Sabtu, November 13, 2010

If Life Is So Short....

Sebuah cerita yang sangat inspirasional oleh Agung Basuki mengenai betapa pentingnya kita menghargai apapun yang kita miliki dalam hidup ini,dan menjalaninya dengan penuh kesyukuran bersama orang-orang yang kita cintai.

“If Life Is So Short….”

Wrote By: Agung Basuki TravelHemat.com
 
Saya pertama kali bertemu dengan Charles dan Linda Graham saat pasangan asal Amerika itu ikut serta dalam rombongan tur ke Eropa Barat yang saya pimpin, kira-kira 14 tahun yang lalu. Ketika itu mereka mengadakan perjalanan dalam rangka memperingati ulangtahun emas perkawinan mereka. Saya banyak berkomunikasi dengan mereka sebab mereka duduk di baris pertama pada bus yang kami kendarai sepanjang perjalanan, tepat di belakang bangku tempat duduk saya.
Selama 14 hari perjalanan mengunjungi 9 kota di 5 negara, pasangan yang sudah berusia lebih dari 70 tahun itu kerap menjadi perhatian saya. Bukan karena saya mengkhawatirkan kondisi fisik mereka yang mungkin kelelahan akibat perjalanan panjang, karena untuk ukuran kebanyakan orang seusianya, mereka tergolong cukup sehat dan lincah. Yang saya perhatikan justru bagaimana mereka tampak begitu menikmati setiap momen dalam perjalanan tersebut.
‘Pengamatan’ yang saya lakukan secara sembunyi-sembunyi terhadap mereka –entah dengan mencuri pandang melalui kaca spion bus yang kebetulan mengarah langsung pada mereka, atau memperhatikan bagaimana mereka berunding untuk menentukan mau pergi ke mana ketika acara bebas—membuat saya melihat ada sesuatu yang ‘berbeda’ diantara keduanya dibandingkan para peserta lain. Keduanya tampak sangat ceria, yang terpancar jelas dari raut wajah mereka yang sudah dipenuhi keriput.
Rasa penasaran saya atas pasangan Charles dan Linda belum sempat terjawab ketika perjalanan yang kami lakukan sudah harus berakhir. Seluruh rombongan berpisah untuk kembali ke tempat tinggal masing-masing, sementara saya melanjutkan hidup saya seperti biasa.

Setahun berikutnya, ketika ditugaskan untuk memimpin sebuah rombongan tur ke Eropa Timur, secara tak sengaja saya bertemu lagi dengan Charles dan Linda yang ternyata juga ikut serta dalam rombongan tur yang saya pimpin saat itu. Kali ini mereka melakukan perjalanan untuk merayakan ulangtahun perkawinan yang ke-51.
Lantaran sudah saling kenal sebelumnya, kami menjadi cepat akrab. Sebenarnya, saat itu saya hanyalah seorang tur leader pengganti lantaran tur leader yang seharusnya memimpin perjalanan tersebut mendadak jatuh sakit. Di awal perjalanan, saya berterus terang kepada para peserta tur bahwa saya kurang familiar dengan rute perjalanan kali ini.
Di luar dugaan, Charles secara diam-diam berbicara banyak tentang saya kepada para peserta tur lainnya berdasarkan pengalaman yang dialaminya saat ikut serta dalam rombongan tur yang saya pimpin setahun sebelumnya. Tentang bagaimana saya sudah menjadi tur leader yang menurut dia sangat baik dan caring serta berbagai hal-hal positif lainnya.
Berkat dia pulalah, sebagian besar peserta tur jadi memiliki penilaian positif terhadap saya. Konsekuensinya, saya jadi lebih tertantang untuk berbuat semaksimal mungkin, memberikan kualitas layanan yang terbaik dan memuaskan.

Pengalaman memimpin grup tur ke Eropa Timur saat itu adalah awal perjalanan karir saya sebagai seorang tur leader, namun justru di saat saya merasa banyak kemungkinan untuk melakukan kesalahan karena minimnya ‘jam terbang’ dan penguasaan medan, hampir seluruh peserta tur malah memberikan dukungan positif atas apa yang saya lakukan saat itu sehingga saya merasakan situasi yang nyaman sepanjang perjalanan tersebut. Dan semua itu disebabkan karena berbagai pernyataan positif yang disampaikan oleh Charles.
“Hidup ini terlalu singkat untuk dijalani, kalau bisa membuatnya lebih indah, kenapa harus dijalani dengan airmata. Kalau bisa memotivasi orang lain dengan pujian, mengapa kita harus menyampaikannya dengan celaan?” demikian kata Linda saat saya menyampaikan terimakasih atas ‘promosi’ yang dilakukan suaminya untuk saya.
Prinsip life is too short yang dianut oleh Charles dan Linda itu membuat saya merenung tentang makna hidup yang sudah saya jalani saat ini. Usia pernikahan yang mereka jalani hingga sanggup mencapai angka di atas 50 tahun adalah suatu hal yang langka, dan menurut saya perjalanan hidup mengarungi kehidupan selama 70 tahun lebih bukanlah waktu yang singkat pula.

“Kita tidak pernah tahu kapan hidup ini bakal berakhir, kapan saat terakhir kita bakal bertemu dengan orang yang kita kasihi. Bisa saja besok saya atau kamu dipanggil Tuhan, dan alangkah menyesalnya kita ketika menyadari betapa banyak hal yang sebenarnya ingin kita capai, ternyata tidak pernah terwujudkan.
Jika setiap saat kita berpikir bahwa hidup ini terlalu singkat untuk dijalani, maka kita akan termotivasi untuk memberikan makna terbaik pada hari-hari yang kita jalani saat ini,” demikian ungkap Charles panjang lebar. “Dan jika pada kenyataannya kita diberi anugerah untuk menjalani hidup ini lebih lama, bukankah hari-hari yang sudah kita lalui bakal menjadi rangkaian kenangan nan indah?

Selama kehidupan pernikahan kami, rasanya kami tidak sempat meributkan hal-hal kecil karena waktu kami telah tersita dengan pemikiran bagaimana mengisi hari-hari ‘pendek’ kami dengan sebaik mungkin.”
Perkataan Charles dan Linda itu terus melekat di benak saya hingga kini. Prinsip hidup yang mereka anut telah berhasil mempengaruhi jalan pemikiran saya, sehingga sejak saat itu saya menjalani kehidupan dengan lebih bersemangat.
Ketika menikah beberapa tahun yang lalu, saya bersama istri juga telah bersepakat untuk menjalani kehidupan ini dengan prinsip ‘life is so short’. Setiap saat kami selalu berpikir bagaimana caranya agar mengisi hari-hari kami dengan sebaik mungkin. Peringatan hari ulang tahun saya dan istri, maupun ulangtahun pernikahan, kami menjadi ajang untuk introspeksi tentang hari-hari yang telah kami lewati bersama, sekaligus merencanakan apa yang akan kami lakukan untuk kurun waktu setahun ke depan.
Kami menjadi lebih ekspresif dalam mengungkapkan isi hati dan perasaan masing-masing dan tidak ragu-ragu untuk saling mempersembahkan yang terbaik dan berupaya untuk saling membahagiakan satu sama lain. Setiap kali ada konflik yang terjadi, kami berupaya untuk menyelesaikannya dengan sesegera mungkin.
Banyak orang yang mengatakan bahwa kehidupan rumah tangga yang kami jalani barulah ‘seumur jagung’, sehingga saat ini kami baru menikmati yang manis-manis saja. Memang benar, selama hampir dua tahun kehidupan pernikahan kami, hampir bisa dipastikan kami jarang bertengkar. Perselisihan memang ada, namun kami berdua senantiasa mengupayakannya agar persoalan yang kami hadapi tidak melebar dan meluas ke mana-mana. “If you can make it simple, why make it hard?”, begitu kata Linda.

Apabila setiap saat kami mempertahankan prinsip yang sama dalam menjalani hidup ini, dan ketika nantinya kami dikaruniakan umur panjang untuk bisa merayakan ulangtahun pernikahan yang ke-10, 20, 30 atau bahkan yang ke-50 seperti Charles dan Linda, wow…. betapa bernilainya hari-hari yang telah kami jalani selama ini, dan betapa banyak kenangan indah yang telah terukir sepanjang kehidupan ini.
Dan kalaupun toh kami tidak dikaruniakan usia yang panjang, setidaknya kami berdua sudah pernah melewati hari-hari yang indah bersama-sama.
Beberapa bulan yang lalu, saya mendapat kiriman surat dari Linda (kami memang sering saling berkirim surat semenjak pertemuan kami di Eropa bertahun-tahun lalu). Di suratnya Linda menceritakan bahwa Charles telah meninggal dunia, beberapa saat setelah peringatan ulangtahun pernikahan mereka yang ke-62. Herannya, saya tidak menangkap kesan kesedihan di dalam suratnya tersebut.
Bahkan dia mengatakan bahwa mereka berdua sudah sejak lama bersiap menghadapi momen perpisahan yang tak mungkin terelakkan oleh manusia manapun di dunia ini. Linda mengungkapkan bagaimana beruntungnya mereka bisa melewati saat kebersamaan yang panjang, dan bersyukur atas begitu banyak peristiwa yang boleh mereka jalani berdua. Dan ketika memang ‘saat’ itu tiba, yang terungkap justru rasa syukur karena telah diberi banyak kesempatan untuk menjalani hari demi hari bersama dengan orang yang dicintainya.
When you think your life is so short and when you always keep trying to fill up your days with cheers and laughter; someday you’ll be amazed, how many great moments you’ve been through in your lifetime. Itulah kalimat penutup yang ditulis Linda Graham dalam surat terakhir yang dikirimkannya pada saya.

Belajar Bahasa Thailand yuuuk!

(Picture is taken from here

Sawat dee Kha. Khun sabai di mai? Khoon phuut phaa saa Thai dai mai?
Hadoh.....bahasa apa itu buuuw? Bahasa burung yah? *tepok jidat*
Hehehe, itu komentar beberapa orang diFB saat saya posting kalimat diatas pada status saya. Ya iyalah...pasti bingung, wong bahasa langka tuh....jarang didengar kuping:p
Alhamdulillah, bulan depan,  tepatnya tanggal 1-3 Desember 2010 saya mendapat kesempatan mengunjungi negara Gajah Putih atau biasa kita kenal sebagai Thailand.
Ini bukan untuk liburan atau honeymoon yaaaa (hehehe...pengennya siy). Saya ke Thailand selama tiga hari tuh dalam rangka mengikuti The 1st International Conference on Qulitative Research in Nursing & Health yang diselenggarakan oleh Boromrajonani College of Nursing Nakhon Lampang, Thailand. Kebetulan saya selama ini topic of interestnya dibidang penelitian lebih ke arah penelitian kulitatif gitu deh. Makanya kayak pucuk dicinta ulam pun tiba deh, begitu tau ada Conference kayak gini diselenggarakan.
Kembali ke topik awal tentang bahasa Thailand. Ada ungkapan menarik yang mengatakan, dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung. Artinya, hati-hati dijalan yaaaaaaaa, hehehehe.....kidding.
Belajar tentang adat istiadat suatu daerah itu penting karena itu adalah bentuk nyata dari penghargaan kita terhadap budaya lokal setempat. Salah satunya adalah berusaha memahami bahasa daerah setempat. Ini penting agar kita bisa survive dan diterima oleh masyarakat disana dengan cepat.
Lha...tapi Orang Thailand juga bisa bahasa inggris kan Ya'?! Iya sih....pastilaaaaaah. Cuman kan gak semua orang bisa, apalagi mereka kan sama kayak kita, bukan negara jajahan Inggris. Makanya kalo dah menyangkut inggris-inggrisan deh, melingker-lingker dah tuh lidah, hehehehe.....
Bahasa Thai memang unik, lihat aja tulisannya berikut ini ขอให้โชคดี ckckckck....kayak cacing pita yang lagi bejejer yak, hehehe......susah emang awalnya, tapi kalo konsisten dan terus berlatih, insya allah pasti nanti bisa juga kayak dipelem-pelem Thailand itu lho.
Anyway, buat mereka yang akan berkunjung dalam waktu singkat kayak saya, tidak ada salahnya kita menguasai beberapa kalimat dalam bahasa Thai, kali-kali aja bisa nambah banyak teman dan yang paling penting biar bisa dapat discount gede kalo belanja souvenir buat oleh-oleh kalo balik ke Makassar, hehehehe.
Beberapa Kalimat standar yang perlu diketahui:
  • How are you? = sa baai dee mai?
  • Fine, Thanks = sa baai dee khrap.
  • Thank You = Khob Khun Khrap/Kha
  • I'm sorry = Phohm siia jai
  • You're welcome/ Never mind = Mai bpen rai
  • My name is Budi (Phom for male) = Phom cheuu Budi
  • My name is Aya (Chan for female). What's your name?  = Chan cheuu Aya. Kun chu a-rai kha?
  • Where is the toilet? = haawng suaam yuu thee nai?
  • How much is this? = Nee thao rai ?
  • Can you (male) lower the price? = Lot naawy dai mai khrap?
  • These things are too expensive = Khaawng phuaak nee phaaeng geern bpai
  • What is this called? = Nee riiak waa a rai?
  • Can you speak English?" = Khoon phuut phaa saa ang grit dai mai?
  • I (male) can speak a little Thai = Phom phuut phaa saa thai dai nit naawy
  • I can't speak Thai = Phuut thai mai dai
  • I (female) don't understand = Chan mai khao jai
  • I am an Indonesian = Phom bpen khon Indonesia
  • See you soon! (Until we meet again.) = Laaeo phohp gan mai
  • Can I have the Bill, please [spoken by a female] = Khit ngern duay kha.
  • Counting: 1 = neng , 2 = song , 3 = sam, 4= si, 5=ha, 6=hok , 7 = ced, 8 = ped, 9 = kao, 10 =sib, 11=sib ed, 12= sib song, 13=sib sam, 20 = yii sib, 21=yii sib ed, 22 = yii sib song, 30 = sam sib, 31=sam sib ed,32=sam sib song, 100=neung roi, 200=song roi,1000=neng phan, 10.000=neng meun,100.000 = neng sean,1.000.000 neng lan.

Selasa, November 02, 2010

Gallery Walk ala PSIK FK Unhas

Bagi anda yang gak pernah dengar istilah ini pasti heran, apaan sih gallery walk? Pameran berjalan yak?! Hehehehe.....bukaan bukaaan, bukan gallerynya yang jalan tapi orangnya, hehehe.

Gallery Walk (GW) adalah salah satu metode pembelajaran active learning yang bisa diterapkan dikelas yang mampu meningkatkan keaktifan dan interaksi mahasiswa dalam pembelajaran orang dewasa.
Idealnya sih metode ini efektif untuk pembelajaran dikelas kecil dengan mahasiswa maksimal 30 orang, tapi berhubung jumlah mahasiswa saya ditiap kelas adalah 60 orang, makanya dibutuhkan modifikasi disana sini, agar tujuan pembelajaran tercapai;)

Anyway, sebenarnya hari ini ada dua kelas yang saya harus handle untuk mata kuliah Keperawatan Komunitas & Keluarga dengan jumlah total mahasiswa +/- 120 orang, Kelas B1 (60 orang) dan kelas B2 (60 orang). Sedianya jadwal pelaksanaan GW kelas B2 adalah jam 13.00 - 14.40 (2 x 50 menit) lalu disambung dengan dengan GW untuk kelas B1 jam 14.40 - 16.20, tapi berhubung saya ada rapat di Rumah Sakit Pendidikan Unhas jam 13.00 - 15.00 WITA, terpaksalah kelas B2 saya gabung pelaksanaannya bersamaan  dengan kelas B1 di jam 15.00 WITA.

Mekanisme GW dimulai dengan tahap early planning. Beberapa hari sebelumnya saya telah mengumumkan dikedua kelas tersebut bahwa akan dilaksanakan GW untuk topik tertentu yang sudah saya tentukan. Oleh karena itu, mereka harus membagi diri dalam kelompok2 kecil untuk bekerjasama. Karena jumlahnya lumayan besar, maka saya bagi mereka dalam 12 kelompok (topiknya cuman 6, jadi tiap topik  yang sama akan dibuat oleh dua kelompok), dimana masing2 kelompok terdiri dari 5-6 orang. Tiap kelompok ini harus menyiapkan materi dari topik yang sudah ditentukan dan dimanifestasikan dalam bentuk poster yang nantinya akan dipamerkan ke kelompok lain.
 (Kelas Ners B1 In action)
Pada hari H (hari ini nih critanya....), tiap-tiap kelompok menampilkan poster di stand masing-masing yang sudah dibuat cantik layout dan desainnya (ada adu kreatifitas nih soalnya, hehehehe). Tiap stand akan dijaga  oleh 1-2 orang (tergantung kesepakatan kelompok), selebihnya akan menjadi pengunjung distand kelompok lain. Waktu perpindahan dari satu stand ke stand lain adalah 5 menit.
Agar waktu menjadi lebih efektif, setiap kali akan terjadi perpindahan, saya memberi aba-aba "3...2...1, Pindah!!!! dan mereka pun bergeser ke kelompok berikutnya, misalnya dari 1 ke 2, 2 ke 3, 3 ke 4, ......12 ke 1, dst (ini biar gak ada tabrakan kayak kereta api mabok, hehehehe...). Oia, disini masing2 penjaga stand harus menampilkan materinya secara verbal sambil menunjukkan visualisasi poster mereka kepada pengunjung yang datang. Setelah penjelasan dari penjaga stand selesai, maka pengunjung diperbolehkan bertanya terkait materi yang telah disampaikan. Pengunjung juga disyaratkan untuk mencatat informasi apa saja yg mereka peroleh ditiap2 stand. Nantinya begitu mereka kembali kekelompok asal, mereka bertanggungjwab untuk menjelaskan kembali informasi2 tersebut kepada anggota kelompok mereka yang bertugas sebagai penjaga stand.
(Kelas Ners B2 in action
Setelah semua kelompok selesai berkunjung kestand2 yang ada, maka sesi berikutnya adalah diskusi dalam kelompok. Seperti saya sebutkan diatas, maka dalam diskusi ini anggota kelompok yang bertugas berkeliling sebagai pengunjung akan menjelaskan ulang informasi yang diperolehnya dari stand lain kepada anggota yang bertugas sebagai penjaga stand. Dalam diskusi ini juga, penjaga stand akan melaporkan jika terdapat pertanyaan2 dari kelompok lain yang tidak mampu dijawab oleh penjaga stand spada saat pelaksanaan GW, untuk dicari jawabannya. Agar kelompok tidak ngobrol ngalor ngidul, sesi ini saya plot waktunya hanya sekitar 10 menit saja.

Sesi ketiga adalah sesi feedback dari saya selaku fasilitator, juga feedback dari kelompok, yang  durasinya adalah sekitar 10 menit. Disini saya memberikan reinforcement (penguatan) kepada seluruh kelompok tentang pelaksanaan kegiatan GW secara keseluruhan. Selain itu juga ada beberapa catatan yang saya buat terutama tentang keaktifan anggota kelompok, dimana masih ada beberapa mahasiswa yang saya lperhatikan belum terlalu involved dalam kegiatan GW ini. Tapi, ya itulah kembali ke style belajar masing2 individu. Bisa jadi mungkin mereka tidak terlalu cocok dengan metode ini atau ada faktor lain yang membuat mereka tidak terlalu antusias pada saat GW berlangsung. Tapi itu hanya 1 - 2 orang saja. Secara umum mereka tidak mengganggu jalannya GW, hanya saja ini menjadi penilaian tersendiri buat saya dalam menilai keaktifan mereka.

Nah, sebenarnya sesi ini berakhir pada bagian feedback oleh fasilitator. Tapi untuk menghargai  hasil jerih payah dan kreatifitas mereka, saya tambahkan satu sesi penghargaan atau sesi Award buat mereka. Khusus sesi ini saya menyiapkan hadiah kecil bagi kelompok terfavorit pilihan penonton, eh,,,maksudnya pilihan kelompok, hehehe.
Harganya tidak seberapa sih memang, hanya sebuah PIN. Tapi pin ini saya pesan khusus hanya untuk mata kuliah ini saja lho, so...pastinya limited edition doooong alias terbatas tas tas.... Jadi, jika nanti anda melihat ada mahasiswa ners B yang mengenakan PIN dengan warna dasar putih bertuliskan "The Winner, Nurse Community Unhas", that's they are, the favorit group;)
Dari hasil voting kelompok, akhirnya terpilih group favorit pilihan pemirsa Karena ada dua kelas paralel, maka pastinya ada dua kelompok pemenang. Satu dari kelas B1 dan satunya lagi dari kelas B2. Untuk kelas B1 pemenangnya adalah kelompok VI dengan topik Kesehatan Jiwa Masyarakat, sedangkan dari kelas B2 adalah kelompok 8 dengan topik Usaha Kesehatan Sekolah.
Selamat buat para pemenang, dan selamat juga bagi seluruh mahasiswa yang telah berpartisipasi dalam kegiatan Gallery Walk ini. Semua kelompok telah menunjukkan kemampuan mereka dalam mendesign tampilan poster secara maksimal, dan saya harus akui, mereka memang benar-benar kreatif untuk urusan ini.  Four thumbs up deh buat mereka, karena mereka berhasil meruntuhkan stigma negatif selama ini bahwa usia menurunkan kreatifitas individu. Salah....salah besar, mereka telah membuktikannya! They're all talented.......They're great!!! Keep the creativity alive forever!!;)
(Atas: Group terfavorit kelas Ners B2; Bawah: Group terfavorit Kelas Ners B1)