Jumat, April 06, 2007

Kembalikan Tangan Ita, Pa...

Sepasang suami isteri, seperti pasangan lain di kota-kota besar-- meninggalkan anak-anak diasuh pembantu rumah saat bekerja. Anak tunggal keluarga ini, gadis kecil berusia 4,5 tahun, sendirian di rumah. Acapkali dia bermain, asyik dengan dunianya sendiri, diabaikannya pembantu yang juga sibuk membersihkan rumah. Bermainlah dia, berayun-ayun di atas buaian yang dibelikan papanya, ataupun memetik bunga, mengejar kupu-kupu, di halaman luas rumahnya, dengan pagar yang selalu terkunci rapat.

Suatu hari, dia melihat sebatang paku berkarat. Tertarik, dia pun mencoret lantai garasi. Tapi, karena lantainya terbuat dari marmer, coretan tidak kelihatan. Tak putus asa, coretan dia pindahkan ke mobil papanya, yang baru datang sebulan lalu, mobil mewah berwarna hitam metalik. Coretannya pun tampak jelas. Dia gembira, dengan tanpa lelah, dia tarik garis-garis putih sepanjang mobil itu, dan dia bayangkan, "papa akan senang, mama akan senang..."

Ia tahu, menjelang sore, papanya akan datang, dengan ibu, sehabis menghadiri undangan. Setelah penuh coretan sisi sebelah kanan, dia beralih ke sebelah kiri mobil. Dia gambar wajah papa dan mamanya, gambarnya sendiri, lukisan ayam, kucing dan lain sebagainya mengikut imajinasinya. Kejadian itu berlangsung tanpa disadari si pembantu rumah. Pulang petang itu, terkejut orang tua si anak ini, melihat mobil yang baru dibeli dengan kredit, sudah penuh cacat. Si bapak yang belum lagi masuk ke rumah ini pun terus menjerit, "Kerjaan siapa ini?!" Pembantu rumah yang tersentak dengan jeritan itu berlari keluar. Dia juga beristighfar. Wajahnya merah padam ketakutan saat melihat wajah bengis tuannya. Sekali lagi, dia mendengar pertanyaan itu, lebih keras, dan dengan gugup, dia menunduk, "Tidak tahu, Pak..." "Tak tahu?! Kamu di rumah sepanjang hari, apa saja yang kau lakukan?" hardik si isteri lagi.

Si anak yang mendengar suara papanya, datang tiba-tiba berlari keluar dari kamarnya. Dengan penuh manja dia berkata, "Ita yang membuat itu papa... cantik kan?!" katanya sambil memeluk papanya, ingin bermanja seperti biasa. Si bapak yang hilang kesabaran mengambil sebatang ranting kecil dari pohon bunga raya di depannya, terus dipukulkannya berkali-kali ke telapak tangan anaknya. Si anak yang tak mengerti apa-apa itu, melolong, kesakitan dan ketakutan. Puas memukul telapak tangan, si bapak memukul pula punggung tangan anaknya. Si ibu cuma mendiamkan, seolah merestui dan merasa puas dengan hukuman itu. Pembantu rumah terbengong, tidak tahu harus berbuat apa? Si bapak cukup rakus memukul-mukul tangan kanan dan kemudian tangan kiri anaknya.

Setelah si bapak masuk ke rumah dituruti si ibu, pembantu rumah menggendong anak kecil itu, membawanya ke kamar. Dilihatnya telapak tangan dan punggung tangan si anak, luka kecil dalam, berdarah. Pembantu rumah memandikan anak kecil itu. Sambil membersihkan luka-luka itu, dia ikut menangis. Anak kecil itu juga terjerit-jerit menahan kepedihan saat luka-lukanya itu terkena air. Si pembantu rumah kemudian menidurkan anak kecil itu di kamarnya. Si bapak, juga si ibu, seakan tak begitu perduli.

Keesokkan harinya, kedua-dua belah tangan si anak bengkak. Pembantu rumah mengadu pada majikannya. "Oleskan obat saja!" jawab tuannya. Pulang dari kerja, dia tidak bertanya lagi tetnang anaknya, yang biasa selalu menyambutnya dengan pelukan. Ia biarkan anaknya di kamar pembantu. Si bapak mungkin ingin mengajar anaknya. Tiga hari berlalu, tak pernah sekali pun dia menjenguk si anak. Si ibu pun sama, hanya sesekali bertanya kepada pembantu.

"Ita demam, Bu... " jawap pembantunya ringkas. "Kasih minum Panadol," jawab si ibu. Sebelum masuk kamar tidur dia menjenguk kamar pembantunya. Saat dia lihat Ita dalam pelukan pembantu rumah, dia menutup lagi pintu kamar pembantunya. "Biar Ita tahu dia telah melakukan kesalahan," bisiknya.

Masuk hari keempat, pembantu rumah memberitahukan tuannya bahwa suhu badan Ita terlalu panas. "Sore nanti kita bawa ke klinik. Pukul 5.00 tepat," kata majikannya itu, santai. Sore itu, Ita pun di bawa ke dokter. Tapi, dokter klinik langsung merujuk ke rumah sakit karena keadaan yang kian serius. Setelah seminggu di rawat inap, dokter memanggil bapak dan ibu anak itu. "Tidak ada pilihan lagi," katanya, dengan suara yang putus asa. Dokter mengusulkan agar kedua tangan anak itu diamputasi kerana gangren yang terjadi sudah terlalu parah. "Lukanya sudah bernanah, parah. Demi menyelamatkan nyawanya kedua tangannya perlu dipotong dari siku ke bawah," jelas dokter.

Si bapak dan ibu bagaikan terkena halilintar mendengar kata-kata itu. Terasa dunia berhenti berputar. Tapi apa yang dapat mereka katakan. Si ibu meraung merangkul si anak. Dengan berat hati dan lelehan air mata isterinya, si bapak seperti orang gila, menangis tersedan-sedan saat menandatangani surat persetujuan amputasi.

Keluar dari ruang operasi, selepas pengaruh obat bius, Ita menangis kesakitan. Dia heran melihat kedua tangannya berbalut kasa putih. Ditatapnya muka ayah dan ibunya. Kemudian ke wajah pembantu rumah. Dia mengerutkan dahi melihat mereka semua menangis. Dalam siksaan menahan sakit, si anak bersuara dalam linangan air mata. "Papa..., Mama... Ita tidak akan melakukannya lagi. Ita tak mau dipukul papa. Ita janji tak akan jahat lagi. Ita ayang Papa... sayang Mama," katanya berulang kali, membuat si ibu gagal menahan rasa sedihnya. "Ita juga sayang Kak Narti..." katanya memandang wajah pembantu rumah, sekaligus membuatkan gadis dari Surabaya itu meraung histeris. "Tapi Pa...tolong balikan tangan Ita. Untuk apa Papa ambil juga... kan tangan Ita sudah papa pukul, kenapa diambil...? Ita janji tidak akan mengulanginya lagi! Bagaimana nanti kalau Ita mau makan? Bagaimana kalau Ita mau main? Ita janji tidak akan mencoret mobil papa lagi. Ita janji..." katanya berulang-ulang diringi isak tangisnya yang terdengar pilu. Serasa copot jantung si ibu mendengar kata-kata anaknya. Meraung dia, merangkul Ita. Sementara si Bapak, hanya bisa diam, memandangi tangan anaknya, dengan air mata yang jatuh tak putus-putusnya.
(Based on true story from Malaysia)

Source :www.suaramerdeka.com
Aya :Tegakah kita merampas kebahagiaan malaikat kecil ini hanya karena ego sesaat yang berbuntut penyesalan seumur hidup (sedih bacanya, hiks......)

7 komentar:

  1. hikss...:(

    apa sih..tujuan mereka punya anak, kalo hanya untuk disia2kan..padahal anak kan cahaya mata dan amanah yang harus dipertanggungjawabkan diakhirat nanti...
    kalo ga sanggup, mendingan ga usah planning punya anak deh...kasian banget...semoga kisah seperti ini ga terulang lagi deh..

    BalasHapus
  2. turut berduka atas musibah yang dialami keluarga mereka, semoga kisah ini bisa jadi pelajaran bagi setiap orang tua yang merasa mereka sangat sibuk sampai tdk sempat ngurus anak...

    tapi perlu kutegaskan, pasangan suami-istri yang bekerja itu tidak selalu buruk bagi anak lho. banyak contoh nya. cuma, ketika anak2 masih kecil, sebaiknya si ibu kerja nya tdk terlalu mengganggu waktu emas dgn anak (misalnya, sebaiknya kerja shift malam ketika anak tidur, atau kerja di dekat rumah jadi bisa pulang ketika jam istirahat.. contoh orang yg kukenal yg begini ada)

    BalasHapus
  3. Konsep yang kita punya kadang tidak berjalan sebagaimana mestinya ketika kejadian itu sudah berada di hadapan kita....
    Apa kiranya jalan yang paling efektif??? Saling mengingatkan????

    BalasHapus
  4. @Tari :Menurutku sih bukan disia-siakan Tar. Sebagai ortu mereka cukup peduli dengan anaknya hanya saja mereka mengabaikan kenyataan kalo individu yang mereka hukum ini adalah bocah berusia 4,5 tahun yang blm sepenuhnya mengerti akan tindakan yg dimaksud "merugikan".

    @Irfan : Hmm...kalau dari sudut pandangku sih, masalhnya bukan terletak pada kesibukan kedua ortu anak tsb. I know...banyak kok pasangan yang berhasil mendidik anak2nya ditengah2 kesibukan mereka dengan pekerjaan dan rutinitas masing2. Yang menjadi crucial point disini adalah cara mendidik anak pre-school yg memang sedang dalam masa mobilitas tinggi. Orangtuanya seharusnya tidak memberlakukan hukuman sprti itu pada anak yg blm mengerti penuh apa yg dimaksud konsep "salah" dan "benar" dalam pandangan orang dewasa.

    @Bakhri :Konsep medidik anak bukanlah harga mati yang tidak bisa ditawar ataupun harus sama tuk setiap keluarga. Konsep itu bisa berubah tergantung dari masa juga lingkungan dimana kita berada. Belajar tuk mengerti dan memahami proses tumbang (tumbuh kembang) anak dalam berbagai stage berbeda sepertinya perlu untuk setiap pasangan yang baru akan ataupun yg sudah memiliki anak. Agar tahu bagaimana seharusnya menangani buah hati mereka secara tepat.

    BalasHapus
  5. Buaya saja bisa memperlakukan anaknya dengan lemah lembut, nah kalo manusia? masak gak bisa? Tega banget tuh si bapak.

    BalasHapus
  6. duh.. sedih banget bacanya. kejadiannya bisa sampai setragis itu ya..

    aku sepakat, hal itu mereka lakukan bukan karena mereka gak sayang sama si kecil 4,5 tahun. hampir semua orang tua berpikir kalo mereka bekerja keras mencari nafkah semata2 buat hati mereka. dan, suami-istri itu sptnya juga demikian.

    masalahnya adalah ketidakmampuan mereka memanage 'emosi' mereka menghadapi apa yg mereka anggap kesalahan si kecil. Padahal, apa yg menurut mereka salah belum tentu dianggap salah juga oleh pikiran polos si kecil. Seharusnya tugas orang tua utk menjelaskan dgn baik bagaimana konsep 'salah-benar' itu. Kejadian tadi diperparah lagi oleh ketidakmampuan suami-istri itu membedakan perlakuan yg 'layak' diberikan utk orang dewasa dan anak2.

    anyway, semoga kisah ini bisa memberi pelajaran bagaimana bersikap terhadap anak, termasuk untuk org2 yg belum punya anak spt aku :)

    BalasHapus
  7. @Retrospectme : Buaya yang mana neh maksudnya? Buaya apa Bu-Aya? (ngamuk-ngamuk)

    @Wahyu : Definitely yu, kamu benar sekali. Btw, Aku kagum sama pemikiran kamu, lebih dewasa dibanding dengan usia kamu yang sebenarnya. Sudah cucok jadi oarngtua kelihatannya, hehehehe...

    BalasHapus