saya mengedarkan pandangan untuk mencari tahu kali-kali aja ada wajah yang failiar yang saya kenal juga hadir diacara itu, ternyata tidak. Didepan panitia hilir mudik membagikan kotak kue pada peserta sambil sesekali menenangkan peserta yang mayoritas (l.k 80%) adalah gadis remaja dan ibu-ibu paruh baya, yang rupanya sudah tidak sabar menantikan idola mereka. Sambil menunggu kedatangan Andrea, peserta dihibur oleh penampilan bocah-bocah cilik, siswi TK athirah yang membawakan sebuah tarian pak tani diiring lagu anak-anak "cangkul-cangkul, cangkul yang dalam" (hahaha, maaf saya lupa apa judulnya). Kemudian dilanjutkan dengan penampilan murid-murid SD Athirah yang memainkan alat musik pianika sekitar 5 menit, hanya saja kali ini telinga saya kurang peka untuk menangkap lagu apa yang sedang dibawakan. Mungkin karena saya sedang fokus mengabadikan gambar salah satu murid SD tersebut yang wajahnya sangat mirip dengan teman akrab saya, Ns. Citha.

Sekitar jam 9.30 WITA, rombongan Andrea Hirata tiba diruangan. Suasana dalam ruangan yang semula tenang seketika terdengar seperti rubungan lebah yang menemukan nektar diladang tandus. Peserta hampir semua berdiri, blitz kamera menyala disana sini menyilaukan. Bahkan beberapa peserta spontan maju ke bibir panggung untuk mengabadikan dari dekat wajah Andrea Hirata. Saya sendiri tidak ikut maju, berhubung zoom kamera Canon Powershot S5IS saya sudah bisa mengclose-up wajah Andrea dengan sangat jelas. Karena suasana semakin tidak terkontrol didepan, akhirnya security serta pihak managemen Andrea turun tangan untuk mengamankan potografer2 amatiran yang jumlahnya terus saja membludak. Setelah tenang sedikit, acara dimulai dengan pembacaan Kalam Ilahi yang diikuti Saritilawah dari pihak guru Athirah, mengalir sambutan oleh ketua yayasan Athirah, dan penampilan murid SMP athirah. Penampilan mereka cukup apik dan luwes. Murid SMP athirah ini menarikan sebuah tari kontemporer yang diiringi lagu Bunda. Entah karena kepiawaian murid-murid ini membawakan tari ataukah karena syair lagu Bunda yang menyentuh, saya perhatikan Andrea sempat terbawa emosi haru yang tampak dari roman mukanya. Saya sengaja men-zoom wajah Andrea karena rasa penasaran yang tiba-tiba muncul begitu saja. Jadi, pada saat orang lain mengabadikan tarian murid Athirah, maka saya fokus ke ekspresi wajah Andrea. Terlihat bahwa Andrea berusaha menahan perasan haru dan bibirnya tampak bergerak patah-patah mencoba mengikuti lagu Bunda meski tidak hapal syairnya, kecuali bagian refrain. Saya mengambil kesimpulan, benar seperti yang tertulis dalam bukunya, Andrea sangat patuh dan hormat pada atribut apapun yang mengikuti ibu, ibunda, emak, mama, bunda.

Akhirnya tiba pada acara inti, Andrea menyapa semua peserta dengan senyumnya yang khas, gaya tubuhnya yang dinamis yang mengirimkan sinyal-sinyal motivasi ke relung jiwa setiap pesertanya. Ada aura positive yang tertangkap dari gaya bahasanya. Juga petuah-petuah bijak mengalir dari budi bahasanya yang halus. Yang ditekankan saat itu adalah cerita tentang ketulusan. Ketulusan ibu Muslimah, ibu gurunya yang mau mengajar disebuah sekolah Muhammadiyah tanpa menerima bayaran (kadang-kadang cukup dibayar dengan beras oleh orangtua murid) disalah satu pulau terpencil di Sumatera. Ketulusan seorang guru yang hanya lulusan SKP (Sekolah Kepandaian Putri) yang ternyata saat itu baru berusia 15 tahun, tapi sudah mendedikasikan dirinya untuk masa depan pendidikan anak-anak miskin pulau Belitong. Dedikasi seperti ini mungkin sangat langka kita temui dijaman sekarang, apalagi dikota-kota besar. Mana ada coba guru yang mau mengajar hanya dengan iming-iming beras 15 Kg tiap bulannya atau tidak dibayar sama sekali?. Sangat langka bukan?! Ibu Muslimah malah sebaliknya, dirinya bak sumur air yang jernih, sumber kehidupan yang tidak ada habisnya ditengah ladang yang ditinggalkan. Begitulah arti seorang ibu Muslimah bagi Andrea pribadi. Andrea menuturkan keinginan menulis bukunya sendiri berawal dari dari suatu waktu beliau duduk dikelas 3 SD, saat itu hujan lebat. Dan dari dalam kelas Andrea melihat ibu guru kesayangannya datang menggunakan pelepah daun pisang sebagai pengganti payung. Dari situ tiba-tiba terbersit keinginan Andrea untuk menunjukkan baktinya pada sang ibunda guru, bahwa suatu hari nanti akan menulis buku bagi ibu Muslimah, agar bisa membuat beliau bangga. Cukup lama ide itu terendap, sampai suatu ketika dipenghujung tahun 2004 saat Tsunami menuluh lantakkan Nangroe Aceh Darussalam, Andrea menjadi salah satu volunteer atau relawan pasca tsunami. Setelah bekerja keras selama 3 minggu diAceh, dalam perjalanan pulang mengendarai bus, Andrea melewati salah satu daerah yang juga hancur akibat tsunami. Tanpa sengaja, matanya tertumbuk pada reruntuhan sebuah sekolah, dan didepan sekolah tersebut berdiri seorang ibu guru sambil memegang sebuah spanduk bertuliskan "Ayo kembali sekolah, Jangan sampai patah semangat". Tiba-tiba saja bayangan Ibunda gurunya berkelebat dalam kepalanya, dan janjinya untuk membuat buku menggeliat bangun dari alam bawah sadarnya.

Pulang dari situ, Andrea mengurung diri di selama tiga minggu dikamarnya seperti orang gila. Menulis buku katanya, ya menulis buku. Andrea tertawa, menangis, marah, senang, meringis, kecewa, semua menjadi satu dalam kumpulan naskah tulisan yang disimpannya dalam sebuah laptop milik bersama teman kost. Saat itu dirinya hanya berniat menunjukkan naskah yang dibuatnya kepada Ibu muslimah yang kondisi kesahatanya mulai menurun, hanya itu tidak ada niat untuk mempublikasikannya pada khalayak ramai. Namun, rupanya teman kostnya secara tidak sengaja membaca dan mengirimkannya pada sebuah penerbit dengan tetap mencantumkan nama Andrea sebagai penulisnya. Ternyata diluar dugaan, sambutan masyarakat pembaca akan buku ini sangat besar, ratusan ribu exemplar laris manis bak kacang goreng ditoko-toko buku terkemuka. Buku ini bahkan sekarang sudah terjual lebih dari setengah juta copy dan mengukuhkan gelar sebagai the best seller book in Indonesia. Tidak hanya laris diIndonesia dan negara tetangga Malaysia, bahkan kini buku ini rencananya akan diterjemahkan kedalam bahasa asing yang akan beredar dinegara-negara Eropa.

Selesai tanya jawab yang dibuka dalam dua babakan, dimana tiap babakan terdiri dari tiga penanya. Acara dilanjutkan dengan foto bareng dan tanda tangan Andrea dibuku2 karyanya. Karena budaya Indonesia yang dikenal sulit antri, maka acara foto bareng akhirnya dipercepat, digantikan dengan Signing book yang bertempat diruang sebelah tempat seminar diadakan sebelumnya. Sempat terjadi ketegangan, karena banyak peserta tidak mau antri dan seenaknya saja memotong pada barisan peserta yang sudah berbaris memanjang keluar dan menunggu Andrea sekitar 30 menitan. Andrea sempat diamankan oleh pihak manajemennya, karena terjadi chaos dimana ibu2 yang tidak sabaran bergerak agresif kedepan mencoba mendekati Andrea untuk sekedar minta tandatangan atau kalau beruntung, bisa berfoto disamping Andrea.

Saya menunggu giliran cukup lama walaupun saya berada dibarisan nomor duapuluhan dari kepala antrian. Mendekati giliran, saya lihat Andrea yang pagi itu mengenakan kemeja merah maroon dan topi baret hitam seperti topi pak Tino dalam acara lukis-melukis di TVRI jaman saya SD dulu; duduk disebuah meja dengan dikelilingi oleh bapak-bapak security yang mengenakan seragam batik cokelat muda dan safari hitam. Andrea tampak tenang, menuliskan namanya disetiap buku sambil menanyakan pada peserta yang berdiri didepannya nama siapa yang akan dituliskan sebelum dia menggoreskan tanda tangannya.

Ketika tiba giliran saya, saya sempat menyapanya "Hello Mr. Andrea, Ca va?!", dia hanya tersenyum sambil menunduk, lalu mungkin sadar kalau saya menyapanya dalam bahasa Perancis. Dia lalu mendongak tersenyum pada saya lalu menjawab "Tres bien, merci" (French: I'm very well, Thanks). "Siapa namanya?". Saya jawab singkat "Aya". Saya lihat Andrea lalu menuliskan dua baris kalimat pada buku "Sang Pemimpi" dengan tulisan --Dear Aya. Andrea Hirata.-- Lalu pada buku "Edensor" Andrea menambahkan satu baris kalimat lagi "Tres bien" (baca: Trai byern) yang bermakna seperti yang saya tulis diatas tadi, Hmm....bukannya ingin keGR-an, tapi saya yakin ini tidak terjadi pada hampir semua buku-buku lain yang ditanda tangani oleh Andrea pada hari itu. Buku Laskar Pelangi sendiri yang merupakan seri pertama, karena merupakan milik teman saya, maka saya minta Andrea menuliskan nama teman saya dibagian dalamnya, Chita. Setelah itu, saya beri ucapan terima kasih dalam bahasa perancis "Merci beacoup" (baca: mair-see boku) sambil menyalami tangan Andrea yang diikuti oleh anggukan kepalanya dan senyumnya yang simpatik. Wow, pertemuan yang hanya kurang dari satu menit, tapi sangat berkesan bagi saya. Dan kalau ingin dibuat cerita lengkapnya, mungkin dua halaman A4 masih belum cukup. Hahaha....inilah yang disebut syndrom gila nomor sekian sekian. Jika bertemu tokoh yang diidolakan, ada dua kemungkinan bisa terjadi. Pertama, tergugu terbata-bata diam dan membisu, yang kedua sebaliknya, banyak bicara ke-PD-an dan meracau menggunakan bahasa planet Mars. Yah, itulah saya. Bukan hanya sekali terjadi, berkali-kali bahkan, tetapi lebih seringnya sih yang nomer dua. Seperti saat bertemu Andi Malarangeng, Heidy Yunus dan Riri Riza diSydney dulu. Sedang option nomer satu terjadi saat saya bersalaman dengan SBY dan menteri-menteri kabinetnya saat diselenggarakannya APEC 2007 yang juga dipusatkan diSydney serta idola paling favorit saya, Nicholas Saputra. Yang saya bisa lakukan hanya diam tersenyum manis sambil merasakan denyut jantung yang tiba-tiba saja meloncat melebihi normal, untung gak collapes euy.

Anyway, acara hari itu tergolong cukup sukses meski pesertanya masih agak susah diatur. Yaah, tipikal sebagian orang Indonesia lah... yang masih belum juga insyaf akan pentingnya sikap displin dalam kehidupan sehari-hari. Panitia sudah berusaha maksimal mendatangkan Andrea Hirata dan mengarrange acara sedemikian rupa hingga layak untuk dihadiri.

Tidak rugi saya mengorbankan sebagian hari kerja untuk datang ke Seminar itu. Padahal saya tidak sempat ijin pada Pimpinan untuk tidak masuk setengah hari, mudah-mudahan beliau mahfum akan kegilaan saya^_^.

Pagi itu sebenarnya saya ditelepon untuk datang kekantor lebih awal karena bersama seorang rekan saya yang lain yang juga gape cas cis cus English, saya diminta untuk mengikuti presentasi perwakilan dari Universitas Kanada yang datang ke Fakultas Kedokteran untuk membuat MoU dalam rangka pengembangan kurikulum berbasis PBL (Problem Based Learning). Saya bukannya mau membandel dan tidak tunduk pada pimpinan, tapi saya merasa penunjukan itu sangat tiba-tiba tanpa ada konfirmasi sehari sebelumnya, bahkan saya tidak jelas apa yang nanti harus saya lakukan disana. Itu tidak akan pernah terjadi sodara-sodara diluar negeri, jangan harap meminta seseorang secara sembarangan tanpa appointment atau perjanjian terlebih dahulu, meskipun kita kenal baik dengan orang tersebut. Yeah....., i know ini di Indonesia bukan Australia, so...anda pasti bilang saya cukup kelewatan. Saya tidak akan menolak instruksi pimpinan saya seandainya tidak ada seminar ini, tapi berhubung saya sudah mempersiapkan diri jauh-jauh hari untuk bertemu Andrea, maka saya hanya bisa minta maaf pada pimpinan saya. Mudah-mudahan next time, gak ada lagi jadwal yang berbenturan kayak gini.

Senin, April 21, 2008

Antara R.A Kartini, Butet, Dewi Persik dan JuPe

Hari ini kita memperingati Hari jadi ibu kita Kartini yang merupakan pelopor pejuang wanita untuk keluar dari kegelapan (Oow, pasti dulu belum ada lampu ya?). Dengan caranya yang elegan, R.A Kartini berhasil membawa babakan baru bagi kaum wanita untuk duduk sejajar dengan pria diberbagai bidang dan kesempatan yang sama tanpa melupakan kodratnya sebagai seorang wanita.

Baik, itu mungkin sudah terjadi berpuluh-puluh tahun yang lalu. Mungkin ada sebagain dari anda yang berkata 'Cape deeeeeee.. dengernya." karena sudah tau cerita lengkap R.A Kartini dimata pelajaran sejarah sejak jaman SD dulu ampe SMA. Ok, mari kita lihat Kartini modern yang hidup dijaman kita sekarang.

Saat membaca profil Butet Manurung pertama kali disebuah majalah bulanan ibu kota, saya sempat ternganga heran dan salut abis akan sepak terjang wanita batak kelahiran Jakarta ini. Salut abis....!! Disaat gadis-gadis muda berduyun-duyun kekota untuk mencari peradaban (lha...emang peradabannya hilang kemana?) Butet malah memutuskan untuk tinggal selama 9 bulan dipedalaman Jambi nun jauh di Pulau Sumatra sana, hanya karena ingin mengajarkan mereka Orang Rimba (sebutan bagi suku anak dalam yang masih primitif kehidupannya) membaca, menulis dan berhitung dalam bahasa ibu mereka. Tujuan mbak Butet ini tidak lain, agar orang rimba tidak lagi dibodoh-bodohi saat menandatangani kontrak oleh pihak yang ingin mengambil tanah mereka dengan 1001 alasan dibalik illegal logging. Usahanya memang tidak sia-sia, walaupun sempat dihalang-halangi dan diintimadisi pada awalnya baik dari pemerintah setempat bahkan Orang Rimbanya sendiri, tapi karena dorongan nurani dan konsistensi yang berakar dalam dirinya, maka akhirnya kini anak-anak orang rimba tidak lagi buta huruf. Bahkan Butet telah menjadikan beberapa di antara mereka sebagai guru pengganti dirinya untuk meneruskan perjuangan mengeluarkan suku terasing ini dari jurang kebodohan dan kemiskinan.

Nah itu tadi contoh nyata Kartini masa kini yang menunjukkan eksistensi dirinya dengan melakukan suatu hal yang berguna bagi kemaslahatan orang banyak. Lalu apa kaitannya dengan R.A Kartini dan Butet Manurung dengan wanita-wanita kontroversial semacam Dewi Persik dan Julia Perez?

Dua tokoh yang saya sebutkan pertama adalah wanita2 yang sangat berdedikasi mengangkat harkat wanita, tidak hanya dimata publik secara nasional, bahkan dunia internasional. Sedangkan dua wanita terakhir malah kebalikannya, mereka malah kembali memuramkan harkat dan martabat wanita dengan cara murahan, mempertontonkan tubuh mengumbar aurat. Dengan dalih seni, kebebasan berekpresi dan hak asasi blah..blah..blah, mereka dengan gamblangnya mempertontonkan kemolekan tubuh plus pemikiran cetek mereka yang hanya memikirkan keuntungan popularitas semata, mencari sensasi untuk meningkatkan daya jual diri (dirinya emang dijual berapa neng….?).

Dewi Persik contohnya, goyang gergajinya yang kontroversial serta penampilannya yang terlalu sexy (yang sebagian besar hanya ditutupi pakaian minim bahan dan beberapa kali melorot saat beraksi di atas panggung), sontak membuat pergunjingan dimasyarakat dan akhirnya berbuah pencekalan manggung dibeberapa daerah. Saya kadang berpikir, apakah Dewi Persik tidak sadar dengan berbagai kecaman dan cekalan yang dialamatkan kepadanya, juga perkawinannya yang berbuah perceraian gara-gara cara pakaiannya ditambah towelan usil pada maaf, buah dadanya beberapa waktu lalu? Apakah wanita belia cantik ini tidak mengambil hikmah atas apa yang terjadi pada dirinya? Contoh apa yang ingin ditunjukkan kepada bangsa ini, kalau goyangan gergajinya belum apa-apa sudah mengundang nafsu syahwat lelaki yang menontonnya? Lalu apa bedanya dong Dewi Persik dengan 3 PSK yang tertangkap disebuah karaoke di Surabaya karena goyang mak erotnya (eh, salah, maksudnya goyang erotis mak)? Apa juga dia tau, goyangannya telah menginspirasi timbulnya penyanyi goyang ca'doleng-doleng (bugis: bergoyang-goyang menggelantung, yang dialamatkan pada buah dada penyanyinya) diBone, Sulawesi Selatan yang ditonton tidak hanya oleh orang dewasa tetapi juga oleh anak-anak yang masih bau kencur dan belum ngerti apa itu maksudnya erotisme? Hayo, siapa yang mau bertanggung jawab atas terkikisnya moral generasi penerus kita ini? Jawabnya ada dinurani Anda sendiri. Kalau saya sudah jelas, jika PSK dan penyanyi ca'doleng-doleng harus berurusan dengan Kepolisian karena praktek asusila, maka harusnya Dewi Persik juga dong?! Itu baru fair!

Kini kita beralih pada Julia Perez. Sebenarnya nama Julia Perez juga saya jarang-jarang amat dengar, wong saya paling ogah nonton infotaiment dan sinetron indo (emang Julia Perez aslinya apa sih? Penyanyi? Penari? Pemaen sinetron? Ataukah Model?). Saya tahunya saat mendengar cerita teman saya yang sudah menyaksikan acara hiburan yang ada penampilan sexy abisnya jupe. Berikutnya, baru tadi pagi saat melihat berita seputar kontroversi launching lagu yang disertai dengan bonus kondom dalam album perdananya. Diwawancarai secara terpisah, Julia Perez yang akrab disapa Jupe secara terbata-bata (kok kepiawaiannya mempertontonkan tubuh tidak sejalan dengan kemampuan lidahnya menjawab pertanyaan2 presenter TV dan pemirsa ya?) berdalih bahwa penyertaan kondom didalam bungkus CD & DVD-nya itu adalah salah satu bentuk kampanye mengurangi penyebaran HIV/AIDS dikalangan generasi muda. Ditempat lain, Menteri Pemberdayaan Perempuan ibu Meutia Hatta tidak membenarkan apa yang dilakukan Jupe beserta managemennya, selain itu menurut putri almarhum mantan presiden pertama Indonesia ini, Jupe juga terbukti tidak mengadakan koordinasi dengan badan atau lembaga manapun yang bergerak dibidang pemberantasan PMS ataupun HIV/AIDS, nah lho!!!!

Lagian nih, kalu mau ditelusuri lebih lanjut, apa hubungannya judul album Kamasutra dengan pemberantasan HIV ya?. Bukannya Kamasutra itu secara harfiahnya berarti seni bercinta kuno ala India? Jadi judul Kamasutra digabung dengan kondom, apa bukan berarti let’s have free sex sambil mendengarkan lagunya Julia Perez yang mendesah-desah kayak cacing kepanasan!!!

Haduh, Jupe...Jupe..., mo jadi artis terkenal kok caranya aneh-aneh aja!

Tiba-tiba jadi inget dulu bahan ejekan buat teman yang suka nyanyi tapi suaranya pas-pasan. Kalo gak salah kayak gini ”Hindari kaset dan Cdnya!!!!. Tapi khusus buat Jupe perlu ditambah, lengkapnya seperti ini ”Hindari kaset dan Cdnya, berbahaya buat telinga juga kantong apalagi alat kelamin”.

Kamis, April 17, 2008

New Baby Gear

Masih ingat dengan postingan lalu saya tentang "newborn racer"? Disitu saya berjanji akan mengupload gambar motor pilihan saya kan?! Naaaaah....ini deh dia

Proudly i present you, my cute baby in crime

My NEW VEGA R!!!!

Belum bisa dibawa jauh-jauh sih, soalnya STNK plus nomor plat nya juga belom jadi. SIM juga masih ngurus dikampus. Terpaksa deh jalan-jalan ama si baby cuman diseputar kompleks rumah

Langit Sore Itu

Pulang kerja seperti biasa jam 5pm, saat naik becak di depan kantor gubernur Jl. Urip Sumoharjo menuju rumah. Tanpa sadar, pandangan saya menangkap sesuatu yang cantik membentang di depan mata. Sontak saya mendongak ke atas, eeeh...langit sore kok jadi cantik ya. Dengan kamera HP Sony Ericsson K800i, moment indah ini jadi kenangan yang gak akan hilang selamanya dari memori saya. Setelah diedit dengan sentuhan photoshop CS2, jadilah gambar menarik seperti yang Anda lihat di atas ini.

Selasa, April 08, 2008

How Are You Today, Sakazakii-san?

Berikut adalah tulisan dari teman saya Anton Rahmadi; seorang pengajar berdedikasi tinggi diUniversitas Mulawarman , food scientist dan maestro IT; mengenai kontroversi seputar bakteri sakazakii yang sempat meresahkan banyak ibu-ibu yang memiliki balita. Dimuat diharian Kaltim Post.
Potensi Dampak E. sakazakii terhadap Konsumsi Susu Balita
Oleh: Anton Rahmadi, M.Sc.

Enterobacter sakazakii (dibaca: enterobakter sakazaki-ai) benar-benar telah menjadi bintang pemberitaan media disamping mandegnya pembahasan RUU Pemilu dan musibah-musibah yang silih berganti.

Pewartaan yang berturut-turut setiap hari hingga rekayasa tuntutan masyarakat agar mengumumkan nama-nama brand susu formula balita yang mengandung bakteri patogen, E. sakazakii, oleh media kepada tim peneliti IPB ini tentu akan menyeret dampak yang lebih besar.
Dampak pertama adalah matinya brand susu formula begitu diumumkan ke publik. Contoh ini telah banyak terjadi saat Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengumumkan bahwa sebuah produk tidak halal. Reaksi menghakimi yang dilakukan masyarakat tentunya akan menyebabkan brand susu yang disebutkan tersebut ditinggalkan untuk selamanya.

Padahal, hasil riset dari seluruh dunia mengatakan bahwa kontaminasi E. sakazakii dapat terjadi pada merek susu apapun yang kualitas produksinya mengalami kecacatan. Jadi bahasa mudahnya adalah: keberadaan E. sakazakii tidak terkait satu atau dua nama susu formula, tetapi lebih dikarenakan adanya kontaminasi sporadis dalam batch tertentu dalam taraf produksi. Setidaknya, inilah yang dapat disimpulkan dalam sebuah penelitian serupa setahun silam di UNSW, Sydney terhadap produk-produk susu formula di Australia.

Prevalensi kontaminasi E. sakazakii sehingga berkembang dan membahayakan konsumen menurut sebuah penelitian di Belanda adalah maksimum 6,5%. Dalam perhitungan ini, dibutuhkan waktu lima hari pasca produksi, sehingga susu yang tercemar satu sel hidup E sakazakii menjadi berbahaya untuk dikonsumsi oleh masyarakat.

Dampak kedua yang nyata terjadi adalah beralihnya masyarakat dari meminum susu. Dampak yang diperkirakan akan semakin meluas ini adalah akibat kurang berimbangnya pengetahuan yang diberikan kepada masyarakat bahwa E. sakazakii ini hanya berbahaya bagi balita dengan sistem imun lemah, lahir prematur, atau secara umumnya bayi dengan usia kelahiran 0-6 bulan. Bakteri inipun mudah mati apabila susu dipanaskan terlebih dahulu pada suhu 85-100°C selama 1-2 menit sebelum dicampur dengan air dingin dan diberikan kepada balita bersangkutan. Secara umum, yang diberitakan oleh media adalah beralihnya sebagian masyarakat kepada akternatif-alternatif selain susu formula.

Alternatif susu formula, misalnya susu segar tetap harus dimasak sampai mendidih terlebih dahulu untuk menginaktivasi bakteri yang kandungannya boleh jadi lebih tinggi dibandingkan pada susu formula. Sebagai gambaran, susu segar dari sapi yang terkena mastitis (radang kelenjar susu) akan memiliki kandungan bakteri yang cukup (1 juta sel/g produk) untuk menyebabkan penyakit bagi manusia. Susu segar, bagi balita tertentu pun bisa berakibat kurang baik karena sebagian bayi menderita sensitif terhadap laktosa (lactose intolerance). Di lain sisi, susu segar yang disiapkan dengan baik, tentunya sehat dan bergizi sebagaimana layaknya susu formula. Alternatif menggunakan susu segar masih terbilang baik dibandingkan alternatif berikutnya.

Alternatif air tajin merupakan pilihan yang tidak dianjurkan. Kandungan protein, vitamin, mineral maupun gula sederhana yang dibutuhkan untuk perkembangan otak sang bayi tidak dapat ditemukan pada air tajin, selengkap yang ditemukan pada susu.

Dampak ketiga yang akan menyusul adalah bayi yang pertumbuhannya terganggu karena asupan gizinya yang kurang ideal. Sudah diketahui bahwa tidak semua tingkat ekonomi masyarakat yang mampu memberikan susu kepada bayi-bayi mereka. Munculnya pemberitaan ini akan menyebabkan semakin banyaknya kelompok masyarakat yang tidak memberikan susu, mampu ataupun tidak mampu. Tentu saja, perkembangan ini akan berbahaya bagi kelangsungan generasi penerus bangsa.

Oleh karena itu, pemerintah sebaiknya menghentikan kontroversi untuk menerima-tidak menerima hasil penelitian, sekalipun sebenarnya data-data yang telah diungkapkan tersebut sangat kuat karena didukung oleh fakta penelitian-penelitian yang dilakukan di seluruh dunia. Pemerintah sebaiknya mengambil langkah edukatif terhadap warganya dengan menyiarkan cara menyiapkan susu yang sehat dan aman dari kontaminasi bakteri E. sakazakii. Pada saat yang sama, pemerintah mendesak industri untuk memperbaiki standar produksi susu formula termasuk dengan cara memasukkan E. sakazakii dalam proses Hazard Analisis Critical Control Point (HACCP) di tingkat produksi.

Bagi tim peneliti IPB tentunya ada saran khusus, yaitu membuat satu spot khusus di media elektronik ataupun cetak yang menjelaskan secara detil tentang hasil penelitian yang telah dilakukan, bahaya yang mungkin ditimbulkan, audiens yang potensial terdampak bahaya tersebut, serta cara pencegahannya. Apa yang sudah diberitakan dengan kurang tepat harus diluruskan. Inilah peranan saintis untuk menciptakan situasi yang lebih baik di negeri ini.

Kesimpulan:
1. Kontaminasi E. sakazakii menurut penelitian di seluruh dunia terjadi secara sporadis dan tidak terkait brand tertentu.
2. E. sakazakii berbahaya bagi bayi berusia 0-6 bulan, atau lahir prematur atau bayi dengan sistem imun yang rendah.
3. Mempersiapkan susu dengan cara merendam susu di dalam air panas (85-100°C) selama 1-2 menit sebelum dicampur dengan air dingin dan diberikan pada bayi sudah cukup untuk menonaktifkan bakteri tersebut.
4. Menghentikan asupan susu dan mencari alternatif lain, terutama air tajin, adalah solusi yang tidak dianjurkan, karena kandungan gizinya tidak selengkap susu segar ataupun susu formula.***

*) Peneliti Mikrobiologi, Universitas Mulawarman, Samarinda. Alumni University of New South Wales, Sydney, Australia.

Dampak Film Fitna

Dampak dari merajalelanya peredaran film Fitna oleh Geert Wildert dimedia internet adalah pemblokiran beberapa situs yang menyediakan fitur untuk mengupload video dimaksud. Berita yang dikabarkan via chatt oleh kawan saya Irfan cukup membuat saya kaget, panik bin takjub karena saya memiliki account ditiga dari beberapa website yang diblokir berdasarkan Kepmenkominfo bernomor 84/M.KOMINFO/04/08 itu. Menkominfo Muhammad Nuh menginstruksikan 146 ISP (Internet service provider) dan 30 NAP (network access provider) untuk memblokir situs-situs yang memuat film Fitna. Tindakan drastis ini diambil karena Google tidak mengindahkan permintaan pemerintah untuk menghapus video Fitna dari situsnya. Saya sendiri baru sibuk netsurfing berita ini setelah dikirimkan link ttg pemberitahuan yang dikeluarkan oleh admin Telkomspeedy yang dapat dibaca disini. Menurut saya pribadi, sikap pemerintah ini terlalu terburu-buru dalam menyikapi permasalahan seputar film Fitna, tanpa ada sosialisasi atau survey pada para blogger, tiba-tiba saja seenaknya meminta pada ISP untuk memblokir situs-situs aktif seperti Youtube, Multiply dan social network Myspace (hiks...all of my active accounts is here!!!). Meminjam istilah pak Josua M Sinambela, insiden pemblokiran situs2 krusial untuk mengcounter peredaran film Fitna ini sama seperti membunuh seekor nyamuk dengan sebuah bom atom!!! Bukan hanya nyamuknya aja yang tewas, semua makhluk yang hidup disekelilingnya juga ikut tewas, seperti saya sekarang ini yang sudah panik blingsatan gak karu-karuan karena gak bisa ngeblog juga mendownload bahan kuliah via Youtube!! Terpaksa deh, tuk sementara pindah ngeblog dulu ke blogspot dan Wordpress. Ya sudahlah, buat mahasiswaku, sabar-sabar aja ya, nti kita nonton video keperawatan komunitas setelah akses youtube dibuka kembali, ok!

Newborn Racer

(Pic is taken from http://www.genuinemini.co.uk/)

Ada hobi baru saya dalam satu minggu terakhir. Saya jadi senang melirik pengendara sepeda motor. Hehehe, tapi jangan langsung dikonotasikan negatif dulu prens. Saya memang lagi senang-senangnya memperhatikan jenis-jenis motor bebek, tapi bukan pengendaranya lho. Sebabnya kenapa? Saya sedang berencana membeli sebuah sepeda motor untuk memperlancar aktifitas sehari-hari saya.

Semenjak tiba kembali ke tanah air, saya agak cukup kerepotan kesana-kemari beraktifitas sambil membawa lappy (Oz: laptop/notebook) yang saya taruh dalam backpack pink saya (tas punggung). Yah..lumayan bagus sih bikin bodi jadi lebih tegap, tapi yang repotnya tuh saat naik pete2, backpack saya butuh space yang agak besar karena terisi lappy, lunch box, buku2 bacaan, beberapa gadgets dan make up minimalis.Sejak awal sudah ada niatan untuk beli sih, mumpung masih punya tabungan hasil kerja diOz, namun karena terkendala dengan waktu dan saat itu gak ada yang bisa saya mintai pendapat soal motor, makanya tertunda sampai sekitar 3 bulan lebih.

Walaupun pernah jadi pengendara motor selama 3 tahun sejak umur 14 tahun (baca: Pembalap tanpa SIM), namun untuk urusan onderdil dan tetek bengek motor, selalu saya serahkan pada Bapak saya. Mulai dari ngisi bensin, bawa ke bengkel, bersihin motor, dll pokoknya semuanya saya serahkan penuh pada Bapak. Yang saya tahu, hanya mengendarai motor dan dealing with Polisi saat kedapatan beberapa kali balapan dengan kakak-kakak kelas yang notabene cowok semua tanpa membawa SIM C;p

Ok kembali ke niat beli motor. Saya sudah meminta pendapat dan masukan beberapa pengendara motor yang saya kenal, mulai dari bapak saya sendiri, teman kost, teman kantor hingga teman chatting untuk presurvey motor. Banyak masukan mulai dari merk motor yang lebih irit di bensin, cc yang lebih gede, rem yang lebih pakem, ampe bodi motor yang lebih ramping buat cewek. Ada dua merek yang saya pertimbangkan, Hon** dan Yama**. Untuk jenisnya sendiri dari pihak Hon** ada Supra X **5, lalu dari pihak tetangga ada dua, Jupiter * dan Vega *. Timbang punya timbang dan berdasarkan suara terbanyak, akhirnya terpilihlah……..(musik latar)……

Mau tahu yang terpilih sodara-sodara?????
Penasaran...penasaran?!

Hehehe, Jawabannya nanti aja yaaa….
Saya akan tampilin gambarnya, setelah saya ketemu dengan dealernya siang ini;)