Minggu, Oktober 30, 2011

The Fright Night 2011



Sore tadi saya sebenarnya tidak ada niatan untuk keluar. Tapi tiba-tiba saja saya ingat kalau besok ada undangan dari teman kuliah saya untuk menghadiri pesta ultah anaknya yang genap akan berusia 4 tahun, so mau tidak mau saya harus keluar mencari kado. Karena tidak ada teman yang bisa saya ajak keluar dalam waktu singkat, terpaksalah saya beranikan keluar sendirian kekota. Untuk mempersingkat jarak saya sengaja memilih rute yang tidak biasa saya lalui yaitu lewat Devoshire street dan Division street yang berseberangan dengan West Street (jalur yang biasa saya lalui). Saat melintas diDevonshire street saya berpapasan dengan keluarga yang membawa anak-anak usia dibawah 5 tahunan. Hihihi, Lucu lucu lucu....anak-anak tersebut cute sekalain mengenakan kostum seram. Ada kostum tulang belulang, vampire, spiderman bahkan mummi yang dibalut perban disana sini. Untungnya yang make anak-anak kecil, jadi semengerikan apapun kostumnya, tetap saja expresi mereka lucu dan nggemesin, hahaha.
   




Semakin mendekati pusat kota semakin sering saya menjumpai pemandangan seperti diatas. Bahkan lebih serunya lagi, kali ini bukan anak-anaknya saja yang mengenakan kostum Halloween, melainkan keluarganya juga. Ya anaknya, ya bapak ibunya juga kompak berseram ria. Seperti gambar dibawah, bapaknya kostum tengkorak, ibunya korban pembunuhan dengan pisau yang tertancap didada dan anaknya dengan kostum mosnter buruk rupa.


Karena penasaran saya coba lihat papan advertisement yang persis ada didepan City Hall. Ooow rupanya saat ini sedang berlangsung acara Fright Night 2011 yang dipusatkan dibeberapa venue sekitar Fargate, pusat kota Sheffield. Ada sekitar 15 titik venue mengerikan yang bisa dituju. Diantaranya street performer, panggung peragaan kostum Halloween, wahana permainan anak, wahan permainan sport jantung, orkestra musik halloween, tour halloween, story telling halloween, stand-stand halloween, dan masih banyak lagi event berbau halloween lainnya. Semakin malam acaranya akan makin bertambah ramai nih kelihatannya.
 


Acara ini adalah salah satu dari  rangkaian kegiatan memeriahkan Halloween Night. Bagi yang belum tau tentang acara ini sedikit akan saya ceritakan sejarah tentang Halloween. Menurut artikel Wikipedia, Halloween atau Hallowe’en adalah tradisi perayaan malam tanggal 31 Oktober dan biasanya akan dirayakan oleh anak-anak dengan memakai kostum seram. Anak-anak ini akan berkeliling dari pintu ke pintu rumah tetangga meminta permen atau cokelat sambil berkata "Trick or treat!" Ucapan tersebut adalah semacam "ancaman" yang berarti "Beri kami (permen) atau kami jahili. Sedang bagi orang dewasa malam halloween adalah malam pesta kostum dan kumpul-kumpul dengan rekan-rekan sebayanya. Walaupun Hallooween sangat terkenal di Amerika, tapi perayaan ini asal muasalnya dari budaya Celtic di Irlandia. Halloween merupakan kependekan dari All Hallows' Even (eve dan even sama-sama berarti petang atau malam). Awalnya halloween hanya sebuah perayaan Festival Samhain yang menjadi penanda berakhirnya musim semi. Pada masa ini, orang Celtic menggunakan kesempatan festival tsb untuk menyembelih hewan ternak dan mulai menimbun makanan demi menghadapi musim dingin. Orang-orang Celt ini percaya bahwa pada tanggal 31 Oktober, pembatas dunia antara orang mati dan orang  yang masih hidup terbuka. Orang mati akan membahayakan orang hidup dengan membawa penyakit dan merusak hasil panen mereka. Oleh karena itu sewaktu merayakan festiva Samhain ini,  mereka menyalakan api unggun untuk membakar tulang-tulang dari hewan yang mereka sembelih sambil mengenakan kostum dan topeng menyeramkan untuk berpura-pura sebagai arwah jahat dan agar mereka terbebas dari gangguan arwah jahat yang sebenarnya.

Simbol Halloween yang paling umum adalah buah labu yang diukir membentuk wajah "menyeramkan" yang didalamnya diletakkan lampu menyala atau lilin. Labu ini lebih dikenal dengan sebutan Jack-o-lantern.  Selain itu warna hitam juga menjadi warna favorite pada perayaan halloween ini. Kesannya jadi akan terlihat lebih suram dan misterius. Jack-o-lantern ini biasanya diletakkan didekat jendela atau ditaman depan rumah, dan pada saat malam hari akan tampak kelihatan menakutkan karena ekspresi yang ditampilkan seperti wajah orang sedangn menyeringai. Jika dulunya simbol-simbol perayaan Halloween hanya menggunakan labu dan hal-hal yang berbau kematian, maka sekarang ini simbol monster, dan karakter menyeramkan hasil rekaan pembuat film Amerika juga digunakan semisal makhluk luar angkasa, frankenstain, hantu dari filem thriller Michael Jackson, burung hantu, drakula, tengkorak, manusia serigala, rumah hantu, laba-laba, korban pembunuhan, tengkorak dll.
Kembali ke Sheffield, karena momen ini sangat bagus untuk mengambil gambar, maka mulailah saya bergerilya dari satu venue ke venue berikutnya. Untungnya jarak antar venue berdekatan, jadi saya dengan mudah bisa mengambil gambar perayaan Halloween kali ini. (Reminder: sepertinya ada yang lupa dengan tujuan awalnya, hmmm...)
Tepat didepan City hall saya melihat ada wahana permainan dewasa dan anak-anak,. Lalu ditegah-tengahnya diantara kedua wahana ini dua nenek-nenek kekar duduk diatas troli belanja sambil dikelilingi penonton. Ow, rupanya mereka adalah komedian yang sedang melakukan atraksi balapan dengan kendaraan troli belanja yang didesain khusus mengeluarkan suara menderu mobil Lamborgini. Penampilan mereka sangat lucu dan menghibur, karena meskipu mereka berantem  tapi kelihatan mereka sangat kocak.
Bergeser dari situ saya menuju kerumunan didepan Town Hall. Ada panggung dengan dekor warna hitam dihiasi balon-balon biru lengkap dengan barisan anak-anak kecil yang memakai kostum halloween disisi belakang panggung. Diatas panggung ada seorang wanita dengan pakaian dominan hitam merah yang rupanya adalah seorang MC. Wanita ini akan memanggil 2-3 orang anak yang sedang berbaris tadi untuk ditanyai satu-satu sambil meminta mereka memamerkan kostum halloween ke penonton yang berjejel dibibir panggung. Setelah anak-anak ini ditanyai mereka kemudian akan diberi permen oleh panitai yang sudah menanti dibelakang panggung.


Dari arah belakang saya tiba-tiba ada suara piano dan deru motor. Didepan dan belakangnya tampak polisi yang mengenakan rompi hijau berusaha membuka jalan dari kerumunan untuk membiarkan seseorang berparade. tampak ditengah-tengahnya seorang pianis botak dengan wajah dilumuri bedak putih dan wajah seram sedang memainkan piano dengan musik berhantu. Piano dan pianist tadi berada diatas motor atau mesin yang bergerak sendiri sehingga kedengaran seperti gemuruh suara motor.
Saya lalu berbelok menelusuri Norfolk street hingga berhenti tepat didepan Crucible. Ada lantunan musik orkestra dengan nada yang indah tapi menyayat hati. Banyak orang berkerumun juga disana. Penasaran dengan musik tsb, saya coba terobos kerumunan sambil mencari celah untuk membidikkan kamera, agak susah karena tinggi saya hanya setinggi rata-rata punggung bule disini. Untung ada pria paruh baya yang  memegang kamera memberi saya isyarat untuk masuk dan berdiri persis disebelahnya. Karena suara orkestra agak bising, saya hanya tersenyum sambil menganggukan kepala tanda terima kasih. Alunan musik orkestra yang saya dengar tadi rupanya dimainkan oleh Sheffield Youth Orchestra. Uniknya semua pemain musik termasuk konduktornya juga mengenakan kostum dan dandanan ala halloween. Jadi suasanya benar-benar berasa mendirikan bulu kuduk, hiiiiiii.......


Selesai mendengarkan satu lagu, saya lalu memutuskan untuk pindah ke jalur Fargate, sekalian agar lebih mudah untuk mencari jalan pulang nanti. Jarum jam ditangan saya sudah menunjukkan jam 5 sore, memang sudah saatnya tuk balik keflat karena sudah masuk waktu sholat Maghrib (waktu sholat disini menjadi lebih cepat karena hari ini terjadi pemunduran waktu 1 jam diseluruh wilayah UK, yang biasanya dikenal dengan nama The End of British Summer Time). Fargate selalu saja ramai dengan pengunjung dan pejalan kaki. Namun kali ini jauh lebih ramai dan berdesak-desakan dengan adanya event halloween ini. Duh...saya sampai kesulitan berjalan karena gak bisa melihat jalan dibagian depan saya (nasib orang pendek, hahaha). Jarak pandang saya tertutup oleh pengunjung yang ingin merayakan malam halloween maupun pengunjung yang hanya sekedar menjadi penonton seperti saya. Untungnya disini tidak ada yg pertunjukan yang terlalu menarik, jadi saya tidak kekurangan moment untuk mengambil foto. DiFargate ini hanya ada deretan wahana permainan anak-anak dan stand-stand jualan pedagang souvenir dan merchandise.









Saat akan berbelok kembali ke Divison street, tiba-tiba ada seseorang yang mengenakan kostum badut dengan gigi taring mendekati saya dan serta merta berteriak "Trick or Treat!" Saya sempat kaget karena tidak menyangka ditembak dengan pertanyaan itu oleh badut seram tadi. Beberapa detik saya sempat terdiam, lalu tanpa disangka2  badut tersebut melepaskan topeng "badut menyeringai-nya" sambil terkekeh-kekeh. 
Oalah, ternyata itu si Daniel toh, salah satu mahasiswa baru dikampus saya. Saya pernah bertemu dengannya  beberapa kali diacara trip keluar kota yang diadakan kampus, itupun tidak sempat cerita panjang lebar, hanya sekedar bertegur sapa basa basi. Yang membuat saya takjub karena dia ternyata masih kenal wajah  dan nama panggilan saya (padahal awalnya saya sempat lupa namanya, hehehe). Dia bertanya kenapa saya tidak mengenakan kostum halloween, bahkan dia mengajak saya turut serta ke acara pesta kostum halloween yang diadakan kampus. Karena memang gak berminat saya tolak dengan halus ajakanny. Saya lalu menjawab dengan nada bercanda: Kostum hantu disini kurang menakutkan, terlalu banyak fiksi dan rekayasa. Coba kalo kamu tahu hantu2 yang ada dinegara saya, bisa-bisa kamu akan selalu mimpi buruk dan gak akan mau berkunjung ke negara saya saking takutnya, hahaha (sambil membayangkan hantu pocong, kuntilanak, tuyul, jelangkung, jenglot, genderuwo, ogoh-ogoh dan kawan-kawan). Biarlah para "hantu-hantu fiksi" itu saja yang merayakan malam halloween ini, saya mau pulang ke flat dan membagi cerita halloween ini kepada teman-teman dan mahasiswa saya yang ada ditanah air.
(Spooky Halloween Night, 30/10/2011, 10, 10.12pm)

Kamis, Oktober 06, 2011

I'm A Proud Indonesian. You?!


Anggota Indonesian Society Sheffield sedang menyiapkan stand pameran budaya
Saya cuma mau bilang, bahwa dinegara manapun kita berada, sebagai warga negara Indonesia yang baik, menjadi duta budaya Indonesia itu adalah keharusan, karena itu identitas kita. Mungkin kedengarannya agak naif dan kekanak-kanakan, but i'm 100% serious lho yah! Saya selalu salut pada mereka yang berani  unjuk gigi pada dunia bahwa ada negara namanya Indonesia, yang walaupun tersebar dimana-mana dalm bentuk pulau2 besar dan kecil, tapi kaya sumber daya alam dan budayanya. Tidak melulu dikait-kaitkan dengan hal-hal negatif seperti sarang teroris lah, supermarket bencana lah, negara korup lah, tapi ada hal lain yang bisa dibanggakan oleh warga negaranya. It's  beauty beyond diversity. Keragaman budaya yang sangat cantik dan unik milik bangsa Indonesiasemata, bukan milik negara tetangga sebelah yang suka ngaku-ngaku! **mendadak sewot**

Sebaliknya saya sangat marah dan kesal jika ada student Indonesia yang malu mengakui dirinya berasal dari Indonesia. Kenapa ko harus malu sebagai orang Indonesia kah? **xixixi.....logat makassarnya keluar deh** Apa karena Indonesia masih negara berkembang yang banyak hutang sana sini karena pemerintahnya korup dan gak becus ngurus keuangan negara? Ataukah karena negara ini gak dikenal dunia, gak seakrab dunia mengenal Bali atau Singapore? So kalo tau gitu, ya perkenalkan doooong?! Siapa lagi yang akan memperkenalkan Indonesia dihadapan masyarakat dunia kalo bukan kita-kita ini warga negaranya yang mendapat kesempatan menjejakkan kaki di luar negeri? Mulailah dari hal-hal kecil, dari diri kita dan dari sekarang kata AA Gym.

Sering miris dah pokoknya, jika bertemu teman-teman Indonesia diluar yang jika ditanya, kok gak ikut partisipasi dipameran budaya Indonesia sih? Jawabnya banyak tugas lah, orang Indonesianya sedikit lah, gak ada yang bisa dipamerin  lah, daaaaaan masih banyak lagi alasan klasik lainnya, yang ujung-ujungnya sebanrnya cuman gak mau repot dan takut rugi gak dapet apa-apa jika diserahi tanggung jawab tsb. Kadang-kadang lebih kesalnya lagi kalo dapat  student Indonesia yang ngeyel, nantang balik. Katanya, Ah kamu sih Ya' enak kuliahnya nyantai, gak banyak tugas. Beda dengan jurusan A dan jurusan B yang tugasnya bejibun trus harus fokus kekuliahnya kalo mau lulus dengan nilai bagus. Kamu aja deh yang bikin, ntar kita datang sebagai penggembiranya aja yaaah! Hellooooo.....gak salah nih?! Emang kamu pikir kuliah dibidang kesehatan gak banyak tugas apa? Itu paper essay dan project yang bertumpuk dimeja belajar bukan tugas serius ? Ckckckck....iiiiissshk! **gemesh pengen ngejitak**
Walaupun tinggal diUK, tapi hatiku tuk Indonesiaku
 Universitas2 diluar tau persis bahwa student life is not all about study, harus ada pengimbangnya yaitu kegiatan sosial, ikut organisasi, olahraga atau sekedar menyalurkan hobi, dll. Makanya dibetuklah ratusan klub ataupun organisasi dalam berbagai interest untuk menarik minat mahasiswa bergabung. Mulai dari formal maupun informal,  society yang bertujuan melestarikan alam, menyulam, memanah, judo, karate bahkan klub aneh2 semacam klub ajeb-ajeb (klub dugem) atau klub Free Hugs yang suka ngasih pelukan gratis bagi siapa aja. **berpelukaaaaaaaaan**

Jadi kasian amat kalo ada mahasiswa kuliah keluar negeri semata-mata hanya untuk meraih nilai High Distinction. Kasian, bener-bener kasian dah hidupnya! Padahal bukan deretan HD atau nilai A berjamaah yang jadi jaminan seseorang bisa sukses didunia kerja. Coba liat orang-orang sukses disekeliling kita? Apa mereka orang-orang dengan predikat yang terpintar sekampus atau juara Umum nasional atau internasional? Nope, i dont think so! Nilai kuliah yang bagus memang perlu namun bukan itu penentu segalanya. Soft skill seperti kemampuan komunikasi, leadership, time management, networking, positive attitude, juga kemauan untuk belajar hal-hal baru dan berani menagkap peluang saya rasa jauh lebih penting. Orang2 yang memiliki skill ini adalah orang-orang yang tau cara menjalani hidup, mereka bergaul dan berinteraksi dengan riil person yang berbeda karakter yang jadi penentu keberahasilan mereka didunia kerja nyata, jadi bukan karena bergaul melulu dengan lusinan textbook kuliah atau komputer!

So, jika ada tawaran pameran budaya Indonesia atau berpartisipasi dalam event budaya internasional dari kampus, saya gak pernah lewatkan sekalipun. Sepadat apapun jadwal kuliah saya, sebisa mungkin saya ikut. Meskipun bisa jadi mungkin personelnya hanya 2-3 orang dan persiapannya kurang dari 1 minggu (biasanya otak saya jadi encer kalo terdesak kek gini, hahaha!).  Saya akan cari cara, gimana agar dalam keterbatasan sumber daya manusia, dana dan waktu ini, Indonesia bisa tetap tampil maksimal dan mengundang ketertarikan orang dari negara lain untuk bertanya lebih jauh tentang Indonesia. Syukur2 kalo ada yang jadi pengen berkunjung ke Indonesia setelah mendengar penjelasan kami, amieeeen YRA.
Stand Indonesia di event kebudayaan Intro Fiesta University of Sheffield 2011
Saya dulu ingat masa-masa kuliah diSydney tahun 2006-2007. Bendera Indonesia selama dua tahun berturut-turut selalu ikut terpajang berjejer setara dengan bendera-bendera negara lain karena turut berpartisipasi dalam event budaya "Infusion Week". Infusion week adalah event budaya lokal maupun internasional yang diselenggarakan oleh University of Technology Sydney (UTS) di negara bagian New South Wales Australia. Kegiatan ini selama seminggu berturut turut menampilkan pagelaran budaya dari students2 yang mewakili berbagai negara yang ada diUTS. Kalo saya gak salah, lebih dari 100-an negara ikut berpartisipasi dalam acara tersebut.  Ada yang menari, nyanyi lagu tradisonal, memasak makanan tradisional, pameran baju tradisional, dll bahkan sampai dikompetisikan dengan iming2 dollar segala lho! Intinya tiap negara harus jor-joran unjuk kebolehan budaya masing-masing kalo mau menang. Yang menentukan siapa pemenangnya adalah beberapa jury dan penonton yang memilih berdasarkan polling terbanyak negara mana yang performancenya sangat menarik. Tahun-tahun sebelum saya kuliah disana, bendera Indonesia jarang ikut dipajang karena tidak berpartisipasi, padahal saat itu sudah ada beberapa mahasiswa Indonesia yang lebih dulu kuliah sebelum saya. So, where were they? Can you guess where? **pura-pura gak tau**

Sebenarnya mungkin mereka ingin berpartisipasi kali yah, namun karena tidak ada inisiator ataupun fasilitator, akhirnya niat mulia itu kandas ditenggelamkan rutinitas kuliah. Pengen nyoba buat sendiri, tapi mungkin gak tau harus mulai dari mana karena gak punya persiapan. So, ini saran yang penting bagi siapapun yang akan keluar negeri, dengarkan baik-baik! Persiapkan diri anda menjadi duta budaya jauh-jauh hari sebelum keberangkatan ke Luar negeri! Suka atau gak suka, Anda adalah duta budaya Indonesia, perwakilan Indonesia secara tidak resmi diluar negeri sana. Suatu saat Anda harus bisa menjelaskan tentang budaya Indonesia yang sangat beragam. Syukur-syukur kalo punya skill dasar jika memang harus menunjukkan kebolehan bakat seni anda seperti nari, nyanyi tradisional, masak-masakan Indonesia, jadi model untuk pakaian tradisional di catwalk, atau apa saja yang bisa memperkenalkan pada dunia, Ini lho Indonesia.

Sebelum saya berangkat kuliah diSydney, saya sudah mempersiapkan diri jauh-jauh hari sebelumnya apa yang akan saya tampilakan ttg Indonesia. Saya berburu baju tradisional khas Sul-Sel, belajar masakan khas Indonesia (baca: makanan favorit saya, hahaha), kursus singkat tari Saman (Aceh) dan tari Yospan (Papua). Tapi berhubung kedua tarian ini adalah tarian kolosal dan agak sulit mengajarkannya dalam waktu 2-3 hari, akhinrya saya berinisiatif untuk menggantinya dengan tarian lain yang lebih mudah dipelajari. Setelah searching Youtube sana-sini, akhirnya pilihan saya jatuh pada tarian poco-poco. Kenapa poco-poco? karena tarian ini lagi trend-trendnya di Indonesia. Anak kecil - dewasa, tua-muda, laki-perempuan kayaknya familiar dengan jenis tarian ini karena gerakan dasarnya cukup mudah. Tinggal melangkah kekiri kekanan, depan - belakang lalu berputar berlawanan arah jarum jam. Selain itu gerakannya juga energik ditunjang dengan musik dari Yopie Latul yang menghentak, jadi bikin semangat siapa saja yang mendengarnya.
**Nyanyi: Balenggang pata pata, ngana pe goyang pica pica, ngana pe bodyiiii, poco poco......** shaahhh, tarik maaaaang!**.

Tapi berhubung karena gerakannya tarian Poco-poco agak sedikit monoton, maka saya buat modifikasi dan memasukkan beberapa unsur tarian tradisional Indonesia lainnya. Tarian pembuka saya masukkan gerakan tari Tor-Tor dari Batak, lalu saya tambahkan beberapa gerakan Yospan (Yosim Pancar dari Papua), Cha-cha untuk jedanya, terakhir ditutup dengan gerakan tari pergaulan Lulo dari Palu, Sulawesi Tengah. Semua gerakan ini pernah saya pelajari saat duduk dibangku SMP dan SMU diPapua.

Oke, kembali ke persiapan Infusion week, syukurnya saat itu ada sekitar 5 orang student Indonesia lain yang berhasil saya ajak untuk berpartisipasi dalam tarian poco-poco tsb. Walaupun group Poco-poco kami gak menang, tapi antusiasme dari penonton yang ikut belajar poco-poco bersama-sama kami yang membuat semua rasa letih dan lelah hilang, blas blas blas. Saya juga bangga dengan diri saya, karena ternyata bisa menjawab tantangan dan bisa unjuk gigi sebagai coreografer dadakan untuk tari kreasi Indonesia **cieeeeh...izin bangga sebentar yah, hehehe**.

Sayangnya tahun berikutnya ada sedikit kendala. Saat itu jumlah student Indonesia diUTS mulai berkurang banyak. Kebanyakan pada mulai sibuk dgn kuliahnya dan gak bisa dihubungi. Yang tersisa saat itu tinggal saya dan teman saya dari Manado, Lisa. Untung kami punya satu visi dan hobi yang sama gilanya **She is my partner in crime, like Bonny & Clyde, hahaha** Mau tetap poco-poco tapi gak mungkin berdua. So, akhirnya kami atur siasat tuk menambah personel group poco-poco kami. Timbullah ide untuk merekrut mahasiwa dari negara lain. Saya berupaya membujuk teman kuliah saya dari Mozambique, dan Lisa membujuk teman flatnya yang anak Jepang. It worked! Teman kuliah saya Olga, mau diajari Poco-poco karena saya bilang tarian itu bisa menurunkan berat badan lho,  hohohoho.....hanya butuh waktu sekitar 3 hari kami mengajari mereka, maka jadilah tarian poco-poco campur sari, hehehe. Secara tidak langsung kami sebenarnya sudah memperkenalkan ke orang-orang ini bahwa tarian Indonesia itu fun, cheerful dan mudah untuk dilakukan. Cuman kalo saat itu mereka minta diajari tari Pendet atau tari Saman, mati dah!

Lomba masakan khas negara juga kami selalu ikut. Tahun pertama kami masak Nasi kuning yang dibuat tumpeng alaBlue Mountain (salah satu tujuan wisata alam diNSW). Tahun berikutnya kami buat martabak telur. Tau gak, seumur-umur diIndonesia, saya gak pernah membuat dua jenis makanan ini. Ngapain masak sendiri, wong ada yang sudah jadi kok, beli ajah! Tapi berhubung ini diOstrali bukan Makassar sodara-sodara, gak ada yang jual makanan kayak gitu! Jalan terakhirnya adalah belajar masak nasi kuning trial and error dalam 2 kali percobaan. Usaha kami berbuah hasil lho, nasi kuning ala Blue Mountain kami dapat juara tiga! Alhamdulillah yah...... Juara tiga karena kata jurinya aroma nasi dan lauknya enak walaupun nasi kuningnya masih agak kurang mateng, hehehehe **masak nasi dirice cooker yang kepenuhan**. Coba kalo masaknya pas matengnya? Wohohoho, terancam juara 1 tuh kayaknya;)

Anyway, lain ladang lain belalang, dulu Ostrali sekarang UK **jiaaaaah, gak nyambung lagi deh**. Weekend ini akan ada cultural exhibition di universitas tempat saya sekarang menimba ilmu, The University of Sheffield, UK. Nama eventnya Intro Fiesta Global Village 2011. Konsepnya mungkin gak terlalu jauh beda seperti Infusion Week milik UTS, meski jumlah peserta negara yang buka stall gak sebanyak peserta diSydney (waktunya singkat dan tempat yang sangat terbatas). Trus juga gak ada kompetisi masak dan tari-tarian tradisional kayak diUTS dulu, coba kalo ada, ikyuuuuut!!!  Tapi gak papa deh, Mo banyak atau sedikit negara pesertanya, I'll do my best for Indonesiaku tercinta. Doakan acaranya sukses yah;)

Minggu, Oktober 02, 2011

Belajar Angklung di Sheffield

Ini cara megang Angklungnya gimana, Mbak? tanya saya pada mbak Meri, salah satu teman Indosoc Sheffield yang ada disebelah saya sore itu. Ah, masak kamu gak pernah megang angklung, Ya'? Dengan nada tidak percaya Mbak Meri menatap saya. Serius mbak, saya gak pernah megang angklung seumur hidup saya, cuman pernah liat di Tivi. Ini yang pertama kali lho.

Itu percakapan sore kami diruang makan sekaligus dapur keluarga Ismangil, salah satu keluarga Indonesia yang sudah lama menetap dikota Sheffield, Inggris. Saat itu sedang berlangsung pertemuan tahunan Indonesian society yang dihadiri sekitar 25-an warga Indonesia baik student maupun keluarganya yang berdomisili di Sheffield. Agendanya ada beberapa yaitu pergantian pengurus lama ke pengurus baru yang diselingi acara makan nasi kuning ayam bakar,  dan ditutup dengan latihan angklung dibawah arahan saung Mbak Dita Sarjono.
Pada pengurusan tahun sebelumnya (2010-2011) Indosoc dipercayakan pada Mbak Monica Lestari Paramita James yang sudah berhasil melaksanakan berbagai kegiatan rutin seperti beberapa pameran kebudayaan indonesia diUniversity of Sheffield, angklung performance, dll. Untuk kepengurusan 2011-2012 kali ini tampuk kepemimpinan Indosoc beralih ke Bang Mulyadi Azmi, salah satu PhD student dari Sumatera Barat. Bang Mul sapaan akrab dari President baru Indosoc ini, nantinya akan dibantu oleh tiga pengurus inti, yaitu Shindy Arlina sebagai Treasure, Alvin Bingei sebagai Inclusion officer, and me myself sebagai Secretary karena menurut bang Mul saya rajin banget update Fb dan Blog (Ssst.....Bang Mul gak tau aja kalo itu sebenarnya ajang narsis-narsisan, wkwkwkwk)

Anyway kembali ke angklung. Setelah pemilihan selesai dan  nasi kuning ala chef Dita & chef Linda yang super duper yummy berpindah ke perut, tiba saatnya untuk latihan angklung. Well, seumur hidup saya, belum pernah sekalipun saya menyentuh alat musik tradisional bambu dari Jawa Barat ini. Kedua orang tua saya bugis tulen, kakek nenek saya bugis, om dan tante saya bugis, semua sepupu2 saya juga bugis, so sudah pasti darah yang mengalir dalam tubuh saya adalah darah bugis makassar. Walaupun saya lahir dan besar di Papua, tetap akar budaya bugis makassar tidak jauh-jauh dari kehidupan saya sehari-hari. Nah, sekarang setelah sampai di Sheffield, saya disuruh main angklung, pastilah saya bingung bin penasaran. Ini mainnya gimana yak? **pose: megang angklung kayak megang buku**

Well, sebenarnya niat untuk belajar angklung itu sudah lama ada kok, sejak saya mulai pertama browsing-browsing tentang Sheffield. Salah satu yang menarik perhatian saya untuk kuliah dikota ini adalah karena video temuan saya di Youtube ini. Video ini menunjukkan bahwa diSheffield ada perkumpulan orang Indonesia yang rutin memainkan alat musik tradisional yaitu angklung. Di salah satu video yang diupload tsb adalah performance terbaik Indosoc ketika hadir di acara Cultural Evening (2 April 2011), yang diselenggarakan setiap tahunnya oleh The University of Sheffield. Saya yang menonton video dengan durasi 2:34 menit tersebut jadi dibuat takjub dan merinding. Subhanallah...kok bisa ya alat musik bambu yang sesederhana itu bisa menghasilkan suara yang indah dan mempesona, ckckckck. Para pemainnya sendiri adalah gabungan students dan non students yang mungkin beberapa diantanranya dulu sama seperti saya, know nothing about angklung before! Thanks tuk sang Konduktor Mbak Dita Sarjono yang mampu memperkenalkan salah satu budaya lokal Indonesia pada warga International yang ada diUK sini. Keren abis pokoknya mbak! TOP BGT GTL (baca: Top Banget Gitu Lho!).

Nah, sekarang saya sudah disini, berada ditengah-tengah para pemain angklung Indonesia yang wajahnya saya lihat divideo itu, huwaaaaa....senengnya tak terkira, bisa dapat ilmu baru dan skill baru. Lesson pertama saya tentang angklung hari ini berjalan mulus dan penuh dengan excitement. Walaupun kadang saya belum bisa mengontrol goyangan angklung no.8 yang saya pegang dan walaupun masih kebingungan membaca not yang ditunjukin oleh sang konduktor (Sorry mbak Dita, kalo kemarin masih ada angklung yang bunyinya aneh, that was me keknya, hehehe), but i will try my best untuk belajar menguasai alat musik ini agar kelak bisa menjadi salah satu duta indonesia, memperkenalkan alat musik negeri kami tercinta pada mereka yang tinggal dinegara Prince William ini. Merdeka!!!
Memperkenalkan Angklung ke International Students di Sheffield