Sabtu, Maret 24, 2007

Epilepsi, apaan tuw....

Semalam hpku berdering.....nomer Indonesia, ternyata ada panggilan langsung international dari Balikpapan. Ria, teman kostku dulu dimakassar menelpon ingin bertanya ttg Epilepsi. Dia memiliki seorang teman berumur 20thn yang baru saja terkena epilepsi padahal menurutnya si temannya itu tidak memiliki riwayat keluarga yang menderita Epilepsi sebelumnya. Dia pengen tahu apa dan gimana sih penanganan epilepsi itu?

Ok, apa sih itu epilepsi & bagaimana bisa terjadi?
Epilepsi adalah aib yang tidak pada tempatnya. Penyandang "Epilepsi" sering dijauhi oleh teman dan warga sekitarnya. Melihat seorang yang tiba-tiba jatuh dan kejang-kejang, reaksi kebanyakan orang justru menjauhinya. Mereka takut menyentuhnya apalagi membantunya sebab takut ketularan. Ini adalah sikap yang tidak bijaksana, sebab "Epilepsi" yang lebih dikenal sebagai penyakit 'ayan' sebanrnya adalah penyakit yang sangat jelas tidak menular!!

Epilepsi bukan disebabkan oleh kuman atau bakteri. Penyakit ini merupakan gangguan mendadak dan sesaat pada sistem syaraf otak, terjadi akibat aktivitas listrik berlebihan dari kelompok sel neuron di otak. Penyebab sel-sel itu menjadi terlalu aktif belum diketahui secara pasti. Tetapi yang pasti gangguan Epilepsi dapat diredam. Epilepsi bukan hambatan untuk meraih kesuksesan seperti dibuktikan oleh banyak penyandang epilepsi yang telah mengukir kemasyhuran di berbagai bidang, antara lain : Alexander the Great, Alfred Nobel, Napoleon Bonaparte, Peter Tchaikovsky dan Vincent Van Gogh. Masyarakat umum hendaknya bersikap wajar menghadapi anggota masyarakat yang kebetulan cenderung mendapat serangan epilepsi.

Penyebab Epilepsi:
Penyebab epilepsi dapat dibagi menjadi dua bagian yaitu epilepsi idiopatik (tidak diketahui penyebabnya) dan epilepsi simtomatik (peyebab diketahui, misalnya tumor otak, pasca trauma otak, pasca meningitis). Pengaruh faktor genetik atau herediter memang ada tetapi kecil, biasanya termasuk pada yang idiopatik.

Jenis-Jenis Epilepsi:
Manifestasi serangan berbeda-beda, tergantung pada fungsi otak mana yang terganggu :
A. Epilepsi Umum
1. Petit Mal (Absence)
Gangguan kesadaran secara mendadak. Penyandang diam tanpa reaksi (bengong) seperti melamun, kemudian setelah beberapa detik kembali melanjutkan kegiatannya kembali seperti semula.
2. Grand Mal.
Diawali dengan teriakan melengking (epileptic cry), lalu kehilangan kesadaran kemudian jatuh kejang-kejang seperti sedang "break dance", air liur berbusa dan napas mengorok
3. Myoklonik
Terjadi kontraksi singkat dari satu, sekelompok, atau beberapa kelompok otot. Bervariasi dari yang tidak terlihat, sampai sentakan hebat. Mengakibatkan misalnya, mendadak jatuh, atau melontarkan benda yang sedang dipegang.

B. Epilepsi Parsial
1. Sederhana (tanpa gangguan kesadaran)
Umumnya, berupa kejang-kejang dan kadang-kadang kesemutan atau rasa kebal pada satu tempat. Berlangsung beberapa menit/jam. Bila serangan hanya terjadi di satu lokasi dan berlangsung beberapa saat, disebut Parsialis Kontinua
2. Kompleks (disertai gangguan kesadaran)
Diawali dengan Parsial Sederhana, penderita seperi bermimpi, dan daya ingatnya terganggu, halusinasi, atau kosong pikiran seringkali diikuti oleh otomatisme. Misalnya, mengulang-ulang ucapan, melamun, atau berlari-lari tanpa tujuan
3. Umum Sekunder
Perkembangan dari parsial sederhana atau kompleks menjadi umum.

Diagnosa Epilepsi
Untuk menegakkan diagnosa epilepsi biasanya dokter akan melakukan wawancara (anamnesis), pemeriksaan fisis maupun pemeriksaan penunjang seperti EEG, CTScan, MRI dll.

Hubungan Epilepsi dengan Keturunan dan Pekerjaan
Pada epilepsi yang disebabkan oleh kumpulan gejala sebagai akibat dari berbagai penyakit, tidak akan diturunkan kepada anak-anaknya. Sebagai contoh : epilepsi yang timbul sebagai akibat cedera otak karena kecelakaan, tidak akan diturunkan kepada anak-anaknya. Pada epilepsi yang penyebabnya tidak diketahui ( epilepsi idiopatic), faktor keturunan pada penyandang epilepsi adalah kecil, kurang dari 5%. Yang diturunkan bukan epilepsinya, tetapi ambang rangsang kejang atau serangan yang rendah yang diturunkan. Namun bila kedua pasangan adalah penyandang epilepsi, maka resiko untuk mendapatkan anak dengan epilepsi menjadi lebih besar. Adalah bijaksana untuk konsultasi pada dokter sebelum hamil. Jenis pekerjaan yang dapat dilakukan oleh penyandang epilepsi bergantung pada jenis epilepsinya dan sejauh mana serangannya dapat dikendalikan. Hal yang perlu diperhatikan adalah keselamatan kerja bagi penyandang epilepsi dan orang lain bila mendapat serangan. Sebagian besar dapat dilakukan oleh penyandang epilepsi seperti pekerja tangan, guru, pekerja sosial, peneliti, penerjemah, olahragawan, pekerja kantor, ilmuwan. Beberapa pembatas kerja bagi penyandang epilepsi adalah sebagai tentara, polisi, pengemudi kendaraan umum (supir bis, pilot, masinis), pemadam kebakaran, bekerja dengan mesin putar, berhubungan dengan alat listrik tegangan tinggi, pekerja bangunan tinggi, operator alat pemanas atau alat yg mudah pecah. Yang utama bagi penyandang epilepsi adalah merencanakan pendidikannya sesuai dengan bakat dan keinginannya tetapi dengan mempertimbangkan pada beberapa pekerjaan yang mengandung resiko membahayakan dirinya atau orang lain bila mendapat serangan.

Pengobatan Epilepsi
Meskipun tidak dapat disembuhkan secara total, epilepsi dapat dikontrol sehingga serangan dapat dikurangi bahkan dihilangkan. Penyandang epilepsi dianjurkan untuk secepatnya menghubungi dokter dan mengikuti nasehat serta secara disiplin minum obat yang diberikan. Pengobatan mutakhir dengan antiepilepsi memungkinkan banyak penyandang epilepsi menikmati hidup secara utuh, produktif, dan mandiri. Sesungguhnya, banyak penyandang epilepsi dari semua jenis epilepsi dapat dikendalikan secara baik bila diberi pengobatan dengan obat antiepilepsi yang sesuai. Memilih obat yang tepat bagi seorang penyandang epilepsi bukanlah hal yang mudah. Dokter harus mempertimbangkan beberapa faktor pada setiap penderita, jenis serangan, umur, jenis kelamin, kondisi tubuh, berat badan dan respons masing-masing orang terhadap pengobatan yang diberikan. Dibutuhkan waktu sebelum seorang dokter menentukan jumlah dan jadwal pengobatan yang dapat menghasilkan respons terbaik dengan efek samping paling sedikit.
Pengobatan epilepsi adalah pengobatan jangka panjang. Penderita akan diberikan obat antikonvulsan atau antiepileptic untuk mengatasi kejang sesuai dengan jenis serangan. Operasi, diet (terutama pada anak), atau stimulasi elektris pada saraf vagus ( saraf utama yang menuju ke otak), bisa menjadi option jika pengobatan dengan obat-obat antiepliptic dan antikonvulsi gagal untuk mengontrol kejang. Tujuan utama dari treatment ini adalah menghentikan kejang tanpa menimbulkan efek samping dari obat yang dikonsumsi.Penggunaan obat dalam waktu yang lama biasanya akan menyebabkan masalah dalam kepatuhan minum obat (compliance) serta beberapa efek samping yang mungkin timbul seperti pertumbuhan gusi, mengantuk, hiperaktif, sakit kepala, migrain, gangguan vestibular (keseimbangan) dll.
Sesudah suatu jadwal pengobatan dibuat, penting bagi penderita agar meminum obat dalam jumlah dan pada waktu yang telah ditentukan oleh dokter. Bila sesuai dengan petunjuk, maka pengobatan tersebut akan benar-benar menghilangkan serangan selama berbulan-bulan. Hal ini bukan berarti epilepsi telah disembuhkan. Penderita tidak boleh berhenti meminum obat atau mengurangi jumlahnya tanpa anjuran dokter.

Pertolongan Pertama Untuk Epilepsi
Bila Anda kebetulan berdekatan atau mendapati penderita epilepsi yang sedang mengalami kejang-kejang, maka yang dapat Anda lakukan adalah :
  • Hindarkan benturan kepala atau bagian tubuh lainnya dari bendar keras, tajam atau panas. Jauhkan ia dari tempat / benda berbahaya.
  • Longgarkan bajunya. Bila mungkin, miringkan kepalanya kesamping untuk mencegah lidahnya menutupi jalan pernapasan.
  • Biarkan kejang berlangsung. Jangan memasukkan benda keras diantara giginya, karena dapat mengakibatkan gigi patah. Untuk mencegah gigi klien melukai lidah, dapat diselipkan kain lunak disela mulut penderita tapi jangan sampai menutupi jalan pernapasannya.
  • Penderita akan bingung atau mengantuk setelah kejang terjadi. Beri penderita minum untuk mengembalikan energi yg hilang selama kejang dan biarkan penderita beristirahat.
  • Laporkan adanya serangan pada kerabat terdekatnya. Ini penting untuk pemberian pengobatan oleh dokter.
  • Ajarkan penderita untuk mengenali tanda2 awal munculnya epilepsi atau yg biasa disebut "aura". Aura ini bisa ditandai dengan sensasi aneh seperti perasaan bingung, melayang2, tidak fokus pada aktivitas, mengantuk, dan mendengar bunyi yang melengking di telinga. Jika Penderita mulai merasakan aura, maka sebaiknya berhenti melakukan aktivitas apapun pada saat itu dan anjurkan untuk langsung beristirahat atau tidur.
  • Bila serangan berulang-ulang dalam waktu singkat atau penyandang terluka berat, bawa ia ke dokter atau rumah sakit terdekat.
Sources:

10 komentar:

  1. Adek saya berusia 16 Thn, Kalau menurut analisa saya penyakit tersebut berawal dari benturan kepalanya waktu berusia 7 tahun.Apakah adek saya bisa ke kondisi normal,apa yang harus saya lakukan untuk mengobatinya ???

    Trima kasih

    BalasHapus
  2. aku icha, umurku 21tahun. belum lama ini aku terserang kejang2 hebat, kedua mataku terbelalak hingga menampakkan hanya bagian putih mata, mulutku miring-miring (seperti orang terkena stroke) dan akhirnya pingsan.
    tetapi yg anehnya ketika aku sadar, aku sama sekali tidak mengetahui kejadian tersebut, yg aku tahu aku baru saja bangun dari tidurku, hingga aku bersikap marah (gremeng bhs jawanya::) krn banyak sekali tetangga yg berdiri disamping tempat tidurku. ternyata 7orang tetangga2ku itu yg membantu menolongku, aku sama sekali tak menyadari hal yg tlh terjadi padaku. hingga akhirnya aku periksa ke dokter, dianjurkan MRI dan EEG, MRI ku terlihat tak ada kendala tetapi, EEG ku disana tertulis abnormal. dokter menyarankan aku meminum obat anti kejang (katanya), untuk menghentikan aura hingga kejang agar tidak terjadi. tetapi stlh meminum itu, aku jadi sering mengantuk dan sering berkali2 balik menanyakan suatu hal tanpa ku sadari dan terkadang apabila orang sudah memberi tahu, akupun kembali lupa dng apa yg diberitahukan.

    apakah ciri2 ini bisa disebut tanda2 epilepsi??bagaimana cara penyembuhannya??apakah akan menyebabkan kematian?

    BalasHapus
  3. saya Herra punya seorang teman yang sakit berumur 25th. Dia baru 3 tahun ini sakitnya terkadang seperti orang pingsan tidak sadar seperti orang bengong badannya kaku walaupun matanya tetap terbuka tapi merah, bibirnya sampai berwarna ungu dan mengeluarkan liur yang banyak sekali tapi tdk berbusa, walaupun dia dipukul ataupun diteriaki namanya sekalipun tetap tidak bereaksi, setelahnya dia seperti orang bingung bicaranya melantur kemana-mana, dan tidak ingat maupun menyadari yang terjadi sama dia. dia suka mengeluh migrain yang parah, dadanya disebelah kanan sakit, apakah itu bisa disebut dengan epilepsi??? dia sudah berobat dimana-mana tapi tidak kunjung sembuh, tolong saya jika ada yang tahu ataupun informasi lain mengenai penyakit ini beritahu saya.
    Terima kasih

    BalasHapus
  4. Saya Dwi,saya adalah penderita epilepsi sejak saya berumur 16 thn. Sewaktu saya tahu bahwa saya menderita epilepsi,saya shock berat dan strees.saya takut dikucilkan orang,tapi syukurlah itu tdk terjadi. Sekarang saya kuliah di bidang Farmasi dan saya telah membuktikan bahwa epilepsi bukan akhir dari segalanya. Terima kasih untuk kak Aya yg telah memberikan informasi kepada saya melalui tulisan ini.

    BalasHapus
  5. subhanallah, bagus sekali. ingat kecil dulu, punya teman epilepsi. setiap kambuh, semua berlarian ketakutan. penderita juga dikucilkan. kepada para guru, barangkali perlu menggali info sebanyak-banyaknya tentang epilepsi. Siapa tahu punya murid penderita epilepsi. Sekalian mengajarkan murid-muridnya bersikap empatik pada teman yang menderita epilepsi.

    BalasHapus
  6. wah.. Aya suka gelap2an ya? Tolong dong tulisannya agak lebih terang dikit biar enak dibaca, hehe..hehe..

    BalasHapus
  7. saya suci saya menderita penyakit ini sejak berumur 12 th, setelah saya mengetahui saya menderita penykit ini awalnya saya masih percaya diri tp setelah saya kambuh di sekolah dan sebagian dari teman saya mengucilkan dan menjauhi saya, saya mulai mengasingkan diri,,, belum lagi apabila saya bertengkar dengan kakak" saya yg selalu menyinggung penyakit yg saya derita saya merasa sedih terkadang saya selalu berfikir untuk bunuh diri saya malu dngan penyakit yg saya derita,,,
    sampai saat ini di umur saya yg ke 20 saya masih tdak percaya diri bagaimana cara nya menghilangkan rasa tidak percaya diri saya ini??

    apakah penyaki ini bsa sembuh total,,,??

    BalasHapus
  8. @B-Jhee: Penderita epilepsi dapat hidup normal layaknya orang normal pada umumnya. Semakin awal dikenali dan ditangani, maka kerusakan fisik terutama pada memori dan otak dapat diminimalisir.

    @Herra: Saya tidak bisa memastikan bahwa itu adalah termasuk salah satu jenis epilepsi sampai ada hasil pemeriksaan diagnostik dari dokter spesialis saraf. Coba deh, diperiksakan dulu.

    @Are: Thanks

    @Uwie: Wah, senang mendengarnya. Jurusan farmasi adalah salah satu jurusan yang termasuk sulit lho, dan dwi sudah membuktikan bahwa menjadi seorang penderita epilepsi bukanlah hambatan untuk meraih kesuksesan. Salut untuk Dwi;)

    @Ibu Guru Umi: Terima kasih banyak bu. Saya berharap lewat tangan ibulah, masyarakat akan semakin banyak yang mengerti bahwa epilepsi bukanlah suatu penyakit yang mengerikan, ia tidak ada bedanya dengan penyakit-penyakit lain yg dialami seseorang, hanya mungkin gejala-gejalanya yang membuat orang-orang sekeliling menjadi khawatir.

    @Anonim: Iya, kemarin sempat gelap, tapi alhamdulillah sekarang blognya dah dipasangin lampu warna pink, hehehe...But thanks tuk masukannya yah

    @Suci:Suci, Tuhan memberi kita suatu "keunikan" dibanding orang lain. Jujur, saya adalah salah satu penderita epilepsi sejak umur 8 tahun hingga sekarang. Ortu saya dulu pernah sampai frustasi mengirim saya berobat kemana-mana, tapi tidak kunjung sembuh, bahkan mereka ketakutan kira-kira bagaimana masa depan saya kelak. Di awal-awal SD & SMP saya sempat down, karena sering kejang dikelas dan akhirnya dikirm pulang kerumah. Tapi seiring pertambahan usia, saat saya mulai bisa menerima keunikan saya, saya juga mulai bergaul dan membuka diri. Saya temukan bahwa saya punya potensi mudah bergaul dan suka berorganisasi. Kedua hal itu membuat saya jadi sering lupa bahwa saya penderita epilepsi. Saya tidak pernah berusaha menutupi kenyataan bahwa saya adalah penderita epilepsi pada teman-teman saya. Dukungan malah mengalir saat mereka tau bahwa saya adalah salah satu penderita epeilepsi, bahkan banyak yang tidak percaya.
    Sekarang saya sudah menyelesaikan pendidikan S2, dan berprofesi sebagai salah seorang dosen disalah satu PTN diMakassar. Saya belum sembuh total, karena memang epilepsi tidak bisa disembuhkan, akan tetapi bisa dikontrol dengan menghindari penyebab serta mengenali tanda-tanda auramu.Saya hanya ingin menekankan, bahwa epilepsi bukan halangan untuk berkarya. Gali potensi dirimu, temukan apa bakatmu. Fokuslah disitu, buktikan bahwa kamu bisa menjadi berarti bagi orang dirimu sendiri dan juga orang lain.
    Anyway, jika ada yang ingin suci konsultasikan lebih lanjut, bisa menghubungi saya diemail: nurhayanurdin@yahoo.com

    BalasHapus