Tampilkan postingan dengan label Touched Story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Touched Story. Tampilkan semua postingan

Selasa, Oktober 29, 2013

Living life at the fullest


Dear mahasiswaku, adik-adikku, sahabat-sahabatku......

Dunia begitu luas, keluarlah dari zona nyaman kalian, buatlah paspor, kemas ransel kalian, langkahkan kaki kemana saja menjelajahi bumi ciptaan Allah ini.
Diluar sana banyak pembelajaran hidup yang tidak akan ditemui dalam buku pelajaran....., nikmati, hayati dan belajarlah kearifan dari adanya perbedaan, bahkan belajar lebih dekat tentang cinta tanah air, diri dan Tuhan. Niscaya kalian akan menjadi pribadi yang berbeda, mandiri dan bijaksana.

Sabtu, September 24, 2011

Berburu Yang Halal dikota Sheffield

Aya, have you prayed Zhuhr? Teman saya Khadijah seorang muslimah dari Nigeria tiba-tiba saja bertanya saat kami sedang dilift. “No, I havent! Have you?! Balik saya bertanya. Saya melirik jam tangan saya, duh sudah jam 3 lewat sedikit dan saya belum menunaikan kewajiban saya satu ini. Padahal setelah ini kami masih ada sesi ramah tamah dengan mahasiswa baru MPH lain digedung Regent Court ini. Khadijah menggelang, berarti belum juga.

Bisa dimaklumi karena kami tadi harus keluar dari rumah masing2 sebelum waktu sholat Dhuhur yang diSheffield sini jatuh tepat jam 12.59 siang. Kelas kami tadi  dengan Prof Dorling ttg Human Geography mulai jam 1 siang, lalu setelah itu disambung dengan Carrier Talk dan Study Skill hingga jam 3 sore digedung Mappin Building. Nah sekarang setelah pindah ruangan ke Regent Court baru nyadar belum sholat. Padahal kata sister Sri, mahasiswa Malaysia yang saya temui di acara Muslim student Reception kemarin, ada mushalla digedung Mappin Building lho, gedung yang tadi saya pake kuliah jam 1 itu. Hmmm…itu yang paling terdekat saat ini, kesana aja deh.
Berdua Khadijah akhirnya saya turun lagi kelantai bawah melalui lift dilantai 2 gedung Regent Court. Kami menuju Mappin Building dengan niat mencari mushola dan sholat dhuhur disana. Begitu masuk dientrance Mappin Building, mata saya nanar mencari2 plang penunjuk ke arah ruang yang dimaksud. Aha! itu dia, agak tersembunyi dibalik tangga menuju ke lantai bawah gedung ini. Room C160.
13168118541121509377
Plang Penunjuk Ruang sholat diMappain Building (C160)
Dengan tergesa-gesa kami segera mengikuti petunjuk yang ada diplang tadi. Menuruni tangga dua kali, lalu belok kiri sembari mata kami menyapu semua nomor ruangan yang tertera dipuluhan pintu yang kami lewati.
Syukurnya petunjuk yang dipasang disepanjang jalan meujun ruangan tersebut memudahkan kami menemukan mushola yang dimaksud. Ruang sholat brother dan sister dipisah. Ruang sholat brother ada dilantai bawah sedang sister persis setingkat diruang atasnya. Walaupun kecil tapi suasananya kondusif sekali untuk sholat, malahan ada ruang wudhunya pula, jadi gak perlu wudhu kucing-kucingan ditoilet kamar mandi seperti kalo mo wudhu dimusholla Mall GTC Makassar atau mall-mall lain di Indonesia yang gak membolehkan pengunjugn untuk wudhu dan membasahi lantai kamar mandi mereka.
13168122231706945768
Ruang Wudhu Sister di dalam Ruangan C160
Ruang sholatnya tidak seberapa besar. Ukurannya sekitar 3 x 5 meter, muat untuk 10-15 orang sister jika sholat berjamaah. Ada sajadah yang sudah dibentangkan menghadap serong ke arah tembok kiri saya. Tadi sempat khawatir karena gak bawa alat sholat, eeeh…ternyata ada disediakan disini, sekalian sama sarung cap gajah duduknya malah, hehehe. Oia, satu hal lagi yang perlu diingat. bahwa kalo biasanya di Indonesia kita sholat menghadap ke arah Barat , nah kalo diUK sholatnya menghadap ke arah South East atau Tenggara, so dont get it wrong yah! Pastikan selalu bawa kompas untuk mempermudah arah kiblat anda.
13168127171966907240
Ruang Sholat Sister diRoom C160, Mappin Building

Selain di Mappin Building ini, ada beberapa tempat yang bisa digunakan untuk sholat, yang disediakan kampus University of Sheffield. Tempatnya tersebar dibeberapa lokasi. Kemarin saat pertemuan dengan USIC (University of Sheffield Islamic Circle) atau persatuan mahasiswa muslim disheffield, saya dikasih selebaran tentang mesjid dan ruang sholat yang berlokasi disekitar kampus. Ini dia tempatnya:
  1. Information Common Buidling, level 2

  2. Student Union level 2

  3. Hallamshire Hospital, Ground Floor

  4. Management School

  5. Muslim WelfaresHouse, 10-12 Severn Road, S10 2SU (0.5 miles from union)

  6. Ar Risalah Masjid, 51 Montgomery Terrace Road, S6 3BW
Selain itu, saya juga dikasih daftar toko grocery dan Toko Daging Hala disekitar Sheffield. Biar hati kita tenang untuk belanja dan makan makanan halalnya. Ini dia alamatnya:
  1. Peace Valley Food & News, 272 Glossop Road, S10 2HS (0,2 miles dari student union)

  2. Yafei & Sons Food Store, 29 Filey St, S10 2FG (0,4 miles dari student union)

  3. Brromhill Mini Market, 253 Broomhill St, S3 7SP (0,4 miles dari student union)

  4. Fitzwilliam Global Food Store, 127 Fitzwilliam St, S1 4JP (0,6 miles dari student union)

  5. Al Zahir, 30 Carlsile St, S4 7LJ (1.7 miles dari student union)

  6. Rehman & Sons, 529-531 Abbeydale Road, S7 1FU (1.8 miles dari student union)

  7. Malik Halal Butcher, 125 Upwell St, S4 8AN (3,1 miles dari student union)

Sabtu, November 13, 2010

If Life Is So Short....

Sebuah cerita yang sangat inspirasional oleh Agung Basuki mengenai betapa pentingnya kita menghargai apapun yang kita miliki dalam hidup ini,dan menjalaninya dengan penuh kesyukuran bersama orang-orang yang kita cintai.

“If Life Is So Short….”

Wrote By: Agung Basuki TravelHemat.com
 
Saya pertama kali bertemu dengan Charles dan Linda Graham saat pasangan asal Amerika itu ikut serta dalam rombongan tur ke Eropa Barat yang saya pimpin, kira-kira 14 tahun yang lalu. Ketika itu mereka mengadakan perjalanan dalam rangka memperingati ulangtahun emas perkawinan mereka. Saya banyak berkomunikasi dengan mereka sebab mereka duduk di baris pertama pada bus yang kami kendarai sepanjang perjalanan, tepat di belakang bangku tempat duduk saya.
Selama 14 hari perjalanan mengunjungi 9 kota di 5 negara, pasangan yang sudah berusia lebih dari 70 tahun itu kerap menjadi perhatian saya. Bukan karena saya mengkhawatirkan kondisi fisik mereka yang mungkin kelelahan akibat perjalanan panjang, karena untuk ukuran kebanyakan orang seusianya, mereka tergolong cukup sehat dan lincah. Yang saya perhatikan justru bagaimana mereka tampak begitu menikmati setiap momen dalam perjalanan tersebut.
‘Pengamatan’ yang saya lakukan secara sembunyi-sembunyi terhadap mereka –entah dengan mencuri pandang melalui kaca spion bus yang kebetulan mengarah langsung pada mereka, atau memperhatikan bagaimana mereka berunding untuk menentukan mau pergi ke mana ketika acara bebas—membuat saya melihat ada sesuatu yang ‘berbeda’ diantara keduanya dibandingkan para peserta lain. Keduanya tampak sangat ceria, yang terpancar jelas dari raut wajah mereka yang sudah dipenuhi keriput.
Rasa penasaran saya atas pasangan Charles dan Linda belum sempat terjawab ketika perjalanan yang kami lakukan sudah harus berakhir. Seluruh rombongan berpisah untuk kembali ke tempat tinggal masing-masing, sementara saya melanjutkan hidup saya seperti biasa.

Setahun berikutnya, ketika ditugaskan untuk memimpin sebuah rombongan tur ke Eropa Timur, secara tak sengaja saya bertemu lagi dengan Charles dan Linda yang ternyata juga ikut serta dalam rombongan tur yang saya pimpin saat itu. Kali ini mereka melakukan perjalanan untuk merayakan ulangtahun perkawinan yang ke-51.
Lantaran sudah saling kenal sebelumnya, kami menjadi cepat akrab. Sebenarnya, saat itu saya hanyalah seorang tur leader pengganti lantaran tur leader yang seharusnya memimpin perjalanan tersebut mendadak jatuh sakit. Di awal perjalanan, saya berterus terang kepada para peserta tur bahwa saya kurang familiar dengan rute perjalanan kali ini.
Di luar dugaan, Charles secara diam-diam berbicara banyak tentang saya kepada para peserta tur lainnya berdasarkan pengalaman yang dialaminya saat ikut serta dalam rombongan tur yang saya pimpin setahun sebelumnya. Tentang bagaimana saya sudah menjadi tur leader yang menurut dia sangat baik dan caring serta berbagai hal-hal positif lainnya.
Berkat dia pulalah, sebagian besar peserta tur jadi memiliki penilaian positif terhadap saya. Konsekuensinya, saya jadi lebih tertantang untuk berbuat semaksimal mungkin, memberikan kualitas layanan yang terbaik dan memuaskan.

Pengalaman memimpin grup tur ke Eropa Timur saat itu adalah awal perjalanan karir saya sebagai seorang tur leader, namun justru di saat saya merasa banyak kemungkinan untuk melakukan kesalahan karena minimnya ‘jam terbang’ dan penguasaan medan, hampir seluruh peserta tur malah memberikan dukungan positif atas apa yang saya lakukan saat itu sehingga saya merasakan situasi yang nyaman sepanjang perjalanan tersebut. Dan semua itu disebabkan karena berbagai pernyataan positif yang disampaikan oleh Charles.
“Hidup ini terlalu singkat untuk dijalani, kalau bisa membuatnya lebih indah, kenapa harus dijalani dengan airmata. Kalau bisa memotivasi orang lain dengan pujian, mengapa kita harus menyampaikannya dengan celaan?” demikian kata Linda saat saya menyampaikan terimakasih atas ‘promosi’ yang dilakukan suaminya untuk saya.
Prinsip life is too short yang dianut oleh Charles dan Linda itu membuat saya merenung tentang makna hidup yang sudah saya jalani saat ini. Usia pernikahan yang mereka jalani hingga sanggup mencapai angka di atas 50 tahun adalah suatu hal yang langka, dan menurut saya perjalanan hidup mengarungi kehidupan selama 70 tahun lebih bukanlah waktu yang singkat pula.

“Kita tidak pernah tahu kapan hidup ini bakal berakhir, kapan saat terakhir kita bakal bertemu dengan orang yang kita kasihi. Bisa saja besok saya atau kamu dipanggil Tuhan, dan alangkah menyesalnya kita ketika menyadari betapa banyak hal yang sebenarnya ingin kita capai, ternyata tidak pernah terwujudkan.
Jika setiap saat kita berpikir bahwa hidup ini terlalu singkat untuk dijalani, maka kita akan termotivasi untuk memberikan makna terbaik pada hari-hari yang kita jalani saat ini,” demikian ungkap Charles panjang lebar. “Dan jika pada kenyataannya kita diberi anugerah untuk menjalani hidup ini lebih lama, bukankah hari-hari yang sudah kita lalui bakal menjadi rangkaian kenangan nan indah?

Selama kehidupan pernikahan kami, rasanya kami tidak sempat meributkan hal-hal kecil karena waktu kami telah tersita dengan pemikiran bagaimana mengisi hari-hari ‘pendek’ kami dengan sebaik mungkin.”
Perkataan Charles dan Linda itu terus melekat di benak saya hingga kini. Prinsip hidup yang mereka anut telah berhasil mempengaruhi jalan pemikiran saya, sehingga sejak saat itu saya menjalani kehidupan dengan lebih bersemangat.
Ketika menikah beberapa tahun yang lalu, saya bersama istri juga telah bersepakat untuk menjalani kehidupan ini dengan prinsip ‘life is so short’. Setiap saat kami selalu berpikir bagaimana caranya agar mengisi hari-hari kami dengan sebaik mungkin. Peringatan hari ulang tahun saya dan istri, maupun ulangtahun pernikahan, kami menjadi ajang untuk introspeksi tentang hari-hari yang telah kami lewati bersama, sekaligus merencanakan apa yang akan kami lakukan untuk kurun waktu setahun ke depan.
Kami menjadi lebih ekspresif dalam mengungkapkan isi hati dan perasaan masing-masing dan tidak ragu-ragu untuk saling mempersembahkan yang terbaik dan berupaya untuk saling membahagiakan satu sama lain. Setiap kali ada konflik yang terjadi, kami berupaya untuk menyelesaikannya dengan sesegera mungkin.
Banyak orang yang mengatakan bahwa kehidupan rumah tangga yang kami jalani barulah ‘seumur jagung’, sehingga saat ini kami baru menikmati yang manis-manis saja. Memang benar, selama hampir dua tahun kehidupan pernikahan kami, hampir bisa dipastikan kami jarang bertengkar. Perselisihan memang ada, namun kami berdua senantiasa mengupayakannya agar persoalan yang kami hadapi tidak melebar dan meluas ke mana-mana. “If you can make it simple, why make it hard?”, begitu kata Linda.

Apabila setiap saat kami mempertahankan prinsip yang sama dalam menjalani hidup ini, dan ketika nantinya kami dikaruniakan umur panjang untuk bisa merayakan ulangtahun pernikahan yang ke-10, 20, 30 atau bahkan yang ke-50 seperti Charles dan Linda, wow…. betapa bernilainya hari-hari yang telah kami jalani selama ini, dan betapa banyak kenangan indah yang telah terukir sepanjang kehidupan ini.
Dan kalaupun toh kami tidak dikaruniakan usia yang panjang, setidaknya kami berdua sudah pernah melewati hari-hari yang indah bersama-sama.
Beberapa bulan yang lalu, saya mendapat kiriman surat dari Linda (kami memang sering saling berkirim surat semenjak pertemuan kami di Eropa bertahun-tahun lalu). Di suratnya Linda menceritakan bahwa Charles telah meninggal dunia, beberapa saat setelah peringatan ulangtahun pernikahan mereka yang ke-62. Herannya, saya tidak menangkap kesan kesedihan di dalam suratnya tersebut.
Bahkan dia mengatakan bahwa mereka berdua sudah sejak lama bersiap menghadapi momen perpisahan yang tak mungkin terelakkan oleh manusia manapun di dunia ini. Linda mengungkapkan bagaimana beruntungnya mereka bisa melewati saat kebersamaan yang panjang, dan bersyukur atas begitu banyak peristiwa yang boleh mereka jalani berdua. Dan ketika memang ‘saat’ itu tiba, yang terungkap justru rasa syukur karena telah diberi banyak kesempatan untuk menjalani hari demi hari bersama dengan orang yang dicintainya.
When you think your life is so short and when you always keep trying to fill up your days with cheers and laughter; someday you’ll be amazed, how many great moments you’ve been through in your lifetime. Itulah kalimat penutup yang ditulis Linda Graham dalam surat terakhir yang dikirimkannya pada saya.

Jumat, Mei 21, 2010

Aku Pernah Datang Dan Aku Sangat Patuh (True Story)

Cerita menggugah hati ini berkisah tentang seorang gadis kecil yang cantik yang memiliki sepasang bola mata yang indah dan hati yang lugu polos. Dia adalah seorang yatim piatu dan hanya sempat hidup di dunia ini selama delapan tahun. Satu kata terakhir yang ia tinggalkan adalah ’saya pernah datang dan saya sangat penurut’. Gadis ini rela melepaskan pengobatan, padahal sebelumnya dia telah memiliki dana pengobatan sebanyak 540.000 dolar yang didapat dari perkumpulan orang Chinese seluruh dunia. Dia membagi dana tersebut menjadi tujuh bagian, yang dibagikan kepada tujuh anak kecil yang juga sedang berjuang menghadapi kematian, dan dia rela melepaskan pengobatannya. Begitu lahir dia sudah tidak mengetahui siapa orang tua kandungnya. Dia hanya memiliki seorang papa yang mengadopsinya.
Papanya berumur 30 tahun yang bertempat tinggal di provinsi She Cuan kecamatan Suang Liu, kota Sang Xin Zhen Yun Ya Chun Er Cu. Karena miskin, maka selama ini ia tidak menemukan pasangan hidupnya. Kalau masih harus mengadopsi anak kecil ini, mungkin tidak ada lagi orang yang mau dilamar olehnya.

Rabu, Juni 18, 2008

Once In A Life Time

(Pic taken by Yoga, UTS Ausaid awardee 0f 2007)

I have an interesting story to share. This is about a moment that i wont forget in my entire life. It was on November 2007, at the end of my study at University of Technology Sydney (UTS). Within next few weeks, we were (all UTS international students from various contries) having graduation day after finished all subjects from our formal courses. Actually, the ceremony was not like the real graduation; when all UTS students were given their testamur with the grade mentiones on it. No, it wasnt. It's more like a farewell ceremony for us who could not attend the formal graduation ceremony on April 2008 due to the distance problem and of course funding matter (my scholarship doesnt cover a trip for this ceremony). But what makes it special was, because at that time we were all wearing graduation uniform and we also got a chance to shake hand with the chancellor, dean & Professors from our faculties.

A month prior to the farewell ceremony, i got an email from a UTS international office staff, Ms. Belinda Lee. I've been invited to submit a speech to be presented on the farewell occasion. Along with me, there were around 10 students also got the invitation. I heard from Ms. Lee, the crieteria to receive the invitation was based on our activities at UTS. The more we were spotted being involved in UTS activities, the bigger chance we got the invitation. I personally according to her, being spotted when i won a special award at UTS City 2 Surf Team in 2006 and when I choreographed an Indonesian contemporary dance at UTS Cultural Infusion Week on Aug 2006 (even i didnt win the competition, but the other participants said it was amusing though).

Back to the speech. All candidates were asking to submit a speech no longer than 2 pages. And it should be in English of course. The staff of UTS would select the best, and as the result the it will be delivered on the ceremony by the student who wrote it. Initially, i didnt really expect that my speech would be better than any other students. First, my grammar was crap, second i never made any written speech before and, third i didnt mean to write it since i have a problem with "stage fright" (bahasa: demam panggung).

Unfortunately, all my thoughts were wrong. A week before the ceremony, i was called back to confirm that my writing has been chosen as the best speech to deliver. Surprised?! Yes?! Panic?!Absolutely!!! (remember i have stage fright?!)

So, in a rush, i met ms. Lee immeditely to mention about my biggest problem, stage fright. I wanted to step back because i had no confidence to do so in front of all international students and their families. But Ms. Lee reinforced me to keep further because she believed that i could cope with it. I Just need to conquer my fright coz that the real enemy within myself. She was aslo suggesting me to practice in front of mirror and even in front of her and some of her colleagues.

It took me few days, until i gain the confidence with the help of Ms.Lee and my best friends (K'Rini & Lisa) who never stopped encourage me.

Finally, on the big day, as my chancellor, Ms. Lee and some international students said, I delivered it very well, my speech was so impressive and deeply touched they heart. So, for you guys, who want to know how my speech was, here is the final draft after been revised here and there lil'bit by Ms. Lee

Student Address:

Nurhaya Nurdin (Ausaid Awardee 2006)
Master of Nursing Education
University of Technology Sydney

Student Guest Speaker for the farewell ceremony of Departing International Students
Great Hall, City campus, Friday 30 November 2007

A very good afternoon to:
The Chancellor, Vice Chancellor, Faculty Deans, University Staff Members, Distinguished Guests, family and friends, and my dearest fellow students. It is such a privilege and a great honor for me to be here on behalf of all departing international students.

The time has flown quickly this year and a half and I’m sure all of you can still remember vividly your first day at UTS, like it just happened yesterday; the first time you stepped into the UTS tower building and looked around; all feelings were mixed in the one thought, scared but excited, glad but feeling homesick all the time, as you left your family and love ones behind.

For most of us, I believe the beginning of our studies at UTS was not easy. It is like a rose, which looks beautiful, but full of thorns. The main challenges facing us day by day are anxieties of the classroom environment, pressures of assignments, oral presentations, deadlines, exam periods, culture shock, and especially the confusing Australian accent. This combination may sound like a disaster, but then it turns out to be an unforgettable and rewarding experience that we would love to share with our family and friends back in our home countries.

It was at UTS, I experienced the diversity in the true sense. Personally, I have met and interacted with people from multicultural backgrounds, as during semester I lived at UTS Housing accommodation, Gumal Ngurang. Everyday I dealt with problems that I never encountered before, but all those experiences shaped me to become more accepting to all the differences. I think such experiences are extremely important to understand and to relate to people from different cultures, religion and ethnicity and it has truly enriched me from inside.

At UTS, I reinvented my self through transformations. Last year, as some of you may be aware, I was just a shy student who came here to study studiously at the wish of my parents. I was scared to engage in daily conversations because I was worried people would not understand what I was trying to say. In the first semester, group discussions and oral presentations were my nightmares as I have to participate actively in the conversation. But soon as I started getting involved in a social life with other students, I realized I was becoming a new person. I was more confident, energetic, and open-minded than before. UTS and its atmosphere taught essential lessons that could not be learned by reading a textbook. What I learned from UTS is to be more confident on what I had, dared to leave my comfort zone to explore my abilities and never stopped to learn through processes. I can still remember vividly one lecturer who really inspired me with his words. He said: “…do not think only about how high you can get but rather about how long is the road you have walked. How close you have to get to your potential. It is all about the process which makes you become more mature and better person than before”

Our stay at UTS is not “all study and no play”. Since UTS is located in the heart of Sydney CBD, it offers us the opportunity of savoring the sights and sounds during our leisure time. How can we forget sydney’s icons such as Darling Harbor, The Opera House, The Rock and Bondi Beach when we were all stuck with our assignments? I believe each of us will bring back all these memories and share it with our family and friends, perhaps one day we can come again to visit Sydney, particularly our beloved UTS.

My dear fellow students, as the saying goes “every start always has an ending”, so also with our current togetherness here. We are going to fold our memorable journey at UTS, and unfold the new phase of our lives in our home countries, all armed with what we have learned at UTS. We are ready to accept the responsibilities that face us as we shape our future. Today we are proud to be part of the UTS community, and I am sure UTS will be proud of what we have achieved and what we will achieve in the future.

As a student guest speaker, once again on behalf of all departing international students, I would like to extend my gratitude towards the Chancellor, Vice Chancellor, Faculty Deans, Lecturers, International Students Team, AusAid Liasion Officers and all university staff members, who have been so inspirational and encouraging during our short, but memorable stay at UTS. Not forgetting our family members and friends for taking time to be here with us to celebrate this joyful moment and also those who have contributed, in some way or another, to the success of this farewell ceremony.
Last but not least, I wish everyone present the best for their future and may The Almighty always be with us.

Congratulation, Omedeto, Felicitations, Gong Xi, Parabens, Cuk Meng, Badhai Ho, Selamat!!!

Well Done Everyone!!!!
Thank you!

Rabu, Juni 04, 2008

Pride & Prejudice

Merunut dari judul diatas, saya bukannya ingin bercerita tentang hubungan cinta unik antara Mr. Darcy dan Lizzy dalam film anyar Pride & Prejudice. Melainkan saya ingin share tentang kejadian lucu plus miris yang menimpa saya kemarin.

Ceritanya gini, saat saya berbelanja sepatu diMatahari MP, teman kantor saya Ulid menanyakan apa saya punya kartu MCC (Matahari Club Card) atau tidak. Seingat saya, duluuuuuuu.... sekali sebelum berangkat ke Oz saya punya, tapi karena sudah lebih dari dua tahun tidak digunakan, saya pikir pasti sudah expire keanggotaannya. Dengan asumsi itu, saya memutuskan untuk registrasi member baru. Kebetulan counter tuk pendaftaran MCC bersebelahan dengan tempat saya memilah-milah sepatu.

Dicounter itu ada dua orang staff Matahari, satu cowok dan satunya lagi cewek. Yang cowok sedang sibuk bertelepon ria, sedang yang cewek sedang mencatat sesuatu dalam notes.
Mbak, kalau mau register kartu MCC gimana caranya ya?” Saya bertanya. Dengan wajah yang kurang ramah (wajahnya tetap menunduk dan gak melihat ke saya) si mbak menjawab dengan suara yang kurang ramah pula ”Bayar 75 ribu.” Saya yang mendengar agak kaget, pertama karena info ttg pembayaran yg seingat saya dulu Free, kedua karena nada suara si mbak yang memang kurang bersahabat. Teman saya, Ulid lalu mengkonfirmasi ulang perkataan si mbak tadi, dengan bertanya ttg kartu MCC biasa. ”Ooo...belanjanya harus lebih dari 100 ribu baru bisa daftar!” kata si mbak Jutek ini. Saya yang mendengar jawaban itu langsung menuju kasir tuk membayar, sedang Ulid tetap didepan counter kartu MCC dan terdiam mengamati mbak jutek yang tetap sibuk sendiri dengan catatannya.
Selang lima menit kemudian saya kembali ke counter itu. Saya menyodorkan struk belanja sepatu yang sudah saya bayar ke si mbak jutek yg ada dibalik meja sambil berkata ”Mbak saya mo registrasi kartu MCC”. Dia mendongakkan kepala ke arah saya berkata ”pembelanjaannya harus di atas seratus ribu dulu baru bisa daftar”. ”Iya saya tahu, saya belanja lebih dari 100 ribu kok” Suara saya mulai agak sedikit tegas, karena sepertinya si mbak memandang saya gak mampu beli barang dari toko itu seharga 100 ribu keatas.

Saya mungkin bisa menebak apa alasan si mbak jutek ngomong gitu ke saya. Dibanding teman kantor saya Ulid, dandanan saya saat belanja itu emang biasa banget, celana jeans dipadu dengan jaket katun warna hitam yang biasa saya kenakan saat naik motor plus sendal kaki putih sebagai alas, bisa jadi membuat seseorang akan dipandang kurang mampu dari segi finansial jika dilihat sepintas saja. Yaah....mo gimana lagi, emang dandanan aya kalo lagi cuek emang kayak gitu, hehehe....

Kembali ke counter, si mbak jutek meminta KTP saya tuk validasi. Kebetulan saya lupa bawa KTP, jadi yang saya serahkan sebagai identitas adalah SIM. Saat kartu identitas sudah berpindah tangan, si mbak memandang saya secara seksama bergantian dengan foto manis saya yang ada diSIM. Mungkin sambil berpikir, apa benar ini orang yang sama, kok dandanan dalam foto dengan aslinya yang berdiri didepan saya ini beda ya?!. Dengan kening sedikit berkerut, dia menulis nama plus embel-embel keagamaan yg sebenarnya jarang sekali saya gunakan didepan nama. Setelah mengisi beberapa informasi dalam form, si mbak bertanya lagi, tapi kali ini suaranya mulai melunak. ”pendidikan terakhir”, saya jawab dengan suara lugas ”S2” sambil memperhatikan respon mbak Jutek. Si mbak yang rupanya tidak siap mendengarkan jawaban itu bertanya lagi ”Pekerjaan?”. ”Dosen”. Disambungnya lagi pertanyaannya ”Negeri?” sambil memajukan wajahnya beberapa senti ke arah saya. Saya yang sudah mengerti kemana arah pertanyaan si mbak yang sama sekali tidak menulis apapun didalam kertas sontak menjawab dengan nada tegas ”YA!UNHAS!” sambil menatap matanya langsung menandakan saya benar-benar serius dengan apa yang saya katakan. Mendengar jawaban saya yang terakhir, saya lihat roman muka staff wanita yang semula jutek ini otomatis langsung berubah manis, suaranyapun yang awalnya gak friendly banget tiba-tiba melunak, benar-benar berbeda, berubah 180 derajat. Teman saya Ulid, yang juga ternyata memperhatikan perubahan staff wanita itu, juga memvalidasi cerita ini pada saya setelah kami keluar dari toko tersebut. Saya hanya menagngguk-angguk tersenyum mendengarnya.

Bukan sekali dua kali perlakukan seperti ini terjadi karena penampilan saya yang gak ada sangat casual. ”Ners Aya gak ada mirip-miripnya dengan tipikal dosen, lebih mirip mahasiswa” begitu komentar beberapa mahasiswa yang pernah saya dengar. Pernah ada kejadian juga, tanpa memvalidasi siapa dan dalam rangka apa saya duduk disana, dua orang panitia sebuah seminar nasional keperawatan meminta (kasarnya siy.....NGUSIR) saya pindah dari kursi undangan & dosen karena mengira saya hanya mahasiswa biasa dan gak boleh duduk dijejeran kursi terpilih. Pada kesempatan itu juga saya tidak diperkenankan mengajukan pertanyaan ke panelis dalam tiga sesi berturut-turut oleh si moderator (padahal saya sudah berdiri dan mengajukan tangan setinggi-tingginya.....mungkin karena saya gak pake blazer kali yeee.....), sampai akhirnya saya maju sendiri merebut mike lalu membuka identitas bahwa saya adalah salah satu pengajar di universitas negeri dikota ini, barulah moderatornya diam bungkam seribu bahasa. Kadangkala saya kesal diperlakukan diskriminatif sprt itu, namun dibalik itu saya senang, karena saya bisa lihat yang mana orang-orang yang benar-benar tulus membantu atau ingin berteman dengan saya tanpa ada tendensi tertentu dibaliknya.

Saya sering bertanya-tanya kenapa sih masih banyak orang di negeri yang katanya adab sopan santunnya masih tinggi, ternyata masih menilai orang dari penampilan fisik dan atribut sosial semata. Ada kecenderungan fenomena sosial dalam masyarakat kita, pendidikan dan jabatan berbanding lurus dengan harga diri seseorang. Semakin tinggi status sosialnya, maka semakin bergeser pula nilai-nilai tawdhu yang ada dalam dirinya. Yang dulunya ramah pada siapa saja, kini berubah menjadi jaim (jaga image). Apalah gunanya dandan keren, mentereng, bertitel, jabatan tinggi dll kalo attitude serta aptitudenya minus?!
Saya pribadi dari dulu selalu berprinsip, walaupun pendidikan atau jabatan yang diamanhkan pada kita setinggi langit, gak mesti sikap atau karakter kita juga ikut-ikut melambung. Itu kan semacam ”ujian spesial” yang diberikan Allah kepada kita untuk melihat sejauh mana kita bisa memanage amanah tersebut untuk membantu meringankan beban orang lain, bukannya malah menekan orang lain atau meminta untuk diperlakukan istimewa seperti yang dilakukan beberapa pejabat yang gak tahu malu yang katanya membela nasib rakyat digedung DPR/MPR sana. Lha...kok ceritanya dah nyampe disana yak? Aaarghh....EGP sama beberapa bapak2 gak bermoral disana!!!! yang penting, inti dari apa yang pengen saya share kali ini. Setinggi apapun status yang melekat dalam diri kita, tetaplah jadi diri kita sendiri, tetap humble, tetap down to earth bak bulir padi, semakin berisi maka semakin merunduklah ia.

-I dedicate this to a great & humble person who i adore thoroughly; a dean of medical faculty-




Jumat, April 06, 2007

Kembalikan Tangan Ita, Pa...

Sepasang suami isteri, seperti pasangan lain di kota-kota besar-- meninggalkan anak-anak diasuh pembantu rumah saat bekerja. Anak tunggal keluarga ini, gadis kecil berusia 4,5 tahun, sendirian di rumah. Acapkali dia bermain, asyik dengan dunianya sendiri, diabaikannya pembantu yang juga sibuk membersihkan rumah. Bermainlah dia, berayun-ayun di atas buaian yang dibelikan papanya, ataupun memetik bunga, mengejar kupu-kupu, di halaman luas rumahnya, dengan pagar yang selalu terkunci rapat.

Suatu hari, dia melihat sebatang paku berkarat. Tertarik, dia pun mencoret lantai garasi. Tapi, karena lantainya terbuat dari marmer, coretan tidak kelihatan. Tak putus asa, coretan dia pindahkan ke mobil papanya, yang baru datang sebulan lalu, mobil mewah berwarna hitam metalik. Coretannya pun tampak jelas. Dia gembira, dengan tanpa lelah, dia tarik garis-garis putih sepanjang mobil itu, dan dia bayangkan, "papa akan senang, mama akan senang..."

Ia tahu, menjelang sore, papanya akan datang, dengan ibu, sehabis menghadiri undangan. Setelah penuh coretan sisi sebelah kanan, dia beralih ke sebelah kiri mobil. Dia gambar wajah papa dan mamanya, gambarnya sendiri, lukisan ayam, kucing dan lain sebagainya mengikut imajinasinya. Kejadian itu berlangsung tanpa disadari si pembantu rumah. Pulang petang itu, terkejut orang tua si anak ini, melihat mobil yang baru dibeli dengan kredit, sudah penuh cacat. Si bapak yang belum lagi masuk ke rumah ini pun terus menjerit, "Kerjaan siapa ini?!" Pembantu rumah yang tersentak dengan jeritan itu berlari keluar. Dia juga beristighfar. Wajahnya merah padam ketakutan saat melihat wajah bengis tuannya. Sekali lagi, dia mendengar pertanyaan itu, lebih keras, dan dengan gugup, dia menunduk, "Tidak tahu, Pak..." "Tak tahu?! Kamu di rumah sepanjang hari, apa saja yang kau lakukan?" hardik si isteri lagi.

Si anak yang mendengar suara papanya, datang tiba-tiba berlari keluar dari kamarnya. Dengan penuh manja dia berkata, "Ita yang membuat itu papa... cantik kan?!" katanya sambil memeluk papanya, ingin bermanja seperti biasa. Si bapak yang hilang kesabaran mengambil sebatang ranting kecil dari pohon bunga raya di depannya, terus dipukulkannya berkali-kali ke telapak tangan anaknya. Si anak yang tak mengerti apa-apa itu, melolong, kesakitan dan ketakutan. Puas memukul telapak tangan, si bapak memukul pula punggung tangan anaknya. Si ibu cuma mendiamkan, seolah merestui dan merasa puas dengan hukuman itu. Pembantu rumah terbengong, tidak tahu harus berbuat apa? Si bapak cukup rakus memukul-mukul tangan kanan dan kemudian tangan kiri anaknya.

Setelah si bapak masuk ke rumah dituruti si ibu, pembantu rumah menggendong anak kecil itu, membawanya ke kamar. Dilihatnya telapak tangan dan punggung tangan si anak, luka kecil dalam, berdarah. Pembantu rumah memandikan anak kecil itu. Sambil membersihkan luka-luka itu, dia ikut menangis. Anak kecil itu juga terjerit-jerit menahan kepedihan saat luka-lukanya itu terkena air. Si pembantu rumah kemudian menidurkan anak kecil itu di kamarnya. Si bapak, juga si ibu, seakan tak begitu perduli.

Keesokkan harinya, kedua-dua belah tangan si anak bengkak. Pembantu rumah mengadu pada majikannya. "Oleskan obat saja!" jawab tuannya. Pulang dari kerja, dia tidak bertanya lagi tetnang anaknya, yang biasa selalu menyambutnya dengan pelukan. Ia biarkan anaknya di kamar pembantu. Si bapak mungkin ingin mengajar anaknya. Tiga hari berlalu, tak pernah sekali pun dia menjenguk si anak. Si ibu pun sama, hanya sesekali bertanya kepada pembantu.

"Ita demam, Bu... " jawap pembantunya ringkas. "Kasih minum Panadol," jawab si ibu. Sebelum masuk kamar tidur dia menjenguk kamar pembantunya. Saat dia lihat Ita dalam pelukan pembantu rumah, dia menutup lagi pintu kamar pembantunya. "Biar Ita tahu dia telah melakukan kesalahan," bisiknya.

Masuk hari keempat, pembantu rumah memberitahukan tuannya bahwa suhu badan Ita terlalu panas. "Sore nanti kita bawa ke klinik. Pukul 5.00 tepat," kata majikannya itu, santai. Sore itu, Ita pun di bawa ke dokter. Tapi, dokter klinik langsung merujuk ke rumah sakit karena keadaan yang kian serius. Setelah seminggu di rawat inap, dokter memanggil bapak dan ibu anak itu. "Tidak ada pilihan lagi," katanya, dengan suara yang putus asa. Dokter mengusulkan agar kedua tangan anak itu diamputasi kerana gangren yang terjadi sudah terlalu parah. "Lukanya sudah bernanah, parah. Demi menyelamatkan nyawanya kedua tangannya perlu dipotong dari siku ke bawah," jelas dokter.

Si bapak dan ibu bagaikan terkena halilintar mendengar kata-kata itu. Terasa dunia berhenti berputar. Tapi apa yang dapat mereka katakan. Si ibu meraung merangkul si anak. Dengan berat hati dan lelehan air mata isterinya, si bapak seperti orang gila, menangis tersedan-sedan saat menandatangani surat persetujuan amputasi.

Keluar dari ruang operasi, selepas pengaruh obat bius, Ita menangis kesakitan. Dia heran melihat kedua tangannya berbalut kasa putih. Ditatapnya muka ayah dan ibunya. Kemudian ke wajah pembantu rumah. Dia mengerutkan dahi melihat mereka semua menangis. Dalam siksaan menahan sakit, si anak bersuara dalam linangan air mata. "Papa..., Mama... Ita tidak akan melakukannya lagi. Ita tak mau dipukul papa. Ita janji tak akan jahat lagi. Ita ayang Papa... sayang Mama," katanya berulang kali, membuat si ibu gagal menahan rasa sedihnya. "Ita juga sayang Kak Narti..." katanya memandang wajah pembantu rumah, sekaligus membuatkan gadis dari Surabaya itu meraung histeris. "Tapi Pa...tolong balikan tangan Ita. Untuk apa Papa ambil juga... kan tangan Ita sudah papa pukul, kenapa diambil...? Ita janji tidak akan mengulanginya lagi! Bagaimana nanti kalau Ita mau makan? Bagaimana kalau Ita mau main? Ita janji tidak akan mencoret mobil papa lagi. Ita janji..." katanya berulang-ulang diringi isak tangisnya yang terdengar pilu. Serasa copot jantung si ibu mendengar kata-kata anaknya. Meraung dia, merangkul Ita. Sementara si Bapak, hanya bisa diam, memandangi tangan anaknya, dengan air mata yang jatuh tak putus-putusnya.
(Based on true story from Malaysia)

Source :www.suaramerdeka.com
Aya :Tegakah kita merampas kebahagiaan malaikat kecil ini hanya karena ego sesaat yang berbuntut penyesalan seumur hidup (sedih bacanya, hiks......)

Jumat, Januari 05, 2007

Cinta laki-laki biasa

Menjelang hari H, Nania masih saja sulit mengungkapkan alasan kenapa dia mau menikah dengan lelaki itu. Baru setelah menengok ke belakang, hari-hari yang dilalui, gadis cantik itu sadar, keheranan yang terjadi bukan semata miliknya, melainkan menjadi milik banyak orang; Papa dan Mama, kakak-kakak, tetangga, dan teman-teman Nania. Mereka ternyata sama herannya.
"Kenapa?" Tanya mereka di hari Nania mengantarkan surat undangan. Saat itu teman-teman baik Nania sedang duduk di kantin menikmati hari-hari sidang yang baru saja berlalu. Suasana sore di kampus sepi. Berpasang-pasang mata tertuju pada gadis itu. Tiba-tiba saja pipi Nania bersemu merah, lalu matanya berpijar bagaikan lampu neon limabelas watt. Hatinya sibuk merangkai kata-kata yg barangkali beterbangan di otak melebihi kapasitas. Mulut Nania terbuka. Semua menunggu. Tapi tak ada apapun yang keluar dari sana . Ia hanya menarik nafas, mencoba bicara dan? menyadari, dia tak punya kata-kata!

Dulu gadis berwajah indo itu mengira punya banyak jawaban, alasan detil dan spesifik, kenapa bersedia menikah dengan laki-laki itu. Tapi kejadian di kampus adalah kali kedua Nania yang pintar berbicara mendadak gagap. Yang pertama terjadi tiga bulan lalu saat Nania menyampaikan keinginan Rafli untuk melamarnya. Arisan keluarga Nania dianggap momen yang tepat karena semua berkumpul, bahkan hingga generasi ketiga, sebab kakak-kakaknya yang sudah berkeluarga membawa serta buntut mereka.

"Kamu pasti bercanda!" Nania kaget. Tapi melihat senyum yang tersungging di wajah kakak tertua, disusul senyum serupa dari kakak nomor dua, tiga, dan terakhir dari Papa dan Mama membuat Nania menyimpulkan: mereka serius ketika mengira Nania bercanda. Suasana sekonyong-konyong hening. Bahkan keponakan-keponakan Nania yang balita melongo dengan gigi-gigi mereka yang ompong. Semua menatap Nania! "Nania serius!" tegasnya sambil menebak-nebak, apa lucunya jika Rafli memang melamarnya. "Tidak ada yang lucu", suara Papa tegas, "Papa hanya tidak mengira Rafli berani melamar anak Papa yang paling cantik!" Nania tersenyum. Sedikit lega karena kalimat Papa barusan adalah pertanda baik. Perkiraan Nania tidak sepenuhnya benar sebab setelah itu berpasang-pasang mata kembali menghujaninya, seperti tatapan mata penuh selidik seisi ruang pengadilan pada tertuduh yang duduk layaknya pesakitan. "Tapi Nania tidak serius dengan Rafli, kan ?" Mama mengambil inisiatif bicara, masih seperti biasa dengan nada penuh wibawa, "maksud Mama siapa saja boleh datang melamar siapapun, tapi jawabannya tidak harus iya, toh?" Nania terkesima. Kenapa? kejar Nania. "Sebab kamu gadis Papa yang paling cantik. Sebab kamu paling berprestasi dibandingkan kami. Mulai dari ajang busana, sampai lomba beladiri. Kamu juga juara debat bahasa Inggris, juara baca puisi seprovinsi. Suaramu bagus! Sebab masa depanmu cerah. Sebentar lagi kamu meraih gelar insinyur. Bakatmu yang lain pun luar biasa. Nania sayang, kamu bisa mendapatkan laki-laki manapun yang kamu mau!" Nania memandangi mereka, orang-orang yang amat dia kasihi, Papa, kakak-kakak, dan terakhir Mama. Takjub dengan rentetan panjang uraian mereka atau satu kata 'kenapa' yang barusan Nania lontarkan.

"Nania Cuma mau Rafli", sahutnya pendek dengan airmata mengambang di kelopak. Hari itu dia tahu, keluarganya bukan sekadar tidak suka, melainkan sangat tidak menyukai Rafli. Ketidaksukaan yang mencapai stadium empat. Parah. Tapi kenapa? Sebab Rafli cuma laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yg amat sangat biasa. Bergantian tiga saudara tua Nania mencoba membuka matanya. Tak ada yang bisa dilihat pada dia, Nania! "Cukup!" Nania menjadi marah. Tidak pada tempatnya ukuran-ukuran duniawi menjadi parameter kebaikan seseorang menjadi manusia. Di mana iman, di mana tawakkal hingga begitu mudah menentukan masa depan seseorang dengan melihat pencapaiannya hari ini? Sayangnya Nania lagi-lagi gagal membuka mulut dan membela Rafli. Barangkali karena Nania memang tidak tahu bagaimana harus membelanya. Gadis itu tak punya fakta dan data konkret yang bisa membuat Rafli tampak 'luar biasa'. Nania Cuma punya idealisme berdasarkan perasaan yang telah menuntun Nania menapaki hidup hingga umur duapuluh tiga. Dan nalurinya menerima Rafli. Di sampingnya Nania bahagia. Mereka akhirnya menikah.

Setahun pernikahan. Orang-orang masih sering menanyakan hal itu, masih sering berbisik-bisik di belakang Nania, apa sebenarnya yang dia lihat dari Rafli. Jeleknya, Nania masih belum mampu juga menjelaskan kelebihan-kelebihan Rafli agar tampak di mata mereka. Nania hanya merasakan cinta begitu besar dari Rafli, begitu besar hingga Nania bisa merasakannya hanya dari sentuhan tangan, tatapan mata, atau cara dia meladeni Nania. Hal-hal sederhana yang membuat perempuan itu sangat bahagia. "Tidak ada lelaki yang bisa mencintai sebesar cinta Rafli pada Nania". Nada suara Nania tegas, mantap, tanpa keraguan. Ketiga saudara Nania hanya memandang lekat, mata mereka terlihat tak percaya. "Nia, siapapun akan mudah mencintai gadis secantikmu! Kamu adik kami yang tak hanya cantik, tapi juga pintar! Betul. Kamu adik kami yang cantik, pintar, dan punya kehidupan sukses!" Nania merasa lidahnya kelu. Hatinya siap memprotes. Dan kali ini dilakukannya sungguh-sungguh. Mereka tak boleh meremehkan Rafli. Beberapa lama keempat adik dan kakak itu beradu argumen. "Tapi Rafli juga tidak jelek, Kak!" Betul. "Tapi dia juga tidak ganteng kan ?" Rafli juga pintar! Tidak sepintarmu, Nania. Rafli juga sukses, pekerjaannya lumayan. Hanya lumayan, Nania. Bukan sukses. Tidak sepertimu.

Seolah tak ada apapun yang bisa meyakinkan kakak-kakaknya, bahwa adik mereka beruntung mendapatkan suami seperti Rafli. Lagi-lagi percuma. Lihat hidupmu, Nania. Lalu lihat Rafli! Kamu sukses, mapan, kamu bahkan tidak perlu lelaki untuk menghidupimu. Teganya kakak-kakak Nania mengatakan itu semua. Padahal adik mereka sudah menikah dan sebentar lagi punya anak.

Ketika lima tahun pernikahan berlalu, ocehan itu tak juga berhenti. Padahal Nania dan Rafli sudah memiliki dua orang anak, satu lelaki dan satu perempuan. Keduanya menggemaskan. Rafli bekerja lebih rajin setelah mereka memiliki anak-anak. Padahal itu tidak perlu sebab gaji Nania lebih dari cukup untuk hidup senang. Tak apa, kata lelaki itu, ketika Nania memintanya untuk tidak terlalu memforsir diri. Gaji Nania cukup, maksud Nania jika digabungkan dengan gaji Abang. Nania tak bermaksud menyinggung hati lelaki itu. Tapi dia tak perlu khawatir sebab suaminya yang berjiwa besar selalu bisa menangkap hanya maksud baik.. Sebaiknya Nania tabungkan saja, untuk jaga-jaga. Ya? Lalu dia mengelus pipi Nania dan mendaratkan kecupan lembut. Saat itu sesuatu seperti kejutan listrik menyentakkan otak dan membuat pikiran Nania cerah. Inilah hidup yang diimpikan banyak orang. Bahagia!

Pertanyaan kenapa dia menikahi laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yang amat sangat biasa, tak lagi mengusik perasaan Nania. Sebab ketika bahagia, alasan-alasan menjadi tidak penting. Menginjak tahun ketujuh pernikahan, posisi Nania di kantor semakin gemilang, uang mengalir begitu mudah, rumah Nania besar, anak-anak pintar dan lucu, dan Nania memiliki suami terbaik di dunia. Hidup perempuan itu berada di puncak! Bisik-bisik masih terdengar, setiap Nania dan Rafli melintas dan bergandengan mesra. Bisik orang-orang di kantor, bisik tetangga kanan dan kiri, bisik saudara-saudara Nania, bisik Papa dan Mama. Sungguh beruntung suaminya. Istrinya cantik. Cantik ya? dan kaya! Tak imbang! Dulu bisik-bisik itu membuatnya frustrasi. Sekarang pun masih, tapi Nania belajar untuk bersikap cuek tidak peduli. Toh dia hidup dengan perasaan bahagia yang kian membukit dari hari ke hari.

Tahun kesepuluh pernikahan, hidup Nania masih belum bergeser dari puncak. Anak-anak semakin besar. Nania mengandung yang ketiga. Selama kurun waktu itu, tak sekalipun Rafli melukai hati Nania, atau membuat Nania menangis.

Bayi yang dikandung Nania tidak juga mau keluar. Sudah lewat dua minggu dari waktunya. Plasenta kamu sudah berbintik-bintik. Sudah tua, Nania. Harus segera dikeluarkan! Mula-mula dokter kandungan langganan Nania memasukkan sejenis obat ke dalam rahim Nania. Obat itu akan menimbulkan kontraksi hebat hingga perempuan itu merasakan sakit yang teramat sangat. Jika semuanya normal, hanya dalam hitungan jam, mereka akan segera melihat si kecil. Rafli tidak beranjak dari sisi tempat tidur Nania di rumah sakit. Hanya waktu-waktu shalat lelaki itu meninggalkannya sebentar ke kamar mandi, dan menunaikan shalat di sisi tempat tidur. Sementara kakak-kakak serta orangtua Nania belum satu pun yang datang. Anehnya, meski obat kedua sudah dimasukkan, delapan jam setelah obat pertama, Nania tak menunjukkan tanda-tanda akan melahirkan. Rasa sakit dan melilit sudah dirasakan Nania per lima menit, lalu tiga menit. Tapi pembukaan berjalan lambat sekali. Baru pembukaan satu. "Belum ada perubahan, Bu. Sudah bertambah sedikit", kata seorang suster empat jam kemudian menyemaikan harapan. Sekarang pembukaan satu lebih sedikit. Nania dan Rafli berpandangan. Mereka sepakat suster terakhir yang memeriksa memiliki sense of humor yang tinggi. Tigapuluh jam berlalu. Nania baru pembukaan dua. Ketika pembukaan pecah, didahului keluarnya darah, mereka terlonjak bahagia sebab dulu-dulu kelahiran akan mengikuti setelah ketuban pecah. Perkiraan mereka meleset. Masih pembukaan dua, Pak! Rafli tercengang. Cemas. Nania tak bisa menghibur karena rasa sakit yang sudah tak sanggup lagi ditanggungnya. Kondisi perempuan itu makin payah. Sejak pagi tak sesuap nasi pun bisa ditelannya. Bang? Rafli termangu. Iba hatinya melihat sang istri memperjuangkan dua kehidupan. Dokter? Kita operasi, Nia. Bayinya mungkin terlilit tali pusar.Mungkin? Rafli dan Nania berpandangan. Kenapa tidak dari tadi kalau begitu? Bagaimana jika terlambat? Mereka berpandangan, Nania berusaha mengusir kekhawatiran. Ia senang karena Rafli tidak melepaskan genggaman tangannya hingga ke pintu kamar operasi. Ia tak suka merasa sendiri lebih awal.

Pembiusan dilakukan, Nania digiring ke ruangan serba putih. Sebuah sekat ditaruh di perutnya hingga dia tidak bisa menyaksikan ketrampilan dokter-dokter itu. Sebuah lagu dimainkan. Nania merasa berada dalam perahu yang diguncang ombak. Berayun-ayun. Kesadarannya naik-turun. Terakhir, telinga perempuan itu sempat menangkap teriakan-teriakan di sekitarnya, dan langkah-langkah cepat yang bergerak, sebelum kemudian dia tak sadarkan diri. Kepanikan ada di udara. Bahkan dari luar Rafli bisa menciumnya. Bibir lelaki itu tak berhenti melafalkan zikir. Seorang dokter keluar, Rafli dan keluarga Nania mendekat. Pendarahan hebat! Rafli membayangkan sebuah sumber air yang meluap, berwarna merah. Ada varises di mulut rahim yang tidak terdeteksi dan entah bagaimana pecah! Bayi mereka selamat, tapi Nania dalam kondisi kritis. Mama Nania yang baru tiba, menangis. Papa termangu lama sekali. Saudara-saudara Nania menyimpan isak, sambil menenangkan orangtua mereka. Rafli seperti berada dalam atmosfer yang berbeda. Lelaki itu tercenung beberapa saat, ada rasa cemas yang mengalir di pembuluh-pembuluh darahnya dan tak bisa dihentikan, menyebar dan meluas cepat seperti kanker. Setelah itu adalah hari-hari penuh doa bagi Nania.

Sudah seminggu lebih Nania koma. Selama itu Rafli bolak-balik dari kediamannya ke rumah sakit. Ia harus membagi perhatian bagi Nania dan juga anak-anak. Terutama anggota keluarganya yang baru, si kecil. Bayi itu sungguh menakjubkan, fisiknya sangat kuat, juga daya hisapnya. Tidak sampai empat hari, mereka sudah oleh membawanya pulang. Mama, Papa, dan ketiga saudara Nania terkadang ikut menunggui Nania di rumah sakit, sesekali mereka ke rumah dan melihat perkembangan si kecil. Walau tak banyak, mulai terjadi percakapan antara pihak keluarga Nania dengan Rafli. Lelaki itu sungguh luar biasa. Ia nyaris tak pernah meninggalkan rumah sakit, kecuali untuk melihat anak-anak di rumah. Syukurnya pihak perusahaan tempat Rafli bekerja mengerti dan memberikan izin penuh. Toh, dedikasi Rafli terhadap kantor tidak perlu diragukan. Begitulah Rafli menjaga Nania siang dan malam. Dibawanya sebuah Quran kecil, dibacakannya dekat telinga Nania yang terbaring di ruang ICU. Kadang perawat dan pengunjung lain yang kebetulan menjenguk sanak famili mereka, melihat lelaki dengan penampilan sederhana itu bercakap-cakap dan bercanda mesra..

Rafli percaya meskipun tidak mendengar, Nania bisa merasakan kehadirannya. Nania, bangun, Cinta? Kata-kata itu dibisikkannya berulang-ulang sambil mencium tangan, pipi dan kening istrinya yang cantik.

Ketika sepuluh hari berlalu, dan pihak keluarga mulai pesimis dan berfikir untuk pasrah, Rafli masih berjuang. Datang setiap hari ke rumah sakit, mengaji dekat Nania sambil menggenggam tangan istrinya mesra. Kadang lelaki itu membawakan buku-buku kesukaan Nania ke rumah sakit dan membacanya dengan suara pelan. Memberikan tambahan di bagian ini dan itu. Sambil tak bosan-bosannya berbisik, Nania, bangun, Cinta? Malam-malam penantian dilewatkan Rafli dalam sujud dan permohonan. Asalkan Nania sadar, yang lain tak jadi soal. Asalkan dia bisa melihat lagi cahaya di mata kekasihnya, senyum di bibir Nania, semua yang menjadi sumber semangat bagi orang-orang di sekitarnya, bagi Rafli.Rumah mereka tak sama tanpa kehadiran Nania. Anak-anak merindukan ibunya. Di luar itu Rafli tak memedulikan yang lain, tidak wajahnya yang lama tak bercukur, atau badannya yang semakin kurus akibat sering lupa makan. Ia ingin melihat Nania lagi dan semua antusias perempuan itu di mata, gerak bibir, kernyitan kening, serta gerakan-gerakan kecil lain di wajahnya yang cantik. Nania sudah tidur terlalu lama.

Pada hari ketigapuluh tujuh doa Rafli terjawab. Nania sadar dan wajah penat Rafli adalah yang pertama ditangkap matanya. Seakan telah begitu lama. Rafli menangis, menggenggam tangan Nania dan mendekapkannya ke dadanya, mengucapkan syukur berulang-ulang dengan airmata yang meleleh. Asalkan Nania sadar, semua tak penting lagi.

Rafli membuktikan kata-kata yang diucapkannya beratus kali dalam doa. Lelaki biasa itu tak pernah lelah merawat Nania selama sebelas tahun terakhir. Memandikan dan menyuapi Nania, lalu mengantar anak-anak ke sekolah satu per satu. Setiap sore setelah pulang kantor, lelaki itu cepat-cepat menuju rumah dan menggendong Nania ke teras, melihat senja datang sambil memangku Nania seperti remaja belasan tahun yang sedang jatuh cinta. Ketika malam Rafli mendandani Nania agar cantik sebelum tidur. Membersihkan wajah pucat perempuan cantik itu, memakaikannya gaun tidur. Ia ingin Nania selalu merasa cantik. Meski seringkali Nania mengatakan itu tak perlu. Bagaimana bisa merasa cantik dalam keadaan lumpuh? Tapi Rafli dengan upayanya yang terus-menerus dan tak kenal lelah selalu meyakinkan Nania, membuatnya pelan-pelan percaya bahwa dialah perempuan paling cantik dan sempurna di dunia. Setidaknya di mata Rafli. Setiap hari Minggu Rafli mengajak mereka sekeluarga jalan-jalan keluar. Selama itu pula dia selalu menyertakan Nania. Belanja, makan di restoran, nonton bioskop, rekreasi ke manapun Nania harus ikut. Anak-anak, seperti juga Rafli, melakukan hal yang sama, selalu melibatkan Nania. Begitu bertahun-tahun. Awalnya tentu Nania sempat merasa risih dengan pandangan orang-orang di sekitarnya. Mereka semua yang menatapnya iba, lebih-lebih pada Rafli yang berkeringat mendorong kursi roda Nania ke sana kemari. Masih dengan senyum hangat di antara wajahnya yang bermanik keringat. Lalu berangsur Nania menyadari, mereka, orang-orang yang ditemuinya di jalan, juga tetangga-tetangga, sahabat, dan teman-teman Nania tak puas hanya memberi pandangan iba, namun juga mengomentari, mengoceh, semua berbisik-bisik. Baik banget suaminya! Lelaki lain mungkin sudah cari perempuan kedua! Nania beruntung! Ya, memiliki seseorang yang menerima dia apa adanya. Tidak, tidak cuma menerima apa adanya, kalian lihat bagaimana suaminya memandang penuh cinta. Sedikit pun tak pernah bermuka masam! Bisik-bisik serupa juga lahir dari kakaknya yang tiga orang, Papa dan Mama. Bisik-bisik yang serupa dengungan dan sempat membuat Nania makin frustrasi, merasa tak berani, merasa? Tapi dia salah. Sangat salah. Nania menyadari itu kemudian. Orang-orang di luar mereka memang tetap berbisik-bisik, barangkali selamanya akan selalu begitu. Hanya saja, bukankah bisik-bisik itu kini berbeda bunyi? Dari teras Nania menyaksikan anak-anaknya bermain basket dengan ayah mereka.. Sesekali perempuan itu ikut tergelak melihat kocak permainan.

Ya. Duapuluh dua tahun pernikahan. Nania menghitung-hitung semua, anak-anak yang beranjak dewasa, rumah besar yang mereka tempati, kehidupan yang lebih dari yang bisa dia syukuri. Meski tubuhnya tak berfungsi sempurna. Meski kecantikannya tak lagi sama karena usia, meski karir telah direbut takdir dari tangannya. Waktu telah membuktikan segalanya. Cinta luar biasa dari laki-laki biasa yang tak pernah berubah, untuk Nania.

-Author : Asma Nadia-

Selasa, November 28, 2006

I Cried for my brother six times

(My beloved younger Sisters, Ika & Ria on Ria's wedding, 23/03/06)

Aku dilahirkan di sebuah dusun pegunungan yang sangat terpencil.
Sehari-hari, orang tuaku membajak tanah kering kuning, dan punggung mereka menjadi gosong karena setiap hari menghadap ke langit.

Aku mempunyai seorang adik, tiga tahun lebih muda dariku. Suatu ketika, untuk membeli sebuah mainan yang mana semua orang disekelilingku kelihatannya membawanya, Aku mencuri lima puluh sen dari laci ayahku. Ayah segera menyadarinya. Beliau membuat adikku dan aku berlutut di depan tembok, dengan sebuah tongkat bambu di tangannya.

"Siapa yang mencuri uang limapuluh sen itu?" Beliau bertanya. Aku terpaku, terlalu takut untuk berbicara. Ayah tidak mendengar siapapun mengaku, jadi Beliau mengatakan, "Baiklah, kalau begitu, kalian berdua layak untuk dipukul!" Dia mengangkat tongkat bambu itu tingi-tinggi. Tiba-tiba, adikku mencengkeram tangannya dan berkata, "Ayah, aku yang melakukannya!"Tongkat panjang itu menghantam punggung adikku bertubi-tubi.

Ayah begitu marahnya sehingga ia terus menerus mencambukinya sampai Beliau kehabisan nafas. Sesudahnya, Beliau duduk di atas ranjang batu bata kami dan memarahi,"Kamu sudah belajar mencuri dari rumah sekarang, hal memalukan apa lagi yang akan kamu lakukan di masa mendatang? ... Kamu layak dipukul sampai mati! Kamu pencuritidak tahu malu!

"Malam itu, ibu dan aku memeluk adikku dalam pelukan kami. Tubuhnyapenuh dengan luka, tetapi ia tidak menitikkan air mata setetes pun. Di pertengahan malam itu, aku tiba-tiba mulai menangis meraung-raung. Adikku menutup mulutku dengan tangan kecilnya dan berkata, "Kak, jangan menangis lagi sekarang. Semuanya sudah terjadi.

"Aku masih selalu membenci diriku karena tidak memiliki cukup keberanian untuk maju mengaku. Bertahun-tahun telah lewat, tapi insiden tersebut masih kelihatan seperti baru kemarin terjadi. Aku tidak pernah akan lupa tampang adikku ketika ia melindungiku. Waktu itu, adikku berusia 8 tahun. Aku berusia 11.

Ketika adikku berada pada tahun terakhirnya di SMP, ia lulus untukmasuk ke SMA di pusat kabupaten. Pada saat yang sama, aku juga diterima untuk masuk kesebuah universitas propinsi. Malam itu, ayah berjongkok di halaman, menghisap rokok tembakaunya, bungkus demi bungkus. Aku mendengarnya memberengut,"Kedua anak kita memberikan hasil yang begitu baik...hasil yang begitu baik..."Ibu mengusap air matanya yang mengalir dan menghela nafas, "Apa gunanya? Bagaimana mungkin kita bisa membiayai keduanya sekaligus?"

Saat itu juga, adikku berjalan keluar ke hadapan ayah dan berkata,"Ayah, aku tidak mau melanjutkan sekolah lagi, telah cukup membaca banyak buku." Ayah mengayunkan tangannya dan memukul adikku pada wajahnya. "Mengapa kau mempunya jiwa yang begitu keparat dan lemahnya? Bahkan jika berarti aku mesti mengemis dijalanan aku akan menyekolahkan kamu berdua sampai selesai!" Dan begitu kemudian ia mengetuk setiap rumah di dusun itu untuk meminjam uang. Aku menjulurkan tanganku selembut yang aku bisa ke muka adikku yang membengkak, dan berkata,"Seorang anak laki-laki harus meneruskan sekolahnya; kalau tidak ia tidak akan pernah meninggalkan jurang kemiskinan ini." Aku, sebaliknya, telah memutuskanuntuk tidak lagi meneruskan ke universitas. Siapa sangka keesokan harinya, sebelum subuh datang, adikku meninggalkan rumah dengan beberapa helai pakaian lusuh dan sedikit kacang yang sudah mengering. Dia menyelinap ke samping ranjangku dan meninggalkan secarik kertas di atas bantalku: "Kak, masuk ke universitas tidaklah mudah. Aku akan pergi mencari kerja dan mengirimimu uang."Aku memegang kertas tersebut di atas tempat tidurku, dan menangis dengan airmata bercucuran sampai suaraku hilang. Tahun itu, adikku berusia 17 tahun. Aku20.

Dengan uang yang ayahku pinjam dari seluruh dusun, dan uang yang adikku hasilkan dari mengangkut semen pada punggungnya di lokasi konstruksi, aku akhirnya sampai ke tahun ketiga (di universitas). Suatu hari, aku sedang belajar di kamarku, ketika teman sekamarku masuk dan memberitahukan, "Ada seorang penduduk dusun menunggumu di luar sana! "Mengapa ada seorang penduduk dusun mencariku? Aku berjalan keluar, dan melihat adikku dari jauh, seluruh badannya kotor tertutup debu semen dan pasir. Aku menanyakannya, "Mengapa kamu tidak bilang pada teman sekamarku kamu adalah adikku?" Dia menjawab, tersenyum, "Lihat bagaimana penampilanku. Apa yang akan mereka pikir jika mereka tahu aku adalah adikmu? Apa mereka tidak akan menertawakanmu?"Aku merasa terenyuh, dan air mata memenuhi mataku. Aku menyapu debu-debu dari adikku semuanya, dan tersekat-sekat dalam kata-kataku, "Aku tidak perduli omongan siapa pun! Kamu adalah adikku apa pun juga! Kamu adalah adikku bagaimanapun penampilanmu..."Dari sakunya, ia mengeluarkan sebuah dasi. Ia memakaikannya kepadaku, dan terus menjelaskan, "Aku melihat semua pria kota memakainya. Jadi aku pikir kamu juga harus memiliki satu." Aku tidak dapat menahan diri lebih lama lagi. Aku menarik adikku ke dalam pelukanku dan menangis dan menangis. Tahun itu, ia berusia 20, aku 23.

Kali pertama aku membawa pacarku ke rumah, kaca jendela yang pecah telah diganti, dan kelihatan bersih di mana-mana. Setelah pacarku pulang, aku sepertianak kecil di depan ibuku. "Bu, ibu tidak perlu menghabiskan begitu banyak waktu untuk membersihkan rumah kita!" Tetapi katanya, sambil tersenyum, "Itu adalah ulah adikmu yang pulang awal untuk membersihkan rumah ini. Tidakkah kamu melihat luka pada tangannya? Ia terluka ketika memasang kaca jendela baru itu.."Aku masuk ke dalam ruangan kecil adikku. Melihat mukanya yang kurus, seratus jarum terasa menusukku. Aku mengoleskan sedikit salep pada lukanya dan mebalut lukanya. "Apakah itu sakit?" Aku menanyakannya. "Tidak, tidak sakit. Kamu tahu, ketika aku bekerja di lokasi konstruksi, batu-batu berjatuhan mengenai kakiku setiap waktu. Bahkan itu tidak menghentikanku bekerja dan..."Ditengah kalimat itu ia berhenti. Aku membalikkan tubuhkumemunggunginya, dan air mata mengalir deras turun ke wajahku. Tahun itu, adikku 23. Aku berusia 26.

Ketika aku menikah, aku tinggal di kota. Banyak kali istriku dan aku mengundang orang tuaku untuk datang dan tinggal bersama kami, tetapi mereka tidakpernah mau. Mereka mengatakan, sekali meninggalkan dusun, mereka tidak akan tahu harus mengerjakan apa. Adikku tidak setuju juga, mengatakan, "Kak, jagalah mertuamu saja. Aku akan menjaga ibu dan ayah di sini. "Istriku menjadi direktur pabriknya. Kami menginginkan adikku mendapatkan pekerjaan sebagai manajer pada departemen pemeliharaan. Tetapi adikku menolak tawaran tersebut. Ia bersikeras memulai bekerja sebagai pekerja reparasi. Suatu hari, adikku diatas sebuah tangga untuk memperbaiki sebuah kabel, ketikaia mendapat sengatan listrik, dan masuk rumah sakit. Istriku dan aku pergi menjenguknya. Melihat gips putih pada kakinya, aku menggerutu, "Mengapa kamu menolak menjadi manajer? Manajer tidak akan pernah harus melakukan sesuatu yang berbahaya seperti ini. Lihat kamu sekarang, luka yang begitu serius. Mengapa kamu tidak mau mendengar kami sebelumnya?"Dengan tampang yang serius pada wajahnya, ia membela keputusannya. "Pikirkan kakak ipar--ia baru saja jadi direktur, dan aku hampir tidak berpendidikan. Jika aku menjadi manajer seperti itu, berita seperti apa yang akan tersebar? "Mata istriku dipenuhi air mata, dan kemudian keluar kata-kataku yang sepatah-sepatah: "Tapi kamu kurang pendidikan juga karena aku!". "Mengapa membicarakan masa lalu?" Adikku menggenggam tanganku. Tahun itu, ia berusia 26 dan aku 29.

Adikku kemudian berusia 30 ketika ia menikahi seorang gadis petani dari dusun kami. Dalam acara pernikahannya, pembawa acara perayaan itu bertanya kepadanya,"Siapa yang paling kamu hormati dan kasihi?" Tanpa bahkan berpikir ia menjawab,"Kakakku."Ia melanjutkan dengan menceritakan kembali sebuahkisah yang bahkan tidak dapat kuingat. "Ketika aku pergi sekolah SD, ia berada pada dusun yang berbeda. Setiap hari kakak dan aku harus berjalan selama dua jam untuk pergi ke sekolah dan pulang ke rumah. Suatu hari, aku kehilangan satu dari sarung tangaku. Kakakku memberikan satu dari kepunyaannya. Ia hanya memakai satu saja dan berjalan sejauh itu. Ketika kami tiba di rumah, tangannya begitu gemetaran karena cuaca yang sangat dingin sampai ia tidak dapat menyuap nasi kemulutnya. Sejak hari itu, aku bersumpah, selama aku masih hidup, aku akan membalas semua kebaikannya yang tak terkira sampai ajal jugalah yang menghentikan nafasku.

Kini giliranku ditanya oleh pembawa acara, siapakah orang yang paling kucintai dan kukasihi. Semua tamu memalingkan perhatiannya kepadaku. Kata-kata begitu susah kuucapkan keluar bibirku,"Dalam hidupku, orang yang paling aku cintai adalah adikku."Dan dalam kesempatan yang paling berbahagia ini, di depan kerumunan perayaan ini, air mata bercucuran tak henti-henti turun dari wajahku seperti sungai yang tak mampu dibendung.
Author : Unknown

Mother's Love

Suatu hari ibu mengajakku untuk berbelanja bersamanya karena beliau membutuhkan sebuah gaun baru. Aku sebenarnya tidak suka pergi berbelanja bersama dengan orang lain meskipun dengan ibu sendiri, dan aku bukanlah orang yang sabaran, tetapi walaupun demikian aku berangkat juga ke pusat perbelanjaan menemani belaiu.
Kami mengunjungi setiap toko yang menyediakan gaun wanita, dan ibu mencoba gaun demi gaun dan mengembalikan semuanya. Seiring hari yang beranjak sore, aku mulai lelah dan ibu pun kelihatan mulai frustasi. Akhirnya pada toko terakhir yang kami kunjungi, ibu mencoba satu stel gaun biru yang cantik terdiri dari tiga helai. Pada blusnya terdapat sejenis tali di bagian tepi lehernya, dan karena ketidaksabaranku, maka untuk kali ini aku ikut masuk dan berdiri bersama ibu dalam ruang ganti pakaian. Aku melihat bagaimana ia mencoba pakaian tersebut, dan dengan susah payah mencoba untuk mengikat talinya.
Ternyata, tangan-tangannya sudah mulai dilumpuhkan oleh penyakit radang sendi dan sebab itu belaiu tidak dapat melakukannya sendiri, seketika ketidaksabaranku digantikan oleh suatu rasa kasihan yang dalam kepada beliau. Aku berbalik keluar dari ruang ganti dan mencoba menyembunyikan air mata yang keluar tanpa kusadari. Setelah aku mendapatkan ketenanganku lagi, aku kembali masuk ke kamar ganti untuk mengikatkan tali gaun tersebut. Pakaian ini begitu indah,dan akhirnya beliaupun jadi membelinya.
Perjalanan belanja kami telah berakhir, tetapi kejadian tersebut terukir dan tidak dapat terlupakan dari ingatanku begitu saja. Sepanjang sisa hari itu, pikiranku tetap saja kembali pada saat berada di dalam ruang ganti pakaian tersebut dan terbayang tangan ibu yang sedang berusaha mengikat tali blusnya. Kedua tangan yang penuh dengan kasih, yang pernah menyuapi, memandikan, memakaikan baju, membelai rambutku dan memelukku, dan terlebih dari semuanya, berdoa untukku tanpa henti, sekarang tangan itu telah menyentuh hatiku dengan cara yang paling membekas dalam sanubariku.
Kemudian pada malam harinya, aku pergi ke kamar beliau, mengambil tangannya, menciumnya ... dan yang membuat beliau terkejut, aku memberitahukannya bahwa bagiku kedua tangan tersebut adalah tangan yang paling indah di dunia ini. Aku sangat bersyukur bahwa Allah telah menganugerahiku dengan mata penglihatan yang baru, betapa bernilai dan berharganya kasih sayang yang penuh pengorbanan dari seorang ibu. Aku hanya dapat berdoa bahwa suatu hari kelak tanganku dan juga hatiku pun akan memiliki keindahannya tersendiri. Dunia ini memiliki banyak keajaiban, segala ciptaan Allah yang begitu agung, tetapi tak satu pun yang dapat menandingi keindahan tangan Ibu...
I love you mom.....
(author : unknown)