Jumat, Oktober 31, 2008

The Perfect Match Maker

(Picture is taken from here)

Mungkin karena sudah capek melihat saya asyik dengan status "jomblo", teman-teman kantor sibuk mencarikan jodoh buat saya. Dah terlalu sering saya dengar mereka merekomendasikan teman-temannya yang bernama pria, cowok atau man ke saya. Biasanya untuk menolak secara halus, jawaban saya cuman tersenyum sambil said "kenalin ke teman yg lain aja deh". Bukannya kenapa-kenapa, buat saya urusan hati maupun jodoh gak bisa dipaksakan. Saya emang gak pingin pacaran sebelum nikah, tapi bukan berarti saya juga mau aja tiba-tiba disuruh nikah sama orang yang saya gak kenal sama sekali sebelumnya. Seperti yang baru-baru saja terjadi sekitar beberapa minggu lalu.

Saat itu teman akrab saya dikantor, sebut saja inisialnya D. D ingin saya bertemu dengan teman lama suaminya dengan inisial R. Saya memang belum pernah bertemu dengan R sebelumnya. Oleh suami D, nomor Hp saya diberikan ke si R tadi. Beberapa hari kemudian saya ditelepon oleh R, yaaa....istilahnya sih perkenalan pendahuluan. Ngobrol ngalur ngidul sampai kemana-mana. Ok lah saya masih terima, coz kalo gak ntar dikira gak sopan lagi. Nah, dari hasil ngobrol ini, saya tau kalo ternyata R ini juga turut mendaftar penerimaan CPNS 2008. Kebetulan saya juga memang ikut daftar tahun ini. Itu berarti kami akan ketemu pada saat ujian CPNS minggu depannya.

Beberapa hari sebelum test, R jadi rajin mengirim SMS. Saya karena emang dari sononya agak sedikit cuek kalo urusan SMS-an, jadinya hanya menjawab sekenanya saja. Oia, disitu R mengutarakan niatnya untuk bertemu sesaat setelah ujian CPNS selesai.

Saat hari test tiba, saya beritahukan pada teman saya D (kebetulan D ikut test CPNS juga) ttg niatan R bertemu saya selepas test. D pun berjanji akan menemani saya saat bertemu dengan R. Selepas test, akhirnya saya bertemu dengan R. Jujur, secara fisik gak ada yang kurang dari R. Orangnya putih, tegap, sopan dan wlaupun gak tinggi-tinggi amat, Rata-rata lah, sudah punya kerjaan tetap, pendidikannya juga sudah selesai S2 dan sebentar lagi akan langsung melanjutkan pendidikan S3nya. Kami bertiga sempat ngobrol lama sambil makan-makan dikantin fakultas. Namun, jujur saya katakan gak ada "chemistry" sama sekali yang bisa saya tangkap dari pertemuan pertama itu. Dan dari pertemuan pertama ini, ada beberapa hal yang fundamental yang membuat saya jujur "ill feel" dengan R ini. Ini membuat saya menjadi tidak nyaman dan ingin kabur dari pertemuan itu sesegera mungkin.

Saya tahu gak boleh menjudge orang hanya dari pertemuan pertama saja, tapi saya rasa feeling & intuisi pribadi juga gak boleh diabaikan. Saya orang yang percaya dengan intuisi. Dan sepanjang pengetahuan saya, intuisi saya jarang salah dalam memutuskan sesuatu. Inilah yang saya rasakan, saya nggak nyaman dengan perjodohan semacam ini. Saya ingin semuanya mengalir apa adanya, gak perlu diatur-atur. Hanya ingin membuat saya berontak. Jujur, dari beberapa orang yang pernah dekat dengan saya, rata-rata mereka berangkat dari status teman biasa, gak ada yang tiba-tiba love at the first sight. Jadi mereka-mereka ini udah ketahuan sifat aslinya kayak gimana, gak ada yg dibuat-buat, wong kalo sama teman kita cenderung apa adanya bukan?! Ya udahlah, buat teman-temanku, saya ngerti niat kalian baik dan tulus ingin mencarikan saya jodoh. saya sangat berterima untuk semuanya itu. Tapi sepertinya saya masih merasa nyaman sendiri saat ini, so gak perlu repot-repot dicariin lagi ya. Udah ada kok Yang Diatas, yang jauh berlipat-lipat kali expert sebagai "The Perfect Match Maker".

Senin, Oktober 06, 2008

Maaf Lahir Bathin yaaaaa^_^

Mumpung masih dalam suasana lebaran nih,

Taqobbalallahu Minna WaMinkum, Syiamana wa syiamakum. Selamat Hari Raya Idul Fitri Mohon Maaf Lahir dan Bathin, Semoga segala amalan kita diBulan Ramadhan kemarin diterima disisi-Nya. Amien

Buat teman-teman diMP, Blogspot, FS, FB, mohon Aya dimaafin yaaaa....kalo sempat ada perbuatan maupun tulisan yang melukai hati baik disengaja maupun tidak^_^

Gusti Allah Tidak "nDeso"
Oleh: Emha Ainun Nadjib

Suatu kali Emha Ainun Nadjib ditodong pertanyaan beruntun. "Cak Nun,"
kata sang penanya, "misalnya pada waktu bersamaan tiba-tiba sampeyan
menghadapi tiga pilihan, yang harus dipilih salah satu: pergi ke masjid
untuk shalat Jumat, mengantar pacar berenang, atau mengantar tukang becak
miskin ke rumah sakit akibat tabrak lari, mana yang sampeyan pilih?"

Cak Nun menjawab lantang, "Ya nolong orang kecelakaan."

"Tapi sampeyan kan dosa karena tidak sembahyang?" kejar si penanya.

"Ah, mosok Allah ndeso gitu," jawab Cak Nun.

"Kalau saya memilih shalat Jumat, itu namanya mau masuk surga tidak
ngajak-ngajak, " katanya lagi. "Dan lagi belum tentu Tuhan memasukkan
ke surga orang yang memperlakukan sembahyang sebagai credit point
pribadi.

Bagi kita yang menjumpai orang yang saat itu juga harus ditolong,
Tuhan tidak berada di mesjid, melainkan pada diri orang yang
kecelakaan itu.

Tuhan mengidentifikasikan dirinya pada sejumlah orang. Kata Tuhan:
kalau engkau menolong orang sakit, Akulah yang sakit itu. Kalau engkau
menegur orang yang kesepian, Akulah yang kesepian itu. Kalau engkau
memberi makan orang kelaparan, Akulah yang kelaparan itu.

Seraya bertanya balik, Emha berujar, "Kira-kira Tuhan suka yang mana
dari tiga orang ini.

Pertama, orang yang shalat lima waktu, membaca al-quran,
membangun masjid, tapi korupsi uang negara.

Kedua, orang yang tiap hari berdakwah, shalat, hapal al-quran,
menganjurkan hidup sederhana, tapi dia sendiri kaya-raya, pelit,
dan mengobarkan semangat permusuhan.

Ketiga, orang yang tidak shalat, tidak membaca al-quran, tapi suka
beramal, tidak korupsi, dan penuh kasih sayang?"

Kalau saya, ucap Cak Nun, memilih orang yang ketiga.
Kalau korupsi uang negara, itu namanya membangun neraka,
bukan membangun masjid.

Kalau korupsi uang rakyat, itu namanya bukan membaca al-quran,
tapi menginjak-injaknya.

Kalau korupsi uang rakyat, itu namanya tidak sembahyang, tapi
menginjak Tuhan. Sedang orang yang suka beramal, tidak korupsi,
dan penuh kasih sayang, itulah orang yang sesungguhnya sembahyang
dan membaca Al-Quran.

Kriteria kesalehan seseorang tidak hanya diukur lewat shalatnya.
Standar kesalehan seseorang tidak melulu dilihat dari banyaknya dia
hadir di kebaktian atau misa. Tolok ukur kesalehan hakikatnya adalah
output sosialnya : kasih sayang sosial, sikap demokratis, cinta kasih,
kemesraan dengan orang lain, memberi, membantu sesama.

Idealnya, orang beragama itu seharusnya memang mesti shalat,
ikut misa, atau ikut kebaktian, tetapi juga tidak korupsi dan memiliki
perilaku yang santun dan berkasih sayang.

Agama adalah akhlak. Agama adalah perilaku. Agama adalah sikap.
Semua agama tentu mengajarkan kesantunan, belas kasih, dan cinta
kasih sesama. Bila kita cuma puasa, shalat, baca al-quran, pergi ke
kebaktian, ikut misa, datang ke pura, menurut saya, kita belum layak
disebut orang yang beragama. Tetapi, bila saat bersamaan kita tidak
mencuri uang negara, meyantuni fakir miskin, memberi makan anak-
anak terlantar, hidup bersih, maka itulah orang beragama.

Ukuran keberagamaan seseorang sesungguhnya bukan dari
kesalehan personalnya, melainkan diukur dari kesalehan sosialnya.
Bukan kesalehan pribadi, tapi kesalehan sosial. Orang beragama
adalah orang yang bisa menggembirakan tetangganya. Orang
beragama ialah orang yang menghormati orang lain, meski
beda agama. Orang yang punya solidaritas dan keprihatinan sosial
pada kaum mustadh'afin (kaum tertindas). Juga tidak korupsi dan
tidak mengambil yang bukan haknya.

Karena itu, orang beragama mestinya memunculkan sikap dan jiwa
sosial tinggi. Bukan orang-orang yang meratakan dahinya ke lantai
masjid, sementara beberapa meter darinya, orang-orang miskin
meronta kelaparan.

Ekstrinsik VS Intrinsik

Dalam sebuah hadis diceritakan, suatu ketika Nabi Muhammad SAW
mendengar berita perihal seorang yang shalat di malam hari dan puasa
di siang hari, tetapi menyakiti tetangganya dengan lisannya. Nabi
Muhammad SAW menjawab singkat, "Ia di neraka." Hadis ini
memperlihatkan kepada kita bahwa ibadah ritual saja belum cukup.

Ibadah ritual mesti dibarengi ibadah sosial. Pelaksanaan ibadah ritual
yang tulus harus melahirkan kepedulian pada lingkungan sosial.
Hadis di atas juga ingin mengatakan, agama jangan dipakai sebagai
tameng memperoleh kedudukan dan citra baik di hadapan orang lain.

Hal ini sejalan dengan definisi keberagamaan dari Gordon W Allport.
Allport, psikolog, membagi dua macam cara beragama: ekstrinsik dan
intrinsik.

Yang ekstrinsik memandang agama sebagai sesuatu yang dapat
dimanfaatkan. Agama dimanfaatkan demikian rupa agar dia memperoleh
status darinya. Ia puasa, ikut misa, kebaktian, atau membaca kitab suci,
bukan untuk meraih keberkahan Tuhan, melainkan supaya orang lain
menghargai dirinya. Dia beragama demi status dan harga diri.
Ajaran agama tidak menghujam ke dalam dirinya.

Yang kedua, yang intrinsik, adalah cara beragama yang memasukkan nilai-
nilai agama ke dalam dirinya. Nilai dan ajaran agama terhujam jauh ke
dalam jiwa penganutnya. Adanya internalisasi nilai spiritual keagamaan.
Ibadah ritual bukan hanya praktik tanpa makna. Semua ibadah itu memiliki
pengaruh dalam sikapnya sehari-hari. Baginya, agama adalah penghayatan
batin kepada Tuhan. Cara beragama yang intrinsiklah yang mampu
menciptakan lingkungan yang bersih dan penuh kasih sayang.

Keberagamaan ekstrinsik, cara beragama yang tidak tulus, melahirkan
egoisme. Egoisme bertanggungjawab atas kegagalan manusia mencari
kebahagiaan, kata Leo Tolstoy. Kebahagiaan tidak terletak pada
kesenangan diri sendiri. Kebahagiaan terletak pada kebersamaan.

Sebaliknya, cara beragama yang intrinsik menciptakan kebersamaan.
Karena itu, menciptakan kebahagiaan dalam diri penganutnya dan
lingkungan sosialnya. Ada penghayatan terhadap pelaksanaan
ritual-ritual agama.

Cara beragama yang ekstrinsik menjadikan agama sebagai alat politis
dan ekonomis. Sebuah sikap beragama yang memunculkan sikap
hipokrit; kemunafikan.

Syaikh Al Ghazali dan Sayid Quthb pernah berkata, kita ribut tentang
bid'ah dalam shalat dan haji, tetapi dengan tenang melakukan bid'ah
dalam urusan ekonomi dan politik. Kita puasa tetapi dengan tenang
melakukan korupsi. Juga kekerasan, pencurian, dan penindasan.

Indonesia, sebuah negeri yang katanya agamis, merupakan negara
penuh pertikaian. Majalah Newsweek edisi 9 Juli 2001 mencatat,
Indonesia dengan 17.000 pulau ini menyimpan 1.000 titik api yang
sewaktu-waktu siap menyala. Bila tidak dikelola, dengan mudah beralih
menjadi bentuk kekerasan yang memakan korban. Peringatan Newsweek
lima tahun lalu itu, rupanya mulai memperlihatkan kebenaran. Poso,
Maluku, Papua Barat, Aceh menjadi contohnya. Ironis.

Jalaluddin Rakhmat, dalam Islam Alternatif , menulis betapa banyak
umat Islam disibukkan dengan urusan ibadah mahdhah (ritual), tetapi
mengabaikan kemiskinan, kebodohan, penyakit, kelaparan,
kesengsaraan, dan kesulitan hidup yang diderita saudara-saudara mereka.
Betapa banyak orang kaya Islam yang dengan khusuk meratakan dahinya
di atas sajadah, sementara di sekitarnya tubuh-tubuh layu digerogoti
penyakit dan kekurangan gizi.

Kita kerap melihat jutaan uang dihabiskan untuk upacara-upacara
keagamaan, di saat ribuan anak di sudut-sudut negeri ini tidak dapat
melanjutkan sekolah. Jutaan uang dihamburkan untuk membangun
rumah ibadah yang megah, di saat ribuan orang tua masih harus
menanggung beban mencari sesuap nasi. Jutaan rupiah uang dipakai
untuk naik haji berulang kali, di saat ribuan orang sakit menggelepar
menunggu maut karena tidak dapat membayar biaya rumah sakit.
Secara ekstrinsik mereka beragama, tetapi secara intrinsik tidak
beragama.

Sumber: Jalal Center