Rabu, Februari 20, 2008

Welcome to Jakarta; The beautiful waterfront city

Di akhir Januari 2008 lalu, saya berkesempatan mengunjungi teman-teman lama saya diJakarta. Saat itu layaknya mendekati tahun baru Cina, hujan memang sudah dipastikan akan mengguyur berbagai daerah diIndonesia termasuk Jakarta. Seingat saya kala itu hujan baru turun sehari semalam, namun yang terjadi beberapa area strategis Jakarta sudah terendam banjir dan mengakibatkan kemacetan total dibeberapa titik. Saya hanya bisa menyaksikan melalui media elektronik nasional yang ramai memberitakan, Alhamdulillah dareah tempat saya menginap diJakarta Selatan tidak sempat disinggahi banjir dadakan tersebut.

Hari terakhir sebelum bertolak meninggalkan Jakarta menuju Makassar, barulah saya benar-benar merasakan imbas dari banjir besar yang melanda Jakarta.

Jalan tol menuju bandara ikut terendam banjir, hal itu mengakibatkan saya membutuhkan waktu berjam-jam untuk tiba kebandara setelah terlebih dahulu merasakan naik truk tentara jika tidak ingin terseret banjir setinggi satu meter lebih di jalur tol menuju bandara Sukarno-Hatta.

Setelah berdesak-desakan selama 30 menit dengan belasan penumpang beserta barang bagasi masing2 dalam truk, tibalah kami dibandara internasional Sukarno Hatta. Sesampainya disana, secara tidak sengaja mata saya tertumbuk pada billboard raksasa dengan tulisan Visit Indonesia Year 2008, celebrating 100 years of national's awakening.

Tahun ini Indonesia memang mencanangkan Visit Indonesia Year 2008, tapi bagaimana mau mengundang wisatawan jika akses masuk dan keluar dari bandara internationalnya saja susahnya minta ampun. Sampai-sampai bandara sempat ditutup selama beberapa waktu yang mengakibatkan penundaan bahkan pembatalan beberapa penerbangan domestic maupun internasional. Beberapa pesawat yang sudah terbang yang menuju Jakarta, banyak yang dialihkan ke airport terdekat. Selain itu ratusan penumpang jadi terlantar bahkan ada yang sampai harus menginap dibandara segala karena penerbangannya tiba-tiba diundur sampai batas waktu yang baru akan ditentukan kemudian.

Merunut kebelakang, awal pencanangan Visit Indonesia Year 2008 sudah menuai kritik dengan tag linenya yang dinilai kurang tepat secara struktural. Tag-line resmi Visit Indonesia Year 2008 adalah “Celebrating 100 years of Nation’s Awakening”. Beberapa pihak menganggap tag line ini tidak tepat, yang benar adalah “Celebrating 100 years of National Awakening”. Nation’s Awakening berarti Kebangkitan Bangsa, padahal yang tepat adalah Kebangkitan Nasional. Lalu terjadi kehebohan karena tag ini jauh-jauh hari sebelumnya sudah dicetak dalam kartu nama Departemen Pariwisata, sudah disematkan dimaskapai penerbangan domestik dan internasional kita, sudah diiklankan secara luas di media cetak maupun elektronik. Ironisnya lagi malah ada yang mempersoalkan fakta bahwa tahun 1928 tidaklah tepat dianggap sebagai awal tahun kebangkitan bangsa.

Opini saya dalam konteks ini, sebenarnya hal itu tidak terlalu essensial untuk diperdebatkan. Wisatawan asing tidak akan membatalkan kunjungannya hanya dikarenakan tag-line yang kurang huruf “al”, dan sebaliknya mereka juga tidak akan serta merta ramai berkunjung keIndonesia bahkan bila kita membuat tag-line yang lebih provocative dari yang ada sekarang.

Mereka akan berbondong-bondong datang bila Indonesia memang layak untuk dikunjungi. Bukannya kePeDean sih, tapi sejujurnya untuk soal pariwisita saya percaya kita jauh lebih berpotensi daripada negara tetangga seperti Thailand, Singapura atau Malaysia sekali pun. Kita punya banyak objek wisata dan atraksi budaya unik dan menarik yang tidak dimiliki negara-negara tersebut. Contohnya saja Keraton Kesultanan diJogjakarta, Borobudur di Jawa Tengah, Tanah Lot di Bali, Pusat Jajajan terpanjang Pantai Losari di Makassar, Upacara Adat penguburan diTana Toraja, pakaian adat Koteka di Papua, Tangkuban Perahu di Sumatera Barat, dan masih banyak lagi ragam wisata yang memperkaya khasanah budaya tanah air kita.

Kita banyak tertinggal dalam sarana penunjang. Kita kekurangan toilet yang layak di tempat-tempat wisata, kita kekurangan tempat pejalan kaki yang nyaman, pelayanan pariwisata yang prima, dan fasilitas transportasi yang memadai.Terus terang, saya sempat malu dan miris hati ketika melihat turis diserbu penjual asongan yang mengintimidasi, saya malu melihat wisatawan asing dipatok harga mahal saat berbelanja souvenir, saya malu jika turis-turis tersebut datang menyaksikan Jakarta terendam yang sudah mirip-mirip Venice minus gondola-gondolanya.

Dengan keadaan itu, kita minta mereka datang mengunjungi Indonesia? Itu sama saja mengundang tamu ke rumah yang berantakan bin amburadul tanpa persiapan apa-apa.

Visit Year tentu diharapkan untuk memberi gairah baru pada dunia pariwisata. Tapi bagaimana mau bergairah kalau programmnya bahkan sama sekali nggak berdengung? Apa yang ditawarkan Indonesia pada tahun 2008? Festival Bungakah? Fashion Showkah? Konser Musik dan Operakah? Diskon di hotel-hotel Bali? Ataukah hanya kolam renang raksasa dengan billboard besar dibackgroundnya bertuliskan “welcome to beautiful Jakarta waterfront city”.

Apa saja yang sudah dan akan dilakukan orang orang yang bekerja dibelakang ini semua untuk mencapai tujuan dari program ini? Tahun 2008 sudah masuk bulan ke dua, sudah seberapa persenkah hasil yang tercapai? Langkah apa saja yang akan dilakukan sebagai antisipasi apabila target tidak tercapai? Apakah yang bisa kita lakukan bersama guna mesukseskan program ini? Apakah rakyat Indonesia masih sempat menyambut wisatawan disaat masih sibuk mengantri minyak tanah atau sedang sibuk menyelamatkan barang-barangnya saat banjir sudah setinggi leher?

Dengan kejadian banjir yang menimpa Jakarta beberapa waktu lalu saja sudah banyak orang yang mempertanyakan masih pantaskah untuk menjadikan tahun 2008 ini sebagai tahun kunjungan wisata? Memang tidak fair jika kejadian tersebut dijadikan barometer karena Jakarta hanya sebagian kecil dari Indonesia. Ya, Jakarta memang adalah potret sebagian kecil dari Indonesia, masih banyak kok daerah lain yang menarik untuk ditawarkan. Mungkin seperti itulah perkataan beberapa orang yang masih memiliki optimisme tinggi terhadap pariwisata Indonesia.

Tahun 2008 masih panjang kedepan tapi terlalu cepat untuk di lewati apabila terlalu santai menghadapinya. Apa yang telah dan akan kita lakukan? Jelasnya kita tidak berani menjanjikan apa-apa selain sambutan yang mungkin bagi mereka sangat tidak menyenangkan. Lalu apa yang semestinya kita lakukan? Ya memperbaiki semuanya, tapi satu per satu dimulai dari sistem yang tertata rapi dulu. Tidak perlu terlalu muluk dengan target Visit Indonesia Year 2008 yang konon kabarnya ditargetkan akan mencapai 7 juta wisatawan asing. Lebih baik kita benahi dulu ratusan juta penduduk indonesia yang sebenarnya juga sangat berpotensi dalam pengembangan pariwisata dalam negeri.

Kalau semua sudah terealisasi, tanpa pencanangan visit Indonesia Year 2008 pun pariwisata indonesia akan bisa maju dengan pesat dengan sendirinya. Sekarang tidak perlu kita saling menyalahkan satu sama lain, karena tidak akan pernah ada ujung pangkalnya. Lakukan saja sebisanya yang bisa kita lakukan. Jika buang sampah jangan semaunya sendiri, rutin membersihkan saluran air disekitar rumah, memilah-milah sampah yang bisa didaur ulang dan hal-hal kecil lainnya yang bisa kita lakukan sehari-harinya. Seperti kata-kata Aa Gym diakhir setiap tausiyahnya ”Mulai dari DIRI kita sendiri, mulai dari yang KECIL, mulai SEKARANG juga!!”

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar