Rabu, Agustus 27, 2008

Aya is Baaaaack!!

Jumat, Juli 18, 2008

My Strawberry Tree

Duh senengnya, Alhamdulillah.....tanaman strawberryku tumbuh berbuah juga. Baru sadar dua hari yang lalu, saat ngecek2 pot-pot kecil dibagian belakang kost.Disitu ada beberapa jenis tanaman milik teman-teman kost yang juga nangkring bersebelahan dengan strawberry imut punya saya. Tanaman ini diberikan oleh seorang teman beberapa waktu lalu, yang ketika itu baru kembali dari jalan-jalan didaerah wisata pegunungan, Malino. Awalnya sempat was-was juga, bisa gak ya miaranya? Saya kan tinggal didaerah kota Makassar yang temperaturnya, minta ampun panasnya. Tapi ternyata, hehehehe....walaupun buahnya baru satu, tapi enak banget dipandang mata. Ayo strawberryku cepat tumbuh dan berbuah yang banyak yaaa.........

Kamis, Juli 17, 2008

Aya Lulus FASID, Yippiiiiiiiii!!

Tuesday, July 14th 2008, 11.05pm.

"Dear participants, we are pleased to inform you that you have been accepted to participate in FASID Fieldwork Program 2008. A notification has been sent to your email and home address via airmail. Please check your email for further details. Selamat". From; FASID contact Person

Yeess!!! Finally...berita yang sudah saya tunggu selama hampir dua minggu datang juga. Terpilih menjadi satu diantara 5 orang participants dalam kegiatan tahunan FASID (Foundation for Advance Studies on International Development) Fieldwork Program. Event ini merupakan ajang pembelajaran metode penilitian lapangan bagi peneliti muda dari Indonesia dan Jepang. Seperti yang sudah-sudah, tahun ini jumlah peserta tetap 20 orang, hanya saja formasinya berubah. Kalo dulu peserta dari Indonesia lebih mendominasi, maka tahun ini peneliti muda dari Jepang yang quotanya diperbanyak. Ada 15 orang kandidat dari Jepang dan 5 orang peserta dari Indonesia. Mereka yang terpilih ini telah melalui dua tahapan seleksi, yaitu tahapan dokumen dan tahapan interview face 2 face maupun via phone.

Saya sendiri di tahun 2005 pernah mendaftar untuk ikut kegiatan ini, sayangnya saya hanya bisa lolos sampai tahap wawancara. Ketika menghadapi interviewer, saya gagal karena sangat nervous ketika ditanya soal ttg eksistensi dukun dimasyarakat, diperparah lagi saat itu bahasa inggris saya masih kacau balau. Alhasil, saya tidak terpilih ditahun 2005 itu. Balik dari Oz, Sekitar bulan Mei 2008 saya lihat lagi melalui sebuah milis beasiswa, bahwa program FASID FWP 2008 telah dibuka dan kebetulan kali ini diadakan diSulawesi Selatan, tepatnya kabupaten Jeneponto. Oia, melihat dari website resminya FASID dulu-dulunya kegiatan ini pernah dilakukan diThailand, Filipina dan daerah remote lain di Indonesia. Namun dalam 6 tahun (2002-2008) terakhir saya perhatikan daerah tujuannya lebih fokus kePulau Sulawesi.

Kegiatannya sendiri akan berlangsung selama 3 minggu (6 - 23 Agustus 2008) didaerah Je'ne Tallasa (Rumbia Area), Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan. So, jadi selama 3 minggu itu semua peserta akan tinggal dan membaur bersama masyarakat setempat. Hmmm...jadi ingat jaman-jaman KKN profesi kesehatan dulu deh. Hanya kali ini tingkat kesulitannya menjadi dobel, pertama karena saya sama sekali tidak tahu bagaimana kondisi lapangan daerah Jeneponto coz belum pernah kesana, kedua masyarakat setempat berkomunikasi menggunakan bahasa makassar dalam percakapan sehari-hari, sedang saya cuman bisanya bahasa bugis (itupun cuman bisa ngerti doang gak bisa berbahasa langsung); terakhir karena pesertanya sebagian besar berasal dari Jepang, maka mau tidak mau bahasa inggris merupakan bahasa penyambung lidah antara tiap peserta. Gambaran umum kegiatan yang akan dilakukan disana antara lain, homestay dirumah penduduk, mengekplorasi serta mengenali area yang ditempati, melakukan survey dalam grup-grup kecil yang dibentuk berdasar interest, penyuluhan, diskusi, etc.

Talking with Kappe villagers

(Pic taken from here)

Anyway, Untuk kegiatan lengkapnya selama 3 minggu (Peserta Jepang+Indonesia), dapat dilihat dibawah (dikutip dari sini):

Flow of the Program

Pre-program Session Tokyo 2 days / Makassar 1 day

  • Getting Ready for the Program
     Information on Indonesia / Insiders and Outsiders/ Alumni Talk
     Different curriculums are applied to Tokyo and Makassar.

下矢印

Orientation in Makassar 2 days

  • Objectives of the program
  • Introducing the team
  • Basic information on South Sulawesi
  • Observation exercise

下矢印

Fieldwork in Je’ne tallasa 13 days

  • Exploring in the Village
    • home stay in the host community
    • observing and experiencing the life in the community
    • writing journal
    • sharing experiences and insights with peer participants, villagers and program facilitators
    • feedback of the learnings and insights to the community

    下矢印

    Writing the “Note from the field”, Wrap up in Puntondo 3 days

    • Exchanging the experience and reflections among participants and facilitators
    • Writing up the learnings and reflection
    • Wrap up and closing

    Dalam email pemberitahuan yang saya terima Selasa (15 July 2008), disitu disebutkan bahwa dalam pertemuan 2 hari diMakassar, tiap peserta dari Indonesia baik yang berasal dari Makassar maupun luar Makassar akan memperesentasikan basic info ttg South Sulawesi dihadapan peserta dari Jepang. Topik yang dipresentasikan antara lain demography, culture, food, custom, etc, nanti akan ditentukan oleh koordinator FASID. Duuuw, mudah-mudahan dapat bagian yang gak susah secara saya sendiri belum kenal betul daerah dan adat istiadat Sulawesi Selatan, hehehe....(maklum walaupun ortu saya asli Sulawesi Selatan, Saya lahir dan besar diPapua Barat, maka jadilah saya Putri Daerah Papua yang kulitnya mengalami defisiensi pigmen melanomin;)

    Dua peserta lain dari Indonesia sudah saya kenal. Satunya Moh. Syafar, kolega saya diKeperawatan Unhas, satunya lagi Dj (nama lengkapnya sapa yak?) Dosen Kehutanan UNHAS. Nah, kira-kira dua peserta lainnya siapa yaaaaaa? Hmmm...jadi penasaran???

    Jumat, Juli 11, 2008

    Imuniasasi Baby-ku

    Kemaren si Red Baby (My New Vega-R), udah harus dibawa ke bengkel lagi nih, tuk servis ke-2 kalinya. Walaupun pemakaiannya baru mencapai 1300km, tapi umurnya kan dah masuk 3 (tiga) bulan semenjak saya beli bulan april 2008 lalu. So, waktunya lagi diservis berkala atawa imunisasi

    Kali ini keluhan saya cuman remnya aja, bunyinya nyaring dan berdecit-decit aneh kalo pas direm. Servis pertama dulu, bunyi gasnya kegedean, bikin sakit kuping saban pagi, komplain ibu kost, hehehe...

    Total crime plus accident yang udah terjadi dalam usianya yang ke-3 bulan adalah:

    1. 3 x jatuh kesamping saat lagi gak bergerak (jatuh pas dipinjam teman, standar yang gak terpasang baik, juga karena bobotnya 2 x lbih berat dari diriku dalam kondisi statis;)
    2. 1 x ditabrak dari belakang sama pengendara motor lain (kalo ini total kesalahanku yang lupa nyalain lampu weser pas mo belok, hehehehe...)
    3. 1 x melanggar lalu lintas coz saya gak tau kalo ternyata dipersimpangan RS Wahidin Sudirohusodo-Jl. Perintis Kemerdekaan ada traffict light baru jika akan belok kiri. Jadi, tanpa merasa berdosa, saya langsung belok kiri tanpa menyadari kalo gak ada satupun kendaraan yang mengekor dibelakang saya. Aduh, malu banget, untung pak polantasnya baik hati dan tidak sombong. Saya hanya diingatkan saja, supaya next time lebih awas lagi membaca rambu2 yang terpasang;p

    Jadwal imunisasi berikutnya adalah bulan Oktober (6 Bulan dari tanggal pembelian).

    10 Tips To Stress Less

    1. Make someone a cup of tea
    2. Be physically active 30+ minutes a day
    3. Break down tasks into manageable steps
    4. Do something for your community
    5. Allow yourself and others to be imperfect
    6. Figure out what's really important to you
    7. Perform a random act of kindness every day
    8. Schedule more fun with others
    9. Learn how to relax or meditate
    10. Join a team sport or activity group.


    Source: Mental Health Association NSW inc.

    Selasa, Juni 24, 2008

    Anggota Geng Nero, Ke Laut Aje...

    (pic taken from here)

    Belum lepas keheranan kita akan kebringasan video aksi gang nero (gang basket putri didaerah Pati, Jawa Tengah) pada salah satu anggota barunya beberapa waktu lalu. Kini beredar lagi video lain yang jauh lebih bringas, perkelahian beberapa anggota geng putri lain yang dikalangan pemilik ponsel dikenal sebagai "gang brengsek". Korbannya kali ini adalah seorang remaja putri yang dipukuli beramai-ramai oleh anggota kelompok tersebut. Tidak jelas apakah video kedua yang disebut-sebut juga berasal dari Pati, memiliki kaitan dengan gang Nero yang sekarang sedang diperkarakan. Video lengkap perkelahian kedua gang putri yang saya sebutkan diatas, bisa dilihat disini.

    Ironis sekali melihat kebrutalan para remaja putri ini. Emang sih, menurut buku-buku ajar psikologi dan perkembangan anak, masa-masa teenager ini adalah merupakan masa pencarian identitas diri. Masa yang ditandai dengan keinginan untuk membentuk kelompok2 diluar dari pengawasan orangtua dan keluarga. Tiap remaja ingin diakui oleh remaja lainnya, entah karena prestasi, kesamaat minat dan hobi ataukah karena alasan lain yg mereka sendiri tau. Maka dengan dasar alasan seperti itulah, maka gang bengal semacam gang Nero bisa terbentuk. Mulanya sih, hanya sekedar dua atau tiga orang yang satu hati bergabung menjadi satu grup kecil, eeeeh....tau-tau ada teman lain yang juga sama asiknya diajak jalan n curhat pengen gabung, maka tidak lama jadilah sebuah grup yang dinamai geng. Entah apalah mau dinamai geng itu, gang kutu buku bisa, gang sosialita ok, gang curhat, gang kribo, gang gaul, gang pinky, de el el....you name it lah...

    Dulu saat saya masih SMP di Papua, pernah sih secara gak sengaja ikut-ikutan gabung disalah satu kelompok yang terkenal cantik, modis tapi garangnya minta ampun (apalagi kao dah menyangkut urusan cowok, wiiii...ngeri!!!). Anggotanya tuh anak-anak bugis semua. Sebenarnya sih, saya sama sekali gak gabung, tapi karena teman2 sekolah pada tahunya saya juga punya darah bugis, apalagi saya tetanggan dengan beberapa anggota kelompok tsb, maka jadilah saya sering dikait-kaitkan dengan gang bugis yang beranggotakan sekitar 5-6 orang. Disitu, sebenarnya saya gak terlalu nyaman, coz anggota kelompok ini kerjaannya cuman bolos, kalo gak bolos, keliling-keliling kota naek angkot yag dicarter (istilah sininya "cewe' panta bensin"), trus lainnya tuh, mereka dandannya menor abis, padahal baru juga anak SMP gt lho!!! Saya dulu sempat heran, nih anak2 gang bugis kalo sama saya kok ramah yah, padahal kalo anak-anak lain anak lain pasti disewotin, ato kalo gak diajak berantem. Senang juga sih awalnya, karena seringnya dikait-kaitkan dengan gang bugis ini, rasa PD saya yang aslinya pemalu, menjadi meningkat. Bisa masuk dan diterima dalam lingkungan orang-orang yang menjadi "center of attention", adalah suatu prestige tersendiri yang gak semua orang bisa dapat pada saat itu. Apalagi dengan dandanan saya yang kutu buku abis saat itu. Kacamata minus tebal, rambut pendek poni, baju selalu disetrika dan terkancing rapi dan rok yang selalu dibawah lutut (hiks....jadi ketiwa ketiwi sendiri melihat foto keculunan saya saat SMP dulu). Selidik punya selidik, saya akhirnya mengerti kenapa geng bugis baik sekali pada saya. Ternyata saat itu, saya "dipake" ama mereka. Mereka sengaja beramah-ramah dengan karena punya "hidden agenda" yaaa....ada udang dibalik batu lah..... Tiap kali ada PR dari guru, saya dijadikan tempat untuk nyontek abis, agar tidak dihukum guru dikelas. Setelah sadar sepeprti itu, saya mulai menjauh, baik dikelas maupun dirumah. Untungnya sih saya tidak pernah diapa-apain sama mereka, sebab saya pernah dengar sekali waktu mereka mengeroyok anak kelas sebelah, karena dianggap pelit jawaban dan terlalu kecentilan (maksudnya nyaingin kecantikan anggota kelompok bugis, hahaha). Saya akhirnya menemukan teman akrab yang memiliki hobi sama saat itu, sama-sama Kutu Buku, Anak Marching Band & penikmat BoyBands asal Inggris (Teman-temanku ini entah sekarang sudah berada dimana yak? Eki, Lusiana, Fitri, Nurdiana, Ida).

    Beranjak ke SMU, saya lebih senang bergaul dengan teman-teman yang "berotak" ketimbang yang "berotot". Lagipula di jenjang ini, bakat kepemimpinan saya mulai muncul. Yang ada beberapa teman kelas yang malah nempel pada saya dan membentuk group. Tapi kami groupnya group baik2 lho, karena punya kesamaan dalam hal minat juga hobi. Kebersamaan itu, sayangnya hanya bertahan 1 tahun karena saya harus pindah ke Pulau Sulawesi (Hehehe...ini adalah sebagai konsekuensi ngedemo KepSek SMUN1 Fakfak yang menurut saya melakukan penyimpangan dana BP3). Ulah saya ini sangat beralasan, karena disertai bukti otentik yang saya himpun beserta teman2 OSIS SMUN1 dari berbagai sumber. Karena yang dilihat paling vokal pada saat debat terbuka itu adalah saya, maka sebagai hadiahnya, saya diganjar dengan nilai merah diraport Cawu II. Kebetulan pak kepsek ini mengajar salah satu mata pelajaran dikelas saya. Jadilah, dari sekitar 30 siswa dikelas, hanya saya sendiri yang mendapat nilai merah untuk KIMIA (tidak heran, semenjak itu saya menjadi trauma dengan mata pelajaran ini).

    Setelah pindah ke Pulau Sulawesi, saya diterima disalah satu SMU diKabupaten yang menjadi home town kedua orang tua saya. Disana, saya mendengar ada satu gang yang menjadi momok bagi murid-murid cewek lainnya. Gang ini namanya Badung K***K (BK). Anggotanya terdiri dari gabungan anak-anak cantik plus cakep, modis, tajir dan pintar. Inisial mereka (Ketua: Ul, tangan kanan: Wn, Anggota biasa: Un, Mt, Dn, Em, Ns, Ud, Mn, Mh). Mulanya sih, saya gak peduli banget dengan geng ini. Sebodo amat, sepanjang saya gak ngegangguin mereka, dan mereka juga gak bikin darah saya naik, I don't care euy.... Namun rupanya, begitu saya masuk, sikap diam dan gaya saya yang agak2 tomboy (rambut cepak model polwan, dua lengan baju digulung, rok ketat pas dilutut) bikin mereka sempat gerah. Dalam pikiran mereka, "Ededeh, ini anak baru, belagu skali. Gayana ji". Sempat saya dengar, kalo mereka sekali waktu pengen menghadang saya saat pulang sekolah, tapi begitu tau siapa yang menjemput saya pulang sekolah, mereka jadi mengurungkan niat, hehehe. Kebetulan kakek si pemimpin gang BK adalah kolega kakek saya, jadinya secara de jure n de facto, saya kebal dari amukan anggota BK, hehehe. At the end, saya dengar kalo geng BK ini bubar sebelum semua anggotanya lulus SMU, entah karena alasan apa mereka tidak lagi kompak seperti sebelumnya. Hanya satu orang saja yang masih berhubungan dengan saya hingga saat ini, yaitu Mt yang semenjak saya menginjakkan kaki hari pertama diSMUN1 Barru langusng menjadi teman akrab saya (dari dia inilah saya dapat info kalo mo dihadang oleh anggota BK yang lain). Mt baru aja menyelesaikan pendidikan S2 Biologinya dan sekarang aktif sebagai pengajar dibeberapa universitas swasta diMakassar. Bentar lagi malah dah mo married bulan Agustus. Selamat ya, Say....

    Yah, sebenarnya membentuk sebuah gang adalah sebuah hal yang lumrah. Merunut hirarki kebutuhan dasar Maslow, pembentukan geng adalah salah satu bentuk dari adanya kebutuhan aktualisasi diri. Kita pengen diakui orang, kita pengen dihargai dan menjadi bagian dari suatu komunitas, gak salah kok prens, itu manusiawi!!. Hanya sayang dalam pengimplementasannya, banyak terjadi penyelewengan2 yang sudah off track dari niat awal dibentuknya group atau geng tersebut. Hingga tanpa sepengetahuan orang dewasa, jadilah aksi brutal dengan alasan solidaritas memebela teman geng. Saya berharap, dengan terungkanya kasus geng Nero ini, para anggota geng bisa lebih memaknai apa sih tujuan berdirinya geng mereka. Apakah kehadiran geng mereka bisa memberikan kontribusi signifikan bagi lingkungannya atau malah menjadi momok yang bikin lingkungannya menjadi antipati dan gerah karena ulahnya yang sok jago, sok eksklusif, sok cantik, sok usil, sok ganjen blah...blah...blah. Buat anggota gang nero yang sekarang termehek-mehek setelah diciduk pihak kepolisian Pati, Berantemnya dilanjutin dipenjara aja kali yeeee......Finally, you got what you deserve girls!!!

    Rabu, Juni 18, 2008

    Once In A Life Time

    (Pic taken by Yoga, UTS Ausaid awardee 0f 2007)

    I have an interesting story to share. This is about a moment that i wont forget in my entire life. It was on November 2007, at the end of my study at University of Technology Sydney (UTS). Within next few weeks, we were (all UTS international students from various contries) having graduation day after finished all subjects from our formal courses. Actually, the ceremony was not like the real graduation; when all UTS students were given their testamur with the grade mentiones on it. No, it wasnt. It's more like a farewell ceremony for us who could not attend the formal graduation ceremony on April 2008 due to the distance problem and of course funding matter (my scholarship doesnt cover a trip for this ceremony). But what makes it special was, because at that time we were all wearing graduation uniform and we also got a chance to shake hand with the chancellor, dean & Professors from our faculties.

    A month prior to the farewell ceremony, i got an email from a UTS international office staff, Ms. Belinda Lee. I've been invited to submit a speech to be presented on the farewell occasion. Along with me, there were around 10 students also got the invitation. I heard from Ms. Lee, the crieteria to receive the invitation was based on our activities at UTS. The more we were spotted being involved in UTS activities, the bigger chance we got the invitation. I personally according to her, being spotted when i won a special award at UTS City 2 Surf Team in 2006 and when I choreographed an Indonesian contemporary dance at UTS Cultural Infusion Week on Aug 2006 (even i didnt win the competition, but the other participants said it was amusing though).

    Back to the speech. All candidates were asking to submit a speech no longer than 2 pages. And it should be in English of course. The staff of UTS would select the best, and as the result the it will be delivered on the ceremony by the student who wrote it. Initially, i didnt really expect that my speech would be better than any other students. First, my grammar was crap, second i never made any written speech before and, third i didnt mean to write it since i have a problem with "stage fright" (bahasa: demam panggung).

    Unfortunately, all my thoughts were wrong. A week before the ceremony, i was called back to confirm that my writing has been chosen as the best speech to deliver. Surprised?! Yes?! Panic?!Absolutely!!! (remember i have stage fright?!)

    So, in a rush, i met ms. Lee immeditely to mention about my biggest problem, stage fright. I wanted to step back because i had no confidence to do so in front of all international students and their families. But Ms. Lee reinforced me to keep further because she believed that i could cope with it. I Just need to conquer my fright coz that the real enemy within myself. She was aslo suggesting me to practice in front of mirror and even in front of her and some of her colleagues.

    It took me few days, until i gain the confidence with the help of Ms.Lee and my best friends (K'Rini & Lisa) who never stopped encourage me.

    Finally, on the big day, as my chancellor, Ms. Lee and some international students said, I delivered it very well, my speech was so impressive and deeply touched they heart. So, for you guys, who want to know how my speech was, here is the final draft after been revised here and there lil'bit by Ms. Lee

    Student Address:

    Nurhaya Nurdin (Ausaid Awardee 2006)
    Master of Nursing Education
    University of Technology Sydney

    Student Guest Speaker for the farewell ceremony of Departing International Students
    Great Hall, City campus, Friday 30 November 2007

    A very good afternoon to:
    The Chancellor, Vice Chancellor, Faculty Deans, University Staff Members, Distinguished Guests, family and friends, and my dearest fellow students. It is such a privilege and a great honor for me to be here on behalf of all departing international students.

    The time has flown quickly this year and a half and I’m sure all of you can still remember vividly your first day at UTS, like it just happened yesterday; the first time you stepped into the UTS tower building and looked around; all feelings were mixed in the one thought, scared but excited, glad but feeling homesick all the time, as you left your family and love ones behind.

    For most of us, I believe the beginning of our studies at UTS was not easy. It is like a rose, which looks beautiful, but full of thorns. The main challenges facing us day by day are anxieties of the classroom environment, pressures of assignments, oral presentations, deadlines, exam periods, culture shock, and especially the confusing Australian accent. This combination may sound like a disaster, but then it turns out to be an unforgettable and rewarding experience that we would love to share with our family and friends back in our home countries.

    It was at UTS, I experienced the diversity in the true sense. Personally, I have met and interacted with people from multicultural backgrounds, as during semester I lived at UTS Housing accommodation, Gumal Ngurang. Everyday I dealt with problems that I never encountered before, but all those experiences shaped me to become more accepting to all the differences. I think such experiences are extremely important to understand and to relate to people from different cultures, religion and ethnicity and it has truly enriched me from inside.

    At UTS, I reinvented my self through transformations. Last year, as some of you may be aware, I was just a shy student who came here to study studiously at the wish of my parents. I was scared to engage in daily conversations because I was worried people would not understand what I was trying to say. In the first semester, group discussions and oral presentations were my nightmares as I have to participate actively in the conversation. But soon as I started getting involved in a social life with other students, I realized I was becoming a new person. I was more confident, energetic, and open-minded than before. UTS and its atmosphere taught essential lessons that could not be learned by reading a textbook. What I learned from UTS is to be more confident on what I had, dared to leave my comfort zone to explore my abilities and never stopped to learn through processes. I can still remember vividly one lecturer who really inspired me with his words. He said: “…do not think only about how high you can get but rather about how long is the road you have walked. How close you have to get to your potential. It is all about the process which makes you become more mature and better person than before”

    Our stay at UTS is not “all study and no play”. Since UTS is located in the heart of Sydney CBD, it offers us the opportunity of savoring the sights and sounds during our leisure time. How can we forget sydney’s icons such as Darling Harbor, The Opera House, The Rock and Bondi Beach when we were all stuck with our assignments? I believe each of us will bring back all these memories and share it with our family and friends, perhaps one day we can come again to visit Sydney, particularly our beloved UTS.

    My dear fellow students, as the saying goes “every start always has an ending”, so also with our current togetherness here. We are going to fold our memorable journey at UTS, and unfold the new phase of our lives in our home countries, all armed with what we have learned at UTS. We are ready to accept the responsibilities that face us as we shape our future. Today we are proud to be part of the UTS community, and I am sure UTS will be proud of what we have achieved and what we will achieve in the future.

    As a student guest speaker, once again on behalf of all departing international students, I would like to extend my gratitude towards the Chancellor, Vice Chancellor, Faculty Deans, Lecturers, International Students Team, AusAid Liasion Officers and all university staff members, who have been so inspirational and encouraging during our short, but memorable stay at UTS. Not forgetting our family members and friends for taking time to be here with us to celebrate this joyful moment and also those who have contributed, in some way or another, to the success of this farewell ceremony.
    Last but not least, I wish everyone present the best for their future and may The Almighty always be with us.

    Congratulation, Omedeto, Felicitations, Gong Xi, Parabens, Cuk Meng, Badhai Ho, Selamat!!!

    Well Done Everyone!!!!
    Thank you!

    Australian Development Scholarship

    (Taken from Kompas Newspaper 16/6/2008)


    Temans, Ausaid scholarship baru aja diumumin secara resmi terbuka beberapa hari lalu. Yang pengen bisa kuliah S2/S3 gratis di Australia, buruan gih sebelum aplikasinya ditutup tgl. 5 September 2008. Tiap tahunnya ada 300 beasiswa untuk diperebutkan. Untuk lulus berkas syaratnya mudah kok, IPK min, 2.9, IELTS/TOEFL score min 5/500 (tesnya diambil dalam tahun 2007 ato 2008), dan usia gak lebih dari 42 tahun pada saat mendaftar.

    Saya udah pernah merasakan gimana beruntungnya menjadi salah satu penerima beasiswa ini dan menjejakkan kaki dinegeri Kangguru sana selama 1.5 tahun, so....kenapa kalian gak coba? Siapa tahu kalian bisa jadi salah satu diantara 300 awardee berikutnya, yoi gak?

    Untuk info lebih lanjut, buruan gih login ke website resmi ADS scholarship at http://www.adsjakarta.or.id/

    Good Luck Mates!!!

    Rabu, Juni 04, 2008

    Pride & Prejudice

    Merunut dari judul diatas, saya bukannya ingin bercerita tentang hubungan cinta unik antara Mr. Darcy dan Lizzy dalam film anyar Pride & Prejudice. Melainkan saya ingin share tentang kejadian lucu plus miris yang menimpa saya kemarin.

    Ceritanya gini, saat saya berbelanja sepatu diMatahari MP, teman kantor saya Ulid menanyakan apa saya punya kartu MCC (Matahari Club Card) atau tidak. Seingat saya, duluuuuuuu.... sekali sebelum berangkat ke Oz saya punya, tapi karena sudah lebih dari dua tahun tidak digunakan, saya pikir pasti sudah expire keanggotaannya. Dengan asumsi itu, saya memutuskan untuk registrasi member baru. Kebetulan counter tuk pendaftaran MCC bersebelahan dengan tempat saya memilah-milah sepatu.

    Dicounter itu ada dua orang staff Matahari, satu cowok dan satunya lagi cewek. Yang cowok sedang sibuk bertelepon ria, sedang yang cewek sedang mencatat sesuatu dalam notes.
    Mbak, kalau mau register kartu MCC gimana caranya ya?” Saya bertanya. Dengan wajah yang kurang ramah (wajahnya tetap menunduk dan gak melihat ke saya) si mbak menjawab dengan suara yang kurang ramah pula ”Bayar 75 ribu.” Saya yang mendengar agak kaget, pertama karena info ttg pembayaran yg seingat saya dulu Free, kedua karena nada suara si mbak yang memang kurang bersahabat. Teman saya, Ulid lalu mengkonfirmasi ulang perkataan si mbak tadi, dengan bertanya ttg kartu MCC biasa. ”Ooo...belanjanya harus lebih dari 100 ribu baru bisa daftar!” kata si mbak Jutek ini. Saya yang mendengar jawaban itu langsung menuju kasir tuk membayar, sedang Ulid tetap didepan counter kartu MCC dan terdiam mengamati mbak jutek yang tetap sibuk sendiri dengan catatannya.
    Selang lima menit kemudian saya kembali ke counter itu. Saya menyodorkan struk belanja sepatu yang sudah saya bayar ke si mbak jutek yg ada dibalik meja sambil berkata ”Mbak saya mo registrasi kartu MCC”. Dia mendongakkan kepala ke arah saya berkata ”pembelanjaannya harus di atas seratus ribu dulu baru bisa daftar”. ”Iya saya tahu, saya belanja lebih dari 100 ribu kok” Suara saya mulai agak sedikit tegas, karena sepertinya si mbak memandang saya gak mampu beli barang dari toko itu seharga 100 ribu keatas.

    Saya mungkin bisa menebak apa alasan si mbak jutek ngomong gitu ke saya. Dibanding teman kantor saya Ulid, dandanan saya saat belanja itu emang biasa banget, celana jeans dipadu dengan jaket katun warna hitam yang biasa saya kenakan saat naik motor plus sendal kaki putih sebagai alas, bisa jadi membuat seseorang akan dipandang kurang mampu dari segi finansial jika dilihat sepintas saja. Yaah....mo gimana lagi, emang dandanan aya kalo lagi cuek emang kayak gitu, hehehe....

    Kembali ke counter, si mbak jutek meminta KTP saya tuk validasi. Kebetulan saya lupa bawa KTP, jadi yang saya serahkan sebagai identitas adalah SIM. Saat kartu identitas sudah berpindah tangan, si mbak memandang saya secara seksama bergantian dengan foto manis saya yang ada diSIM. Mungkin sambil berpikir, apa benar ini orang yang sama, kok dandanan dalam foto dengan aslinya yang berdiri didepan saya ini beda ya?!. Dengan kening sedikit berkerut, dia menulis nama plus embel-embel keagamaan yg sebenarnya jarang sekali saya gunakan didepan nama. Setelah mengisi beberapa informasi dalam form, si mbak bertanya lagi, tapi kali ini suaranya mulai melunak. ”pendidikan terakhir”, saya jawab dengan suara lugas ”S2” sambil memperhatikan respon mbak Jutek. Si mbak yang rupanya tidak siap mendengarkan jawaban itu bertanya lagi ”Pekerjaan?”. ”Dosen”. Disambungnya lagi pertanyaannya ”Negeri?” sambil memajukan wajahnya beberapa senti ke arah saya. Saya yang sudah mengerti kemana arah pertanyaan si mbak yang sama sekali tidak menulis apapun didalam kertas sontak menjawab dengan nada tegas ”YA!UNHAS!” sambil menatap matanya langsung menandakan saya benar-benar serius dengan apa yang saya katakan. Mendengar jawaban saya yang terakhir, saya lihat roman muka staff wanita yang semula jutek ini otomatis langsung berubah manis, suaranyapun yang awalnya gak friendly banget tiba-tiba melunak, benar-benar berbeda, berubah 180 derajat. Teman saya Ulid, yang juga ternyata memperhatikan perubahan staff wanita itu, juga memvalidasi cerita ini pada saya setelah kami keluar dari toko tersebut. Saya hanya menagngguk-angguk tersenyum mendengarnya.

    Bukan sekali dua kali perlakukan seperti ini terjadi karena penampilan saya yang gak ada sangat casual. ”Ners Aya gak ada mirip-miripnya dengan tipikal dosen, lebih mirip mahasiswa” begitu komentar beberapa mahasiswa yang pernah saya dengar. Pernah ada kejadian juga, tanpa memvalidasi siapa dan dalam rangka apa saya duduk disana, dua orang panitia sebuah seminar nasional keperawatan meminta (kasarnya siy.....NGUSIR) saya pindah dari kursi undangan & dosen karena mengira saya hanya mahasiswa biasa dan gak boleh duduk dijejeran kursi terpilih. Pada kesempatan itu juga saya tidak diperkenankan mengajukan pertanyaan ke panelis dalam tiga sesi berturut-turut oleh si moderator (padahal saya sudah berdiri dan mengajukan tangan setinggi-tingginya.....mungkin karena saya gak pake blazer kali yeee.....), sampai akhirnya saya maju sendiri merebut mike lalu membuka identitas bahwa saya adalah salah satu pengajar di universitas negeri dikota ini, barulah moderatornya diam bungkam seribu bahasa. Kadangkala saya kesal diperlakukan diskriminatif sprt itu, namun dibalik itu saya senang, karena saya bisa lihat yang mana orang-orang yang benar-benar tulus membantu atau ingin berteman dengan saya tanpa ada tendensi tertentu dibaliknya.

    Saya sering bertanya-tanya kenapa sih masih banyak orang di negeri yang katanya adab sopan santunnya masih tinggi, ternyata masih menilai orang dari penampilan fisik dan atribut sosial semata. Ada kecenderungan fenomena sosial dalam masyarakat kita, pendidikan dan jabatan berbanding lurus dengan harga diri seseorang. Semakin tinggi status sosialnya, maka semakin bergeser pula nilai-nilai tawdhu yang ada dalam dirinya. Yang dulunya ramah pada siapa saja, kini berubah menjadi jaim (jaga image). Apalah gunanya dandan keren, mentereng, bertitel, jabatan tinggi dll kalo attitude serta aptitudenya minus?!
    Saya pribadi dari dulu selalu berprinsip, walaupun pendidikan atau jabatan yang diamanhkan pada kita setinggi langit, gak mesti sikap atau karakter kita juga ikut-ikut melambung. Itu kan semacam ”ujian spesial” yang diberikan Allah kepada kita untuk melihat sejauh mana kita bisa memanage amanah tersebut untuk membantu meringankan beban orang lain, bukannya malah menekan orang lain atau meminta untuk diperlakukan istimewa seperti yang dilakukan beberapa pejabat yang gak tahu malu yang katanya membela nasib rakyat digedung DPR/MPR sana. Lha...kok ceritanya dah nyampe disana yak? Aaarghh....EGP sama beberapa bapak2 gak bermoral disana!!!! yang penting, inti dari apa yang pengen saya share kali ini. Setinggi apapun status yang melekat dalam diri kita, tetaplah jadi diri kita sendiri, tetap humble, tetap down to earth bak bulir padi, semakin berisi maka semakin merunduklah ia.

    -I dedicate this to a great & humble person who i adore thoroughly; a dean of medical faculty-